Showing posts with label Mimpiku. Show all posts
Showing posts with label Mimpiku. Show all posts

Wednesday, March 26, 2014

diary

Diary..
Aku punya target nih semester depan alias semester 6 , mau ngelesi anak SD. Targetku sejak aku duduk di bangku SMA. Sempat terlaksana si, namun karena suatu halaku harus kehilangan muridkesayanganku. Anggi dan Kasih. Mereka adalah muridku dulu sewaktu tinggal di kost lama. Tidak tahu kenapa mereka luluh kalo sama aaku. Aku juga rada terharu si, tapi seneng, artinya mereka mau menerimaku. Hehehe
Kebahagiaan itu hanya sesaat karena aku harus pindah kost dan mereka pun tak lagi bersamaku. Padahal aku kangen banget sama mereka. sesibuk apapun diriku kalo ada meereka langsung deh aku luangin waktuku untuk mnegajarinya. Aku senenng.
Sejak aku pindah kost, mereka tak lagi dekat denganku, biasanya tiap hari setelah sholat isya mereka selalu datang ke kost, tapi kini tidak lagi. Aku kangen seuasana bareng mereka. rasanya mengasyikkan.. namuan, semua tinggal kenangan masa lalusaja.
Semester besok insyaalloh kau mau ngeelesi anak SD kelas dua, gak tau namanya siapa , rumahnya dimana yang jelas aku udah niat mau berbagi ilmu dengannya. Ibu kosrt batu ku yang mencarikan murid untukku. Aku hanya berharap aku bisa berbagi pengetahuanku bersamanya. Smeoaga anak yang kudidik nanati tidak sepeti adekku sendiri, semiga tidak bandel dan cepet paham. Amin

Itu saja si curhatanku hari ini diary, aku pengin bercerita aja sama kamu. Walalupun kamu tak bisa ngasih solusi tapi, kamu selalu ada untukku. Terimakasih sobat.

sebaris doa



Thut..Thut.. Thuttt...
Telepon genggamku bergetar hebat di dalam ransel abu-abuku. Kucoba membukanya di tengah peningnya acara rapat laporan pertanggung jawaban organisasi. Ada sebuah pesan singkat dari sahabat karibku, Zaki.
“ Masih lama gak acara rapatnya. Aku, Hanif sama Usman sudah siap di perempatan depan pondok pesantren. Tinggal kamu seorang kawan. Kami menunggumu di sini. Jangan kelamaan ya?”
“ Iya, sebentar lagi. Tunggu, lima menit lagi aku sampai.” Bunyi balasan pesan singkatku . Kebetulan rapatnya tidak menyita waktu lama karena semuanya disiplin dan sesuai alokasi waktu yang telah disiapkan.
“ Oke sobat.” Balasnya lagi.
Kami berempat adalah sahabat karib sejak SMK. Pertama kalinya kami dipertemukan dalam sebuah kelas yang berkonsentrasi pada jurusan Bangunan. Mulanya kami tak kenal satu sama lain, namun seiring berjalannya waktu kami semakin dekat dan akrab. Tak jarang kami menghabiskan waktu untuk mengerjakan tugas dan berpetualang bersama. Saking akrabnya, teman-teman kelasku sampai memberi julukan Geng Arjuna “ Arif, jujur lan andap asor”. Kami merasa terharu ketika mereka menjuluki seperti itu, rasanya sedikit berlebihan.
Persahabatan kami bagai kepompong dan tak pernah luntur sedikitpun hingga kami lulus. Ada sebuah mimpi emas untuk menuntut ilmu lagi ke perguruan tinggi dan pondok pesantren yang sama. Berkat usaha, doa dan tawakal kepada Sang Maha Pemberi Rahmat, mimpi kami terwujud. Kami disatukan lagi dan menuntut ilmu di kota pelajar, Yogyakarta. Berbeda dengan dulu, sekarang kami tidak sejurusan lagi. Hanya Hanif dan Usman yang masih sejurusan dan menekuni dunia bangunan. Sedangkan Zaki mengambil Teknik Elektro dan aku mengambil Teknik Mesin. Perbedaan tak menjadi masalah buat kami yang penting kami belajar mencari ilmu dan bersungguh-sungguh meniti masa depan yang cemerlang dan membanggakan.
Pada hari yang telah direncanakan, kami akan pulang kampung bersama naik bus antar kota. Sesuatu yang tidak biasa kami lakukan karena biasanya kami naik kereta. Aku bergegas lari menuju perempatan jalan yang telah dijanjikan. Kulihat mereka sudah siap meluncur ke kampung halaman. Terlihat beban berat dalam tas ransel yang dibawanya seperti mudik hari raya.
“ Hey, Arjuna. Arjuna. Aku datang”. Teriakku di belakang mereka.
“ Hey “ Teriak Hanif sambil membalikkan badannya.
“ Cepet banget mas, biasanya lama.” Ucap Usman.
“ Iya, emang sudah selesai apa rapatnya atau jangan-jangan kabur ya?” Timpal Zaki kepadaku.
“ Iya dong. Belajar dari masa lalu yang hampir tiap  hari telat, sekarang berusaha menjadi orang yang disiplin dan selalu menepati janji. Hehehe
Kalau rapat mah udah kelar, masa kabur gak jaman ya. Rapat itu juga salah satu tanggung jawab untuk mewujudkan janji setiaku dalam organisasi. Hehehe”
“ Ah, baru sekali disiplin udah tinggi sekali bahasamu Fa.” Seru Usman yang agak kesal dengan kata-kataku.
“ Sudah, sudah, sudah. Sesama arjuna gak boleh berdebat. Bisnya udah kelihatan. Ayo kita siap-sipa. Let’s go to home.”
Perdebatan antara aku dan usman yang semula akan berlarut-larut akhirnya dilerai Zaki. Tak ada kesempatan untukku membalas kekesalan Usman. Bis yang kami nantikan sudah terlanjur di depan mata.
Kami berempat duduk di bagian tengah bus dan duduk dua-dua depan belakang. Tak lupa kami membaca doa naik kendaraan agar diberi keselamatan dalam perjalanan.
Bismillahirrokhmanirrokhiim. Subhanalldhi sakhhorolana haada sama kunna lahu mukriniin “.  Doa yang selalu diamanatkan oleh orang tua dan pak kyai jikalau hendak berpergian dan kami berupaya untuk mengamalkannya dalam kehidupan nyata di dunia.
Perjalanan menuju kampung tercinta kali ini sungguh istimewa. Kami bisa melihat hiruk pikuknya kota pelajar dan deretan pedagang kaki lima yang memadati trotoar jalan raya. Tak berapa lama kemudian, kami meninggalkan kota dan memasuki pedesaan yang bergunung-gunung. Sedap dipandang mata dan terlalu sulit untuk diabaikan. Its beautiful scenery, Subhanalloh. Bukit-bukit nan hijau dengan sejuta pepohonan yang tak pernah hina untuk dipandang. Berkali-kali ucapan subhanalloh mengiringi perjalanan kami. Namun, hanya aku yang bisa menikmati pemandangan indah itu sampai berlarut-larut. Zaki, Hanif dan Usman sudah terpaut dalam alam mimpi indahnya.
Derr ...Derrr... Deerrr..
Prakkk.. Prakkk... prakkkk
Tiba-tiba benturan keras terdengar seketika. Sangat tidak diduga, bus yang datang dari arah berlawanan menabrak bus kami.  Kepala kedua bus hancur dan ringsek. Bus yang kami naikipun oleng dan menggelimpang ke arah kiri jalan dan untungnya terhalang oleh pagar pembatas jalan sehingga tidak masuk ke jurang. Benturan dahsyat dengan suara yang sangat menggema masih terlintas di telingaku.  
Alhamdulillah aku selamat dari kecelakaan maut itu. Hanya luka lecet di tanganku saja. Katiga kawanku menderita luka yang cukup parah dan harus menjalani rawat inap di rumah sakit. Pada saat kejadian, aku masih sadar dan secepat mungkin berusaha memecahkan kaca jendela bus untuk menyelamatkan diri. Sedangkan ketiga temanku tak bisa keluar dari jepitan bangku bus. Aku berusaha menolongnya, namun sangat sulit karena tertindih-tindih oleh penumpang yang lain. Terpaksa aku pilih untuk keluar dan mencari bantuan kepada masyarakat. Perjuanganku tak sia-sia karena mereka sudah berbondong-bondong menuju tempat kejadian peristiwa. Warga berusaha menolong semua penumpang dan membawanya ke rumah sakit. Termasuk ketiga sahabatku. Mereka berhasil diselamatkan dan segera dilarikan ke rumah sakit karena luka yang mereka derita begitu parah.
Beruntung ponsel yang kumiliki masih utuh di dalam kantong celanaku. Kucoba menghubungi keluargaku dan  ketiga kawanku dan alhamdulillah ada jawaban. Satu jam kemudian mereka dan keluargaku tiba di rumah sakit yang telah kuberitahu. Raut wajah yang penuh was-was dan kening yang mengkerut menahan kesedihan sangat jelas terlihat. Mereka mendekatiku yang masih termenung di atas kursi kayu depan kamar rawat inap pasien. Sembari menenangi pikiranku, ibuku mengelus-elus rambutku dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Dengan sabar mereka mendengarkan ceritaku dan berusaha menerimanya dengan lapang dada dan ikhlas atas apa yang sudah terjadi. Ibuku sangat memahami kondisiku dan berusaha membuatku nyaman. Nasehat demi nasehat beliau berikan agar aku bisa mengambil hikmah dari kejadian ini dan bersyukur telah selamat dari kecelakaan maut yang menimpa banyak korban. Semua kejadian yang terjadi semata-mata karena kehendak Alloh dan sebagai peringatan untuk makhluk-Nya. Aku semakin tenang dengan nasehat ibu. Atas keajaiban Dzat Yang Maha  kuasa, kami berempat bisa selamat dari kejadian yang mengancam hilangnya nyawa.
Biodata

Nama Pena                  : Siti Ma’sumah
Nama FB                     : Siti Ma’sumah
Alamat email               : masumahsiti@yahoo.co.id
No. HP                        : 087732505593
Karya yang sudah pernah diterbitkan : Cerpen Air susu dibalas air susu dalam antologi cerpen Quatro Pro penerbit Tunas Puitika Publishing



Friday, September 27, 2013


mimpiku...
mengajar mereka yang sangat membutuhkan saya, mendidik mereka menjadi insan yang kuat, berimen , cerdas, patuh , pandai, dan memperkuat bangsa ini...
mereka haus akan ilmu, aku harus bisa menolon mereka,,
tak harus mengabdi di sekolahan yang mewah, tapi memberikan ilmu yang aku punya untuk siapa saja aku ikhlas, asal mereka mau dan mau menerima saya..

walaupun harus pergi ke luar jawa akan kulakukan sebagai wujud pengabdianku terhadap negeri yang kaya ini..
empat tahun , aku sudah dibiayai kuliah, dan besok saatnya membalas aa ynag telah diberikan..

ini impianku yaa alloh, menjadi sang penceraah pendidikan di negerri ini....

bismillahirrohmanirrohim,


BISAAA>..
aku pasti bisa

bapak, ibu, adek, kakek , nenek, semuanyaaaaa...


Saturday, September 14, 2013

bidikmisi

Siti Ma’sumah

Bagan 1
Kompetisi Menulis Cerita Inspiratif
“ IT’S MY DREAM “

BSC UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG








BIODATA

Nama lengkap                         : Siti Ma’sumah
NIM                                        : 1401411127
Prodi/Jurusan                          : PGSD/ S1 PGSD
Angkatan                                : 2011
Tempat Tanggal Lahir             : Kebumen, 23 April 1993
Alamat                                                : Desa Tanjungsari RT 03 RW 04, Petanahan, Kebumen
Motto hidup                            : Tak ada sesuatu yang tak mungkin !
CP                                           : 087732505593



“ Kompetisi Menulis Cerita Inspiratif”
Kisah inspiratif ditulis dengan tema ‘Bersama Bidikmisi Raih Asa “

Kamis, 15 Agustus 2013, inget sekali hari itu aku ke warnet. Tujuan awalnya  si mau ngisi data bidik misi unnes, tapi juga sambil menyelam minum air , facebookan pastinya. Ternyata, kagak salah aku buka facebook, ada sebuah postingan yang membuatku ingin membacanya. Sebuah postingan di grup Bidik misi PGSD Tegal, tentang  “ Semarak Bidik Misi “. Setelah aku baca ternyata ada sebuah kompetisi yang sungguh menarik hatiku “  Kompetisi Menulis Cerita Inspiratif”. Itulah nama kompetisinya.
Menulis adalah salah satu hobiku. Tapi, apakah tulisanku ini bisa disebut kisah inspiratif ?Tak tahulah. Dari pengakuan teman-temanku kisah hidupku ini sungguh menginspirasi mereka dan cocok dijadikan motivator hidup. Ini kisahku, semoga kalian bisa memetik hikmah dibalik kisah ini dan bermanfaat untuk kehidupan anda.
Amin....

*****
It’s my dream

Semua berawal dari mimpiku. Kutulis satu persatu mimpiku dalam selembar kertas. Kusimpan kertas itu dalam buku yang sungguh rahasia. Hanya aku dan buku itulah yang tahu. Satu demi satu targetku tercoret dan menandakan targetku sudahlah tercapai. Mimpi terbesarku setelah lulus SMA adalah kuliah dengan beasiswa. Aku ingin meringankan beban orang tuaku.  Sudah lumayan besar beban mereka untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. “ Jika ditambah dengan membiayai kuliahku sungguh tak mungkin bisa “ pikiranku . Memang begitu adanya. Bapakku adalah seorang buruh yang tidak jelas pekerjaannya. Kadang bekerja dan kadang pula menganggur di rumah. Tak tentulah penghasilannya. Kalau ibuku, seorang ibu rumah tangga dan pengrajin anyaman. Bisa dibayangkan betapa sulitnya ekonomi keluargaku. Ya begitulah adanya, dengan penghasilan yang tak menentu harus bisa mengelolanya dengan baik . Alhamdulillah orang tuaku adalah orang yang pandai bersyukur atas nikmat yang Alloh berikan. Mereka tidak pernah mencela, yang terpenting adalah masih bisa membiayai sekolahku dan adekku  serta cukup untuk makan. Itulah motivasi terbesarku kenapa aku ingin kuliah dengan beasiswa. Aku sangat mengetahui  bagaimana kondisi keuangan keluargaku yang sungguh  tidak memungkinkan untuk membiayai kuliahku. Semangat untuk belajar menjadi peganganku untuk meraih mimpi.

****

Lima tahun yang lalu, aku begitu ingat mimpiku semasa SMA adalah Mempertahankan peringkat   paralel tiap semester. Aku harus katakan “ BISA “ untuk mimpiku ini. Sungguh sulit untuk mempertahankannya. Memang benar mempertahankan sesuatu itu jauh lebih sulit daripada meraih sesuatu yang belum pernah kita capai. Aku sudah buktikan hal itu.
Alhamdulillah, mimpi itu tercapai hingga akupun lulus dari SMA. Dari semester 1-6 aku selalu menduduki peringkat paralel dari jurusan IPA. Tiap kali penerimaan rapot aku selalu berdoa agar mimpiku tercapai. Jujur, walaupun aku dinilai sedikit memiliki kemampuan dari pada teman-temankuku yang lain , tetapi aku bukanlah seperti mereka yang selalu sibuk dengan pekerjaannya sebagai pelajar. Insyaalloh, aku apa adanya, aku bisa ya aku jawab , jika teman bertanya dan aku bisa ya aku jawab.
Selama SMA ada satu guru yang bener-bener  membuatku semangat dan menenangkan pikiranku. Beliau guru matematikaku. Pak Tamrin namanya. Beliau selalu bilang ” Saiki pikirno ujiane ndisit, masalah ngesuk meh mlebu Perguruan Tinggi gampang dipikirke ngesuk”. Nah, dari sinilah aku berpikir, “ Hadapi batu besar yang ada di depan kita terlebih dahulu dan pecahkan batu itu.” Artinya hadapi masalah yang ada di depan mata kita terlebih dahulu, baru pecahkan masalah yang lain.
Aku tidak pernah berpikir akan melanjutkan ke perguruan tinggi karena kondisi ekonimi keluargaku yang sangat tidak memungkinkan aku belajar di bangku kuliah. Tak jarang teman-temankuku bertanya” sum, kamu mau kuliah di mana?”. Kalau ditanya seperti itu, aku hanya menjawabnya dengan senyuman dan biarkan takdir hidupku yang menjawab dan nantikan jawabannya setelah lulus”.
Mulutku bisa berkata seperti itu, namun sungguh batinku tersiksa ” aku ingin kuliah, aku ingin kuliah kawan, seperti kalian ”.
Banyak  sekali mahasiswa yang mengunjungi sekolahanku untuk bersosialisasi perguruan tinggi mereka. Mereka sangat antusias memperkenalkan universitas mereka. Mulai dari prestasinya, beasiswanya, fasilitasnya, dll. Namun, aku hanya bisa terdiam dan mendengarkan celotehan mereka. Aku bingung. Aku pengin banget kuliah seperti mereka. Aku hanya bisa berharap semoga aku bisa seperti mereka kelak dan aku menggantikan posisi mereka di depan . “ Bisa gak yaa, aku seperti mereka kelak ? “ pikiranku sambil berhayal. Dari sekian banyak jurusan yang diperkenalkan ,  aku hanya tertarik pada satu jurusan, yaitu PGSD. Tak ada yang lain yang mampu menggantikannya. Aku hanya ingin kuliah di jurusan ini. Keinginanku sungguh besar.
Pada suatu ketika, wali kelasku membawa sebuah kabar gembira tentang adanya beasiswa sampai lulus. Rasa tak percaya pun mengelilingi kepalaku. “Beasiwa Bidik Misi” namanya. Sungguh aku baru mendengar beasiswa itu, dalam benakku bertanya tanya  beasiswa apaan itu? Bagaimana cara mendapatkannya? Apakah aku bisa?.
Pokoknya aku bingung apa yang harus aku katakan, yang jelas “ aku pengin dapet beasiswa itu entah bagaimana caranya yang penting bisa kuliah tanpa memberatkan orang tua.
Banyak temanku yang mengojokk-ngojokiku untuk mendaftar beasiswa itu.  Mereka sangat mengerti keadaanku. Akupun menyampaikan kabar  ini ke orang tuaku. Mereka hanya berkata” Terserah kamu, kita sebagai orang tua hanya bisa mendoakan kamu yang penting kamu selalu patuh kepada yang kuasa dan selalu menghormati bapak ibumu.” Mendengar tanggapan mereka ,  aku semakin bingung, bagaimana aku harus melangkah , apakah terus atau mundur. Mereka tak memberikan pendapatnya tentang beasiswa ini.  Maklumlah , mereka adalah orang biasa tak sekritis para pejabat pemerintah. Aku sadar itu. Alhamdulillah, aku mendapat ilham kalau aku harus daftar beasiswa itu. Kubulatkan tekadku dan kutanamkan rasa percaya diri bahwa aku bisa.
Aku bangkit, kutulis sebuah target dalam sebuah kertas, “ aku ingin kuliah dengan beasiswa” . Target itu masih begitu teringat di pikiranku, aku ingin itu bener-bener terwujud. Akhirnya akupun menyiapkan semua yang diperlukan dalam pendaftaran. Bapak, ibu dan semuanya pun ikut berperan. Alhamdulillah semua mendukung keinginanku. Perlahan tapi pasti. Ke sana sini. Dan berharap mimpiku kali ini menjadi nyata.
Pendaftaran pun tiba. Kedua orang tuaku tidak punya uang bahkan untuk sekedar membayar pendaftaran. Untungnya, kabar gembira datang lagi. Ada sebuah pengumuman di jendela kelasku . Begini bunyinya , “ Bagi siswa yang mendaftar beasiswa bidik misi, tidak diwajibkan membayar uang pendaftaran” sungguh aku bahagia. Terimakasih yaa alloh, kau berikan jalan untuk hamba-Mu ini. Akupun langsung daftar dan memilih perguruan tinggi mana yang akan aku masuki. Ternyata hanya UNNES yang ada di otakku. Dan jurusannya PGSD. Tanpa alasan akupun  memilih jurusan itu, aku cocok , dan mantap.
Berserah diri, mohon anugerah dari yang kuasa, dan mohon dibukakan pintu menuju sukses untuk agama, bangsa dan negara ini adalah doaku. Sepanjang siang dan malam, aku brdoa agar diberikan kemudahan dalam menghadapi masalah ini. Semoga lolos. Amin..
Dua bulan pun berlalu, ujian nasional sudah berakhir, tinggal memetik hasilnya. Kunanti semua itu dengan terus bertawakal kepada sang kuasa. Tak terasaa waktu begitu cepatnya.Tanggal 16 mei 2011, pengumuman ujian nasional. Hatiku degdegan tak karuan. Jujur yang aku takutkan adalah mampu mempertahankan predikat lulusan terbaik atau tidak. Pengumuman kelulusan begitu membingungkan, kabar burung kian membahana. Ada yang ngomong jam ini, jam ini dan jam ini. Ternyata yang bener jam 16.00 WIB. Sungguh hatiku gelisah tak menentu, apakah hasil dari semua usahaku? Apakah akan menjadi buah yang manis atau buah yang pahit.
Sekian lama, kunanti sang ayah . Dengan menaiki sepeda ku , ayah pergi ke sekolahan mengambil hasil ujian. Sungguh kasihan melihat bapakku.
Mengharukan ! Aku melihat ayah untuk mengangis yang pertama kalinya ketika ia membuka hasil ijuanku. Akupun ikut nangis. Pelan-pelan kubuka amplop itu.Ternyata “lulus dengan hasil terbaik dari jurusan ipa”. Aku menjadi lulusan terbaik dari jurusanku. Terimakasih yaa alloh, Engkau kabulkan permintaanku.
Kini tinggal menanti pengumunman SNMPTN. Gak disangka, pengumuman dimajukan. Tanggal 17 mei , pengumuman hasil SNMPTN sudah turun. Awalnya aku gak tau, namun sahabatku memberi informasi. Dia juga orang yang pertama kali membuka hasilnya. Dia bilang aku harus mengirim pasSword snmptn undanganku. Yaa aku kirimkan, Tak lama kemudian, diapun telpon kalo aku dinyatakan “ DITERIMA di Universitas Negeri Semarang jurusan PGSD”. Seperti mimpi , mimpiku benar-benar menjadi nyata. Aku gak percaya, aku diterima. Namun, temenku tetap ngotot kalo aku bener diterima.
Keesokan harinya, akupun langsung ke warnet untuk mengecek hasilnya, memang bener aku diterima sebagai mahasiswa UNNES. Alhamdulillah yaa alloh. Aku diterima dengan jurusan yang sangat aku pengin masuki. Tanpa pikir panjang, akupun ngomong sama ibu bapakku. Namun, apa yang terjadii?
Bapakku seraya sedih dengan kabar baik ini.kondisi ekonomi keluargaku yang sangat tidak mendukung. Aku tahu itu. Aku sadar, aku terlahir dari keluarga tak mampu, buat menyekolahkan aku saja susahnya minta ampun apalagi buat kuliah. Sejenak semangatku drop. Tinggal menunggu satu pengumuman lagi. “ Pengumuman Beasiswa Bidik misi”. Satu-satunya hal yang paling aku dambakan . Aku ingin kuliah seperti mereka, menjadi pendidik yang profesional bukan hanya mengedepankan pangkat, namun prestasi mengajar yang cemerlang. Aku ingin ituuu...
Kuceritakan semua pada bapakku. Tentang  beasiswa itu. Masa depanku ada pada beasiswa itu. “ Bapak, tolong bantuin doa yaa, semoga pengajuan beasiswaku diterima, amiin..” Bapak pun mengamininyaa...
Sebelum pengumuman, terlebih rumahku disurvey. Dari depan sampai belakang semuanya difoto. Rasa maluku sejenak hilang, intinya yang penting beasiswaku diterima.” Inilah aku dan rumah keluargaku” adanya kaya gini. Pihak yang menyurvei pun saling bercanda tawa dengan keluargaku, mereka bahagia berbincang-bincang dengan orang tuaku. Terlihat dari raut mukanya yang begitu ceria.
Pengumuman penerimaan beasiswa tak kunjung datang. Akupun bingung karena sebentar lagi sudah masuk masa orientasi. Nah, dua bulan setelah pengumuman snmptn undangan, pengumuman beasiswapun diumumkan. Alhamdulillah “ Diterima” . Mungkin hal ini biasa saja bagi mereka, namun bagiku hal ini adalah moment yang paling luar biasa yang bisa aku capai dan bisa menjadi kenangan untuk diceritakan kepada anak cucuku kelak. Sujud syukur pun kupanjatkan pada Alloh. Aku pengin nangis. Tatanggakupun ikut  menangis bahagia karena  moment ini. Banyak air mata berjatuhan. Kini, aku benar-benar merasa bangga dengan diriku sendiri. Entah harus dengan cara apa lagi , aku mengucapkan syukur pada yang kuasa. Alloh telah mengabulkan pintaku ini.Aku berjanji pada diriku sendiri aku harus lebih baik lagi dan  menjadi insan yang berbakti pada agama, negeri dan bangsaku. Terimakasih beasiswaku, bidik misiku. Kau telah mengantarkanku  menggapai mimpiku menjadi mahasiswaUNNES.
Aku bangga menjadi mahasiswa Universitas Negeri Semarang.
Aku bangga menjadi mahasiswa bidik misi
Aku bangga menjadi mahasiswa PGSD, yang katanya jurusan tertinggi peminatnya. Alhamdulillah , aku bisa belajar di universitas negeri yang ada di tanah air ini.
Dengan semangat , usaha, doa, dan tawakal , semua mimpi bisa terwujud jika yang di atas menghendakinya. Kadang mimpi itu seperti khayalan semu,  namun hidup tak akan indah tanpa adanya mimpi. Betul..
Tak ada salahnya kita bermimpi asalkan mimpi itu sesuai dengan kemampuan kita. Menulis mimpi-mimpi kita juga sangat membantu kita mengingat “ Oh, ini mimpi saya, dan saya harus gapai mimpi itu “. Bermimpilah selagi kita masih bisa bermimpi. Ingatlah, di dunia ini tidak ada sesuatu yang tak mungkin dan segala kemungkinan itu akan terjadi.
Nothing is impossible and possible can happen .












Mengapa karya saya layak dimenangkan ?

Jawabannya :
Karya saya pantas dimenangkan karena cerita yang terkandung di dalamnya dapat menginspirasi orang yang membacanya.Insyaalloh. Jika anda membaca kisah saya ini secara saksama , anda akan menemukan sebuah inspirasi yang mungkin dapat memotivasi anda dalam menjalani kehidupan ini. Ingatlah, kehidupan di dunia ini kadang tidak seperti yang kita dambakan, kadang kita di atas dan kadang pula kita ada di bawah. Sudah selayaknya kita  selalu berbuat baik kepada orang lain, tanpa memandang pangkat, derajat , dan kekayaan kita , karena sesungguhnya derajat kita di mata alloh itu sama , yang membedakan hanyalah ketakwaan kita kepada-Nya.
Dalam kisah ini pula, anda akan menemukan bagaimana perjuangan hidup seorang anak manusia yang  benar-benar berjuang  menjadi orang yang berguna. Tidak hanya berjuang dalam menghadapi sebuah tantangan, namun bagaimana berjuang itu harus diiringi dengan tawakal kepada ALLOH. Tidak hanya itu, segala sesuatu akan terjadi karena kehendak-Nya.  Ingtlah, perjuangan, optimis, tawakal dan doa adalah kunci sukses hidup ini.










KONEKSI ANTAR MATERI KESIMPULAN DAN REFLEKSI MODUL 1.1

  Ki Hajar Dewantara merupakan sosok yang sangat pantas mendapatkan julukan sebagai Bapak Pendidikan. Beliau tidak pernah merasa putus asa u...