Perpisahan
Hari perpisahan antara
kau dan kau saat mentari terbit di ufuk timur. Kau ucapkan kata yang tak
sanggup kudengar. Pupus sudah rasa ibi. Aroma mawar di taman bungapun tak
sewangi kala itu. Seakan merasakan perihnya hati ini ditinggal sang pujaan
hati. Di taman ini, di pagi ini pula kusadari kumencintai dirimu. Aku tak
sanggup menerima takdir ini. Kau kan pergi jauh dariku. Taman ini menjadi saksi
bisu pertemuan perrtama dan kali ini yang terakhir untuk kita. Lusa kau kan
pergi menuju tempat itu, tempat yang kau impikan sejak dulu. Spanyol.
Aku mencoba menerimanya dengan berat
hati. Tetapi, apakah kau tahu?
Jiwa ragaku tak sanggup berpisah darimu,
kasih. Terlalu berat kumerasakan cobaan ini. Haruskah kumengikutimu. Dan
rasanya tak mungkin, aku di sini harus berjuang melawan derasnya tantangan
tanpamu. Aku harus bisa meski kupendam gelora sakit ini. Rasanya baru kemarin
kita dipersatukan dalam ikatan cinta, namun tak lama lagi kita kan berpisah
jauh.
Kau hanya bilang, “ aku akan kembali 5
tahun silam, jagalah hatimu, rasakan rinduku yang selalu untuk mu dan
nantikanlah pinanganku, sayang”..
Itu janjimu..
Aku terdiam seribu bahasa. Aku tak mampu
menjawabnya. 5 tahun, bukanlah waktu yang sedikit. Lama lama
Apakah aku bisa menunggunya, sementara
kini usiaku sudah dua lima tahun, 5 th lagi udah kepala tiga. Ya Rabb,
tunjukkanlah jalan untuk hamba-Mu ini. Aku sedih jika cintaku tak berlabuh
padanya, karena dia yang pertama merajut kasih putih di hati ini.
Ah, kau bingung. Bagaimana kelanjutan
kisah ku dengannya. Tetap langgeng atau patah di tengah gelombang cinta. Cerita
dan kisah cintaku dengannya terbatas oleh dua negara dna terrpisahkan oleh
dalam dan luasnya samudera.
Aku takut diamengingkari janjinya
walaupun , aku percaya dia takkan mungkin menghianati cinta tulusku. Kini, kau
hanya bisa berdoa dan berharap semoga semua akan terasa indah pada akhirnya.
No comments:
Post a Comment