Thursday, August 13, 2015

BERJUANG DEMI SEBUAH KATA “PROFESIONALITAS”



BERJUANG DEMI SEBUAH KATA “PROFESIONALITAS”

Oleh: Siti Ma’sumah
Peserta SM-3T Angkatan V Tahun 2015
Universitas Negeri Semarang

Pendidikan mempunyai peranan penting bagi manusia terutama dalam menghadapi tantangan kehidupan. Hal ini dikarenakan pendidikan dapat mempengaruhi perkembangan manusia dalam seluruh aspek kepribadian dan kehidupannya. Pendidikan bersifat universal yang berarti dapat diakses dan dimiliki oleh semua anak bangsa tanpa terkecuali. Di negara Indonesia, pendidikan merupakan hak bagi setiap warga negara. Hal ini diatur dalam batang tubuh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 Pasal 31 Ayat 1 yang berbunyi “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan”. Kemajuan suatu bangsa dapat dilihat dari kualitas sumber daya manusianya. Sumber daya manusia yang berkualitas tidak diperoleh secara spontan, melainkan melalui proses berkelanjutan dari manusia dilahirkan sampai meninggal dunia. Proses itulah yang dinamakan pendidikan.
Berbicara mengenai pendidikan di Indonesia, nampaknya belum merata seperti yang dicita-citakan. Dapat dikatakan bahwa bidang pendidikan masih membutuhkan sentuhan optimal dari tangan-tangan ikhlas generasi penerus bangsa. Tidak meratanya pendidikan di Indonesia sangat terlihat jelas dimana tingkat pendidikan di Pulau Jawa lebih berkualitas tinggi daripada tingkat pendidikan di luar Pulau Jawa. Hal ini dikarenakan tidak meratanya kualitas pendidikan yang diberikan, kekurangan guru di wilayah perbatasan negara, tidak sesuainya bidang kemampuan guru dengan materi yang diajarkan, kurangnya sarana dan prasarana yang memadai serta sering bergantinya kurikulum pendidikan yang menjadi pro dan kontra dalam masyarakat. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia mempunyai masalah yang besar, sehingga perlu adanya program-program yang mampu meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia secara merata dari ujung barat Indonesia sampai ke ujung timur Indonesia.
Untuk mengatasi masalah ketidakmerataan pendidikan di negeri Indonesia, pemerintah mencanangkan program yang dinamakan Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI). Program ini bertujuan untuk mencerdaskan masyarakat Indonesia yang berada di wilayah terluar, terdepan dan tertinggal, sehingga anak-anak pada daerah tersebut bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas, seperti anak-anak yang berada di Pulau Jawa. Ada beberapa subprogram di bawah payung program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI) yaitu program SM-3T yang berkesinambungan dengan PPG SM-3T. Program SM-3T adalah program pemerintah bagi sarjana pendidikan selama 1 tahun untuk megajar di daerah 3T (Terdepan, Terluar dan Tertinggal). Program ini sangat cocok untuk menciptakan guru profesional yang tidak hanya mengejar kesejahteraan hidup saja, akan tetapi mendidik dengan hati. Setelah para sarjana menyelesaikan pengabdiannya selama setahun di 3T, pemerintah memberikan beasiswa PPG SM-3T sehingga tercipta generasi guru profesional sesuai bidangnya.
Untuk menjadi guru profesional harus melewati banyak tantangan yang sudah berada di depan mata. Guru profesional yang berhasil yakni guru yang mampu memenangkan segala tantangan yang ada. Penulis telah memantapkan hati untuk menjadi pendidik di daerah 3T dan bergabung dalam program maju bersama mencerdaskan Indonesia. Penulis berharap melalui program ini dapat memperoleh pengalaman yang tak akan pernah terlupakan dan selalu terkenang dalam masa mendatang. Penulis menilai bahwa pada saat ini Indonesia sangat membutuhkan guru di daerah Terluar, Terdepan dan Tertinggal yang benar-benar mengabdi dengan hati bukan semata-mata karena gaji dan kesejahteraan.
Guru profesional merupakan dambaan negeri Indonesia untuk meningkatkan kemajuan pendidikan negeri. Untuk menjadi guru profesional tidaklah mudah karena harus memenuhi empat kompetensi guru yakni kompetensi pedagogik, profesional, kepribadian dan sosial. Apabila seorang guru telah mampu mencapai empat kompetensi tersebut barulah dapat dibilang sebagai guru profesional. Namun, guru yang telah mengajar bertahun-tahun belum tentu mendapatkan gelar profesional. Guru diharuskan dapat mendidik anak-anak Indonesia untuk menjadi generasi penerus yang bermutu dan berdaya guna. Selain itu, guru juga dituntut untuk mengembangkan akhlak dan budi pekerti luhur anak bangsa.
Program SM-3T merupakan ssalah satu cara yang baik untuk mengetahui perjuangan seorang guru menjadi guru profesional. Calon guru dididik untuk “bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian” artinya mereka dididik untuk merasakan keadaan yang luar biasa dahulu, yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, sebelum menempati posisi kesejahteraan hidup. Tujuannya adalah agar ketika berada di putaran atas roda kehidupan, mereka tidak akan sombong dengan apa yang mereka miliki. Selain itu, adanya program ini juga menciptakan guru yang tangguh, berani, ambisius, pantang menyerah, rela berkorban, tertantang dan calon guru yang luar biasa. Guru SM-3T memang benar-benar terdorong keikhlasan hatinya untuk memberikan cahaya bagi pendidikan di Indonesia. Mereka diuji tingkat kesetiaan untuk mengabdi kepada bangsa. Penulis yakin, suatu saat guru SM-3T memang layak dinyatakan sebagai guru profesional. Tidak pernah mengeluh dengan tempat mengajarnya walaupun sampai ke pelosok negeri dan menjadi guru yang takkan pernah mengeluh dengan kurikulum yang  sedang diaplikasikan di negara Indonesia.
Saat ini, pendidikan di Indonesia sedang terombang-ambing oleh kurikulum yang berlaku. Ada sekolah yang menerapkan kurikulum KTSP dan Kurikulum 2013. Menyikapi hal ini seolah terjadi sebuah perbedaan penerapan kurikulum. Namun, perlu diyakini bahwa apapun kurikulum yang diterapkan di Indonesia, kunci kesuksesan pendidikan di Indonesia berada di tangan guru. Apabila guru sudah mampu menciptakan pembelajaran yang menarik dan mampu memikat hati siswa untuk belajar pastilah siswa tidak akan merasa terbebani oleh kurikulum. Berdasarkan permasalahan tersebut Guru SM-3T telah banyak dibekali dalam bentuk pelatihan, workshop, seminar maupu peer teaching. Sehingga, guru lulusan dari PPG SM-3T diharapkan mampu menguasai metode pembelajaraan apapun kurikulumnya baik KTSP maupun Kurikulum 2013. Sebagai seorang guru yang profesional, maka guru harus kreatif dan inovatif. Perubahan kurikulum tidak menjadikan surutnya semangat mengajar para guru. Pada pelaksanaan pembelajaran yang diharapkan adalah seorang guru harus mampu beradaptasi dengan kurikulum yang berlaku sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman.
Perjuangan guru SM-3T menjadi guru profesional tidaklah mudah. Melalui tes seleksi yang begitu ketatnya, mereka saling berkompetisi untuk memperebutkan kursi menjadi calon guru profesional. Orang-orang terpilih inilah yang sudah memantapkan hatinya untuk mengabdi kepada negara Indonesia. Selanjutnya guru  SM-3T inilah yang akan dikirimkan ke pelosok negeri untuk mendidik anak bangsa yang masih miskin ilmu pendidikan. Guru profesional tidak pilih-pilih di mana mereka akan ditempatkan, tetapi menerima dengan ikhlas dimana mereka akan ditempatkan. Hanya dengan niat ikhlas perjuangan menjadi seorang guru profesional akan termenangkan dengan perjuangan yang hebat. Pada mulanya, guru tidak bersedia ditempatkan di daerah pelosok karena berbagai alasan. Namun, guru SM-3T hadir mendedikasikan dirinya untuk mengabdi kepada negeri tanpa adanya keluh kelas yang melanda.
Pengalaman yang diperoleh selama mengikuti SM-3T diharapkan mampu mengubah anime masyarakat bahwa kalau mendidik itu harus profesional, bersedia ditempatkan dimanapun, di daerah perbatasan maupun pedalaman yang masih kekal keberagaman suku dan budayanya. Oleh karena itu, sebelum guru SM-3T diterjunkan ke daerah sasaran, mereka diberi pembekalan terlebih dahulu agar tidak mengeluh dengan kesedehanaan mereka di sana, di lingkungan baru, hidup dengan masyarakat baru dan menjadi bagian dari suku baru. Inilah saatnya, calon guru SM-3T beraksi melanjutkan misinya untuk mencerdaskan anak bangsa. Adaptasi yang cepat dengan lingkungan tempat tinggal di sana itulah yang harus mereka lalui sehingga dapat diterima dengan lapang dada oleh masyarakatnya.
Guru SM-3T juga dituntut untuk multi talent, tidak hanya pandai dalam hal mendidik anak-anak saja, akan tetapi menjadi orang yang hebat di mata masyarakat. Hal ini dikarenakan ketika mengabdi, mereka dianggap sebagai orang hebat yang bisa melakukan segalanya di luar bidang keahliannya. Untuk mengatasi hal ini, calon guru perlu belajar memahami hal-hal yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat di muka bumi ini terutama di daerah penempatan.
Guru yang hebat tidak akan pernah mengeluh dengan keadaan mereka di manapun, kapanpun mereka berada dan kurikulum yang berlaku di daerah penempatan tersebut. Salah satu kuncinya adalah percaya akan kemampuan diri sendiri, tidak menggantungkan sesuatu pada orang lain, mandiri, menghadapi tantangan yang ada dengan tulus ikhlas dan berjuang dengan ikhlas. Karena pada saat ini, sangat terlihat jelas tidak sedikit guru yang dengan senang hati ditempatkan di daerah perlosok Indonesia. Padahal, mereka anak-anak bangsa di luar sana juga layak mendapatkan pendidikan yang sepenuhnya menjadi haknya dan harus diperolehnya.
Berdasarkan uraian tersebut, penulis merasa bangga menjadi salah satu bagian dari upaya memajukan pendidikan di Indonesia terutama di daerah 3T yang kebutuhan akan pendidikannya lebih tinggi daripada pendidikan di pulau Jawa. Kehadiran guru-guru SM-3T yang berjuang atas nama bangsa Indonesia semoga dapat menjadikan motivasi generasi muda penerus bangsa.

No comments:

Post a Comment

KONEKSI ANTAR MATERI KESIMPULAN DAN REFLEKSI MODUL 1.1

  Ki Hajar Dewantara merupakan sosok yang sangat pantas mendapatkan julukan sebagai Bapak Pendidikan. Beliau tidak pernah merasa putus asa u...