BERJUANG DEMI SEBUAH KATA
“PROFESIONALITAS”
Oleh:
Siti
Ma’sumah
Peserta
SM-3T Angkatan V Tahun 2015
Universitas
Negeri Semarang
Pendidikan
mempunyai peranan penting bagi manusia terutama dalam menghadapi tantangan
kehidupan. Hal ini dikarenakan pendidikan dapat
mempengaruhi perkembangan manusia dalam seluruh aspek kepribadian dan
kehidupannya. Pendidikan bersifat universal yang berarti dapat diakses dan
dimiliki oleh semua anak bangsa tanpa terkecuali. Di negara Indonesia,
pendidikan merupakan hak bagi setiap warga negara. Hal ini diatur dalam batang
tubuh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 Pasal 31 Ayat 1
yang berbunyi “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Kemajuan
suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas sumber daya
manusianya. Sumber daya manusia yang berkualitas tidak diperoleh secara
spontan, melainkan melalui proses berkelanjutan dari
manusia dilahirkan sampai meninggal dunia. Proses itulah yang dinamakan
pendidikan.
Berbicara mengenai pendidikan di Indonesia, nampaknya belum merata
seperti yang dicita-citakan. Dapat dikatakan bahwa bidang pendidikan masih
membutuhkan sentuhan optimal dari tangan-tangan ikhlas generasi penerus bangsa.
Tidak meratanya pendidikan di Indonesia sangat terlihat jelas dimana tingkat pendidikan
di Pulau Jawa lebih berkualitas tinggi daripada tingkat pendidikan di luar
Pulau Jawa. Hal ini dikarenakan tidak meratanya
kualitas pendidikan yang diberikan,
kekurangan guru di wilayah perbatasan negara, tidak sesuainya bidang kemampuan
guru dengan materi yang diajarkan, kurangnya sarana dan prasarana yang memadai
serta sering bergantinya kurikulum pendidikan yang menjadi pro dan kontra dalam
masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia mempunyai masalah yang
besar, sehingga perlu adanya program-program yang mampu meningkatkan kualitas
pendidikan di Indonesia secara merata dari ujung barat Indonesia sampai ke
ujung timur Indonesia.
Untuk mengatasi masalah ketidakmerataan pendidikan di negeri Indonesia,
pemerintah mencanangkan program yang dinamakan Maju Bersama Mencerdaskan
Indonesia (MBMI). Program ini bertujuan untuk
mencerdaskan masyarakat Indonesia yang berada di wilayah terluar, terdepan dan
tertinggal, sehingga
anak-anak pada daerah tersebut bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas,
seperti anak-anak yang berada di Pulau Jawa. Ada beberapa subprogram di bawah
payung program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI) yaitu program SM-3T
yang berkesinambungan dengan PPG SM-3T. Program SM-3T adalah program pemerintah
bagi sarjana pendidikan selama 1 tahun untuk megajar di daerah 3T (Terdepan,
Terluar dan Tertinggal). Program ini
sangat cocok untuk menciptakan guru profesional yang tidak hanya mengejar
kesejahteraan hidup saja, akan tetapi mendidik dengan hati. Setelah para
sarjana menyelesaikan pengabdiannya selama setahun di 3T, pemerintah memberikan
beasiswa PPG SM-3T sehingga tercipta generasi guru profesional sesuai
bidangnya.
Untuk
menjadi guru profesional harus melewati banyak tantangan yang sudah berada di
depan mata. Guru profesional yang berhasil yakni guru yang mampu memenangkan segala
tantangan yang ada. Penulis telah memantapkan hati untuk menjadi pendidik di
daerah 3T dan bergabung dalam program maju bersama mencerdaskan Indonesia.
Penulis berharap melalui program ini dapat memperoleh pengalaman yang tak akan
pernah terlupakan dan selalu terkenang dalam masa mendatang. Penulis
menilai bahwa pada saat ini Indonesia sangat membutuhkan guru di daerah Terluar,
Terdepan dan Tertinggal yang
benar-benar mengabdi dengan hati bukan semata-mata karena gaji dan
kesejahteraan.
Guru
profesional merupakan dambaan negeri Indonesia untuk meningkatkan kemajuan
pendidikan negeri. Untuk menjadi guru profesional tidaklah mudah karena harus
memenuhi empat kompetensi guru yakni kompetensi pedagogik, profesional,
kepribadian dan sosial. Apabila seorang guru telah mampu mencapai empat
kompetensi tersebut barulah dapat dibilang sebagai guru profesional. Namun, guru
yang telah mengajar bertahun-tahun belum tentu mendapatkan gelar profesional.
Guru diharuskan dapat mendidik anak-anak Indonesia untuk menjadi generasi
penerus yang bermutu dan berdaya guna. Selain itu, guru juga dituntut untuk
mengembangkan akhlak dan budi pekerti luhur anak bangsa.
Program
SM-3T merupakan ssalah satu cara yang baik untuk mengetahui perjuangan seorang
guru menjadi guru profesional. Calon guru dididik untuk “bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian” artinya mereka
dididik untuk merasakan keadaan yang luar biasa dahulu, yang belum pernah
terbayangkan sebelumnya, sebelum menempati posisi kesejahteraan hidup.
Tujuannya adalah agar ketika berada di putaran atas roda kehidupan, mereka
tidak akan sombong dengan apa yang mereka miliki. Selain itu, adanya program
ini juga menciptakan guru yang tangguh, berani, ambisius, pantang menyerah, rela
berkorban, tertantang dan calon guru yang luar biasa. Guru SM-3T memang
benar-benar terdorong keikhlasan hatinya untuk memberikan cahaya bagi
pendidikan di Indonesia. Mereka diuji tingkat kesetiaan untuk mengabdi kepada
bangsa. Penulis yakin, suatu saat guru SM-3T memang layak dinyatakan sebagai
guru profesional. Tidak pernah mengeluh dengan tempat mengajarnya walaupun
sampai ke pelosok negeri dan menjadi guru yang takkan pernah mengeluh dengan
kurikulum yang sedang diaplikasikan di
negara Indonesia.
Saat
ini, pendidikan di Indonesia sedang terombang-ambing oleh kurikulum yang
berlaku. Ada sekolah yang menerapkan kurikulum KTSP dan Kurikulum 2013.
Menyikapi hal ini seolah terjadi sebuah perbedaan penerapan kurikulum. Namun,
perlu diyakini bahwa apapun kurikulum yang diterapkan di Indonesia, kunci
kesuksesan pendidikan di Indonesia berada di tangan guru. Apabila guru sudah
mampu menciptakan pembelajaran yang menarik dan mampu memikat hati siswa untuk
belajar pastilah siswa tidak akan merasa terbebani oleh kurikulum. Berdasarkan
permasalahan tersebut Guru SM-3T telah banyak dibekali dalam bentuk pelatihan,
workshop, seminar maupu peer teaching. Sehingga, guru lulusan dari PPG SM-3T
diharapkan mampu menguasai metode pembelajaraan apapun kurikulumnya baik KTSP
maupun Kurikulum 2013. Sebagai
seorang guru yang profesional, maka guru harus kreatif dan inovatif. Perubahan
kurikulum tidak menjadikan surutnya semangat mengajar para guru. Pada
pelaksanaan pembelajaran yang diharapkan adalah seorang guru harus mampu
beradaptasi dengan kurikulum yang berlaku sesuai dengan tuntutan perkembangan
zaman.
Perjuangan
guru SM-3T menjadi guru profesional tidaklah mudah. Melalui tes seleksi yang
begitu ketatnya, mereka saling berkompetisi untuk memperebutkan kursi menjadi
calon guru profesional. Orang-orang terpilih inilah yang sudah memantapkan
hatinya untuk mengabdi kepada negara Indonesia. Selanjutnya guru SM-3T inilah yang akan dikirimkan ke pelosok
negeri untuk mendidik anak bangsa yang masih miskin ilmu pendidikan. Guru
profesional tidak pilih-pilih di mana mereka akan ditempatkan, tetapi menerima
dengan ikhlas dimana mereka akan ditempatkan. Hanya dengan niat ikhlas
perjuangan menjadi seorang guru profesional akan termenangkan dengan perjuangan
yang hebat. Pada mulanya, guru tidak bersedia ditempatkan di daerah pelosok
karena berbagai alasan. Namun, guru SM-3T hadir mendedikasikan dirinya untuk
mengabdi kepada negeri tanpa adanya keluh kelas yang melanda.
Pengalaman
yang diperoleh selama mengikuti SM-3T diharapkan mampu mengubah anime
masyarakat bahwa kalau mendidik itu harus profesional, bersedia ditempatkan
dimanapun, di daerah perbatasan maupun pedalaman yang masih kekal keberagaman
suku dan budayanya. Oleh karena itu, sebelum guru SM-3T diterjunkan ke daerah
sasaran, mereka diberi pembekalan terlebih dahulu agar tidak mengeluh dengan
kesedehanaan mereka di sana, di lingkungan baru, hidup dengan masyarakat baru
dan menjadi bagian dari suku baru. Inilah saatnya, calon guru SM-3T beraksi
melanjutkan misinya untuk mencerdaskan anak bangsa. Adaptasi yang cepat dengan
lingkungan tempat tinggal di sana itulah yang harus mereka lalui sehingga dapat
diterima dengan lapang dada oleh masyarakatnya.
Guru
SM-3T juga dituntut untuk multi talent, tidak hanya pandai dalam hal mendidik
anak-anak saja, akan tetapi menjadi orang yang hebat di mata masyarakat. Hal
ini dikarenakan ketika mengabdi, mereka dianggap sebagai orang hebat yang bisa
melakukan segalanya di luar bidang keahliannya. Untuk mengatasi hal ini, calon
guru perlu belajar memahami hal-hal yang erat kaitannya dengan kehidupan
masyarakat di muka bumi ini terutama di daerah penempatan.
Guru
yang hebat tidak akan pernah mengeluh dengan keadaan mereka di manapun,
kapanpun mereka berada dan kurikulum yang berlaku di daerah penempatan
tersebut. Salah satu kuncinya adalah percaya akan kemampuan diri sendiri, tidak
menggantungkan sesuatu pada orang lain, mandiri, menghadapi tantangan yang ada
dengan tulus ikhlas dan berjuang dengan ikhlas. Karena pada saat ini, sangat
terlihat jelas tidak sedikit guru yang dengan senang hati ditempatkan di daerah
perlosok Indonesia. Padahal, mereka anak-anak bangsa di luar sana juga layak
mendapatkan pendidikan yang sepenuhnya menjadi haknya dan harus diperolehnya.
Berdasarkan
uraian tersebut, penulis merasa bangga menjadi salah satu bagian dari upaya
memajukan pendidikan di Indonesia terutama di daerah 3T yang kebutuhan akan
pendidikannya lebih tinggi daripada pendidikan di pulau Jawa. Kehadiran
guru-guru SM-3T yang berjuang atas nama bangsa Indonesia semoga dapat
menjadikan motivasi generasi muda penerus bangsa.
No comments:
Post a Comment