Saturday, April 2, 2016

Catatanku di Sebuah Desa Kecil Bernama Kuala Pade


Tak pernah sebelumnya terlintas di pikiranku akan ditempatkan di sini. Menurut informasi dari kakak angkatan yang dulunya ditempatkan di tetangga desa itu mengatakan bahwa desa itu berpenduduk dari suku melayu. Syukur alhamdulillah kalau memang benar. Ternyata memanglah benar mayoritas beragama islam, namun ada beberapa yang beragama kristen. Tidak jarang terlihat anjing yang berlarian ke sana ke mari. Alhamdulillah di sini saya masih bisa sholat berjamaah seperti kebiasaanku di rumah. Masjidnya dekat hanya 3 menit sudah sampai. Pertama saya jamaah, hanya saya perempuan tertua yang menjadi makmum sholat sisanya anak-anak yang notabenenya murid saya. Meskipun di sini mayoritas islam, namun sedikit beda dengan di Jawa. Kalau di Jawa islamnya sudah kental, kalau di sini masih begitulah tak usah diungkapkan saja.
Bicara tentang sekolah. Saya bersyukur sekali karena sekolahnya ada di depan rumah dinas, tak butuh waktu lama untuk jalan kaki,  tak perlu motor untuk berangkat ke sekolah. Tinggal keluar rumah sampailah di depan sekolah. Guru-gurunya masih muda dan saya ditugaskan untuk menjadi wali kelas III. Sebuah pengalaman baru dan harus saya selesaikan dengan baik tugas ini. Sebelumnya saya hanya menjadi guru biasa, tak menjadi seperti ini. Lama tak mengajar rasanya canggung juga ternyata. Ah, yang penting saya harus terbiasa menghadapi anak-anak yang berbeda dan menjadi sahabat mereka ketika di luar kelas.
Anak-anak yang luar biasa, dikatakan luar biasa karena di kelas saya ada 2 orang anak berkebutuhan khusus. Yang satu sudaha 4 tahun tinggal kelas 1 dan langsung dinaikkan ke kelas 3. Habet bukan, akselerasi. Kalau yang satunya cewe namanya Dena. Bisa dikatakan dia lama mikirnya, lambat mikirnya. Kalau nulis, bisa sejam untuk 6 baris. Bisa diabyangkan. Murid saya ada 14 anak, itu percampuran dari yang kelas 2 sama kelas 1. Nah, bagaimana kognitifnya. Saya harus bersabar sekali. Karena tidak sedikit dari mereka yang belum mampu membaca dengan lancar. Masih dalam taraf mengeja.. :-( , sudah kelas 3 loo.. #tapi saya bersyukur mereka hafal yang namanya huruf dan angka. Cuma seorang taddi yang laki-laki bernama Inul dia mau nulis angka 5 yang ditulis angka 6 dan kalian tau ketika kutanya 5 + 0 berapa hasilnya,, jawabannya 0. #tepuk jidat...
Hari pertama ngajar rasanya pengin teriak-teriak harus memutar otak untuk mengajar mereka. Ada yang sangat pintar dan ada yang sangat lambat.. Coba gimana...
Ketika yang cepat nangkep dah selesai mereka langsung mainan dan mengganggu teman lain yang lambat mikirnya. Dan sebuah strategi baru kujalankan, ketika mereka dah selesai kuberi sebuah lagu dan kutulis di papan tulis kemudian disuruhlah mereka mencatatnya.
Batere habis, sambung besok lagi yaaa :-)
Oke deh sambung lagi yaa...
Kemarin sampe apa yaa... wah sampe lupa...
Cerita lagi ni tentang ngajar di sd, sesuatu sekali pokoknya...
Murid-murid yang beranekaragam bentuknya, karakternya dan semuanya  berbeda, tetapi aku senang bertatap muka dengan mereka karena bagiku mereka adalah objek yang membuat duniaku bisa maju dan tertawa. Keberhasilanku dalam mengajar akan sangat terlihat jelas ketika mereka berhasil menangkap materi yang kuberikan. Dan inilah tantangan buat saya untuk  membuktikan kalau aku bisa. Aku harus bisa menguasai materi pelajaran dan memberikan ilmu kpada siswa saya. Ketika mereka mudeng dan merasa senang dengan apa yang saya ajarkan, akan senang sekali saya.
Hari ketiga di sekolah, saya mengajar pramuka kelas 2 dan 3. Wahwah, anak-anak kecil semua. Blang, tak tau entahlah apa yang harus kuajarkan. Ting. Langsung aku berpikir untuk mengajarkan mereka nyanyi lagu andalan kakak kelas ketika kuliah dulu. Ternyata anak-anak merasa senang mendapatkan lagu saya, walaupun ada satu dua anak yang masih berisik aja ketika saya menyampaikan lagu itu. Saya senang bisa berjumpa dengan mereka.
Untuk kesekian kalinya aku katakan hidupku sekarang di tengah-tengah hutan, dan aku tak tahu kemana arah jalan menuju desa tetangga, karena apa? Ketika kuberjalan di ujung desa yang saya tempati sekarang adalah hutan dan paling belakangnya sungai air besar dan memang bener-bener besar sungainya. Hidup di pertengahan hutan dengan kondisi yang seperti itulah. Mencari sinyal untuk menelpon keluarga di rumah sangat membutuhkan perjuangan ekstra. Harus berjalan menyusuri bukit di atas desa saya. Dan ketika ada sinyal satu itu belum bisa buat menelpon, masih terputus-putus kalau telpon keluarga. Entahlah aku tak habis pikir bisa begitu. Tau gak jarak satu desa dengan desa lainnya itu seperti kabupaten di tanah kelahiran saya. Di sini, hutan semuanyalah kalau kubilang. Saya bersyukur masih bisa merasakan alaminya alam yang tak tersentuh polusi seperti di kota-kota sana.
Hmm, masalah makanan, harus kuacungi jempol orang sini. Kalau di rumah saya, sayuran yang biasa saya masak di sini sudah menjadi makanan sehari-hari kambing, sapi, atau hewan ternak lainnya, tapi kalau di sini, saya makanlah semua sayuran itu. Antara doyan dan laper mungkin. Kebanyakan lapernya.hahahaha.. Rasanya beda banget sama masakan ibu di rumah. Di sini makanan tak dikasih gula merah. Rasanya semuanya asin, pedes, gurih.. aku rindu gula merah.. masakan ibu di rumah, dan tahukah ibu ketika saya makan saya selalu mengingat ibu agar bisa makan banyak..
Bersambung lagi yaa...
Hari ke-5 aku menjadi orang baru di desa kecil ini, rasanya kayak mimpi. Rasanya aku masih di Jawa, tanah kelahiranku. Namun ketika kuterbangun ternyata di sinilah kumengabdikan diriku selama setahun di Kampung Kuala Pade ini. Aku bangun menyambut mentari pagi. Malam lalu kutak bisa tidur karena aku tak terbiasa nongkrong. Di basecamp ku hampir setiap malam pemuda, guru-guru di sini nongkrong semua. Sesuatu yang tak pernah kulakukan dan yang tak kusenangi. Aku tak suka nongkrong. Iya memang bagus, bisa saling bernyanyi, gitaran, tapi aku tak suka. Aku lebih senang duduk di depan laptop memainkan laptopku, menulis-nulis sesuatu yang kuinginkan, menonton film dan lain sebagainya. Yang jelas sekali tidak suka ya tidak suka, itu bukan akuu. Sudahlah orang mau bilang apa yang jelas aku tak suka, daripada kuterkekang di ruangan itu lebih baik aku pergi kembali ke kamarku. Hm, tapi efek suara gitar dan nyanyian yang begitu keras aku tak sanggup memejamkan mata, terlalu terngiang-ngiang di telingaku. Sampai akhirnya aku bisa terlelap dalam tidur malamku sekitar jam satu lebih. Dan jam tengah 6 aku sudah tidak sanggup untuk bersama kasur merah. Aku bergegas mandi pagi untuk memulai aktivitas seperti biasanya. Mengajar adalah pekerjaanku. Saya akui pekerjaan saya membutuhkan tanggung jawab ekstra karena pemikiran mereka masih rendah. Kuakui pemikiran anak-anak di sini masih sangat rendah melebihi anak kelas satu di pulauku. Ya sudahlah mau bagaimana lagi keadaannya sudah seperti ini. Aku hanya bisa berusaha memberika yang terbaik untuk mereka. Walaupun anak-anakku seperti itu tetapi saya yakin mereka menyayangiku. Harus cara apa lagi yang kulakukan, pemikiran mereka masih tetep seperti itu. Di kelas saya ada 3 anak yang menurut saya pantas dimasukkan dalam golongan anak berkebutuhan khusus. Karena anak-anak ini berbeda dari yang lain. Abk dengan tipe hiperaktif yakni Aryo. Dia pinter tetapi bener-bener hiperaktif. Ketika jam pelajaran dimulai dia sering ribut sendiri dan sering membuat masalah sampai-sampai temannya menangis. Abk yang kedua bernama Inul, dia itu abk tipe pemikirannya pendek, wajahnya terlihat kurang optimis, kurang semangat namun aku suka dia karena dia pendiam dan mudah diatur. Abk yang ketiga bernama Jepri. Dia anaknya terlihat ngantukan, pemikirannya juga pendek. Wajahnya seperti orang bingung. Lengkap sudah murid-muridku semua. Saya harus bersabar menghadapi mereka.  
Anak-anak, mungkin mereka menganggap aku sebagai teman atau sahabat dan efeknya kurang dihormati. Mereka berisik dan sering membuat ulah di kelas. Dan hampir seminggu saya tak tahu langkah apa yang harus kulakukan. Begitu pusing kepala saya memikirkkan mereka, apalagi penguasaan materi yang kurang dari mereka. Di kelas saya ada 14 orang, yang 6 orang asli memang dari kelas 2 dan sisanya 8 orang merupakan naik secara otomatis dari kelas 1 ke kelas . hebat  bukan.. eits, hebat banget pokoknya. Kalian tahu, yang 8 orang ini sudah tinggal di kelas 1 selama 3- 4 tahun. Makannya pak guru dan bu guru berinisiatif untuk menaikkan ke-8 orang ini ke kelas 3. Wah sesuatu sekali buat saya. Terlebih lagi ada seorang anak yang bener-bener membaca pun belum bisa. Saya harus gimana, itu anak saya. Saya harus bertanggungjawab dengan masa depannya. Saya dikatakan berhasil mengajar jika dia sudah bisa sedikit-sedikit membaca dan saya akan merasa senang. Untuk menulis memang sangat rajin menulis. Saya akui, dia tidak pernah ketinggalan ketika menulis. Sayangnya dia belum bisa membaca. :-(
Saya sangat merasa sedih padahal dia itu rajin. Tapi ini memang sudah kuasa saang illahi. Ada kelebihan yang tersembunyi dibalik sebuah kekurangan yang terlihat oleh mata. Semoga saya bisa menjadi guru yang baik dan disayangi mereka sehingga bisa mencerdaskan mereka. Amin..
Aku ingin menjadi orang yang berguna dan benar-benar menjelaskan dengan baik di depan anak-anak sehingga mereka pandai dan mampu memahami semua penjelasan saya dengan baik. Saya menyayangi mereka dan akan selalu menyayanginya karena mereka adalah generasi penerus yang membutuhkan sentuhan tangan ekstra dari kita, guru-guru yang mengajar dengan hati. Doakan saya ya bisa selalu ada untuk mereka dan menjadi yang terbaik untuk mereka. Aku ingin menangis ketika mereka tak semangat mengikuti pelajaran saya. Aku ingin menangis ketika mereka tak menghormati saya dan aku sangat ingin menangis ketika mereka tak paham dengan apa yang saya jelaskan. Sebaliknya saya merasa senang sekali ketika mereka dapat dengan mudah menangkap penjelasan saya dengan baik, semangat ketika belajar dan memeberikan sesuatu yang baik di depan mata saya.
Seminggu di sini, saya merasa saya harus benar-benar membenahi diri saya untuk menjaddi  seseorang guru yang baik. Guru yang bijak dan guru yang menyayangi anak-anak. Tidak ada penyesalan ketika saya mengikuti program sm-3t. bagiku, tak ada pengalaman yang terbaik ketika belum mencoba tantangan yang benar-benar nyata. Tidak hanya soal mengajar di dalam kelas, namun bersosialisasi dengan tetangga sekitar rumah dinas. Mereka adalah bagian dari hidup kita. Kembali kepada alam adalah motto kita. Memang benar di sini saya benar-benar kembali kepada alam dimana apa-apa harus mencari di hutan. Kehidupan yang baru buat saya. Dan harus saya jalani dengan ikhlas. Insyaalloh berkah. Amin...
Di tempat ini, saya menyadari bahwa menyayangi alam adalah bagian dari sebuah kehidupan dimana ketika saya tinggal di jawa tidak pernah saya jumpai hutan yang sesungguhnya dan saat ini saya berada di tempat yang benar-benar terletak di tengah hutan. Iya hutan. Kayak mimpi ya..
Inilah bagian dari hidup saya yang tak akan pernah saya lupakan sampai akhir hidup saya. Ketika saya lapar, saya harus mencari makanan di hutan terlebih dahulu sebelum memakannya karena di desa ini tidak ada penjual sayuran. Beda sekali dengan di jawa. Bagiku semua yang ada di sini memang benar-benar baru. Baik lingkuangannya, makanannya, kehidupannya dan adat budayanya jauh sekali dekatnya dengan kehidupan saya di tanah kelahiran saya. Namun saya bersyukur karena saya masih diberi kesempatan untuk menjalani kehidupan yang luar biasa. Hanya orang-orang yang terketuk hatinyalah yang mau ditempatkan di tengah hutan.
#salam sm3t unnes.
3 september 2015 22: 15 WIB
Berjumpa lagi dengan tulisan yang semoga bermanfaat untuk kehidupan selanjutnya.
Minggu, 6 September 2015
Hari ini saya bangun pagi jam 3 lebih 30 untuk sholat sunat tahajud dan tidur bentar untuk sholat subuh. Kemudian habis solat subuh tidur lagi sampai jam 7. Sudah bolak balik bangun tidur, tidur lagi rasanya pusing ni kepala. Kuputuskan untuk bangun dan beranjak dari tempat tidurku. Kubuka pintu depan rumah dinas yang terbuat dari papan-papan kayu besi. Udaranya begitu segar. Terlihat warga kuola pade yang sedang berjalan untuk beraktivitas seperti biasanya. Ada yang berladang, bekerja di pabrik kelapa sawit dan adapula yang mencari sayur di tengah hutan. Saya suka melihat aktivitas warga di sini yang dipenuhi kesibukan akan tetapi saya benci dengan perilaku mereka yang enggan untuk memperhatikan perkembangan belajar anak mereka. Untuk masalah uang tak masalah karena saya lihat mereka sudah kebanjiran uang. Tetapi untuk masalah kasih sayang masih kurang sekali. Anak-anak dibiarkan seperti itu saja, bermain dan terus bermain. Mereka tidak pernah memperhatikan apakah anak saya bisa dengan pelajaran ini dan itu. Kadang saya merasa gimana gitu, tugas kita sebagai guru ya hanya di sekolah. Kalau di rumah adalah tugas orang tua untuk membantu anak-anaknya belajar agar mereka termotivasi untuk sekolah. Sudahlah ini sudah menjadi adat orang-orang kuala pade yang hanya mementingkan uang uang dan uang. Dari perjalanan hidup orang-orang sepele saya jadi bisa belajar bagaimana kelak ketika saya mengemban tugas menjadi ibu. Saya harus memperhatikan perkembangan anak saya dengan baik. Bekerja boleh boleh saja, akan tetapi anak juga harus diperhatikan agar tidak seenaknya saja.
Lanjut yaa..
Pagi tadi, sengaja saya berjalan-jalan pagi karena begitu bosannya di kos. Sudah pernah saya bilang kan, saya tidak betah kalau Cuma nganggur saja dan sudah pernah saya curhati juga kalau aku sudah bosan menjadi anak kos. Tapi bagaimana lagi, pekerjaan di sini menuntut saya untuk kembali menjadi anak kos. Sedikit berbeda sih dengan kehidupan saya 4 tahun silam ketika masih di kota Tegal. Di sini saya dipenuhi kesibukan mengajar anak-anak saya. Namun, saya masih rindu rumah saya. Kampung halaman saya, karena di sana saya bisa membantu ibu saya mencukupi kehidupan keluarga. Kalau masih diberi kesempatan untuk hidup, saya ingin kembali ke Jawa dan hidup bersama ibu bapak adik-adik saya, dan suami saya. Masalah PNS, uang dan lain-lain saya tak masalah jika hanya digaji 150 rb perbulan yang penting saya bisa hidup disamping bapak ibu saya. Itu sudah cukup. Saya ingin berbakti kepada orang tuaku. Semoga bisa menjadi orang ketika saya kembali ke Jawa. Hmmm...
Semoga 365 hari tidaklah lama dan semoga terlalui dengan baik. Demi mengejar mimpi saya untuk mengajar anak-anak seperti mereka semoga dipermudahkan oleh Alloh ketika menerangkan. Jujur saya masih merasa terbebani dengan status saya sebagai guru kelas 3. Saya harus bisa menjadikan mereka tau dan paham dengan apa yang kuterangkan. Semoga setelah curhat dengan kamu bisa meluluhkan perasaan terbebani saya. Amin amin amin
Pagi tadi, saya putuskan untuk keluar dari rumah dan menuju ke tempat sinyal. Saya ditemani Fathur, anak saya. Dia menemaniku mencari sinyal. Awalnya saya mau telpon Ibu saya, namun karena jaringannnya tidak mendukung, saya putuskan untuk sms saja dan sms teman teman saya. Setengah jam sudah saya di lapangan sinyal. Kemudian saya melanjutkan rasa penasaran saya, saya melanjutkan jalan-jalan menyusuri hutan. Di tengah jalan, saya, fathur dan Candra saya berjumpa dengan anak-anak lain yakni Bulan, Alba dan satunya. Saya diajak untuk mencari bunga durian untuk dimasak. Okeh kita berjalan menuju hutan mencari bunga durian. Alhamdulillah dapet banyak, bisa buat makan. Syukurlah saya dipertemukan dengan anak-anak yang menyayangi saya dan baik hati. Rasanya senang sekali bisa berpetualangan di hutan. Kehidupan baru buat saya, benar-benar baru.

Minggu, 13 September 2015
Hari ini saya kembali berhutan mencari sayur kembang durian untuk menyelamatkan diri karena di desa tempat saya mengabdi tidak ada penjual  sayuran. Teori survival yang dibekali selama prakondisi memang jitu, mulai dari menyalakan api dengan kayu bakar sampai mencari sayur yang bisa dimakan di hutan. Amazing live..
Saya bersama rekan saya, Ririn dan murid saya Arjun berhutan mulai jam 6 pagi dan pulang jam 7 pagi. Namun perjalannnya lama, hampir sejam bolak balik dan harus jalan kaki, karena tidak ada ojek apalagi angkot. Setelah  pulang, kami berdua memasak sayur tersebut dan membuat gorangan ikan teri. Wah, kami berdua tidak pernah memasaka ketika di rumah dan di sini harus memasak menggunakan kayu bakar pula. Sesuatu sekali...hehee
Akhirnya kamipu makan dengan lahapnya, apalah rasanya yang jelas harus dibilang enak biar tetep semngat masak. Judulnya kangen masakan jawa, karena kalau masakan kalimantan tidak memakai gula jawa, hanya cabai,garam,bawang merah putih dan masaku, berbeda sekali rasanya dengan masakan jawa.
Hari itu benar-benar pengalaman pertama kami masak, sebelumnya kami selalu dimanjakan oleh guru-guru lain dan kami hanya tinggall makan. Kali ini kami harus mencri sendiri dan memasak sendiri. Lebih enak rasanya karena penuh kerja keras,hehee
Setelah makan, kami tak bisa istirahat karena murid kami mengajak memancing di sungai kecil di tengah hutan. Okelah daripada tidak ngapa-ngapa mending jalan aja mencari pengalaman baru di hutan. Wah ternyata kami belum beruntung kami tidak membawa pulang seekor ikanpun. Sedih si tapi kami tetap bahagia karena kami masih bisa makan jambu monyet di tengah hutan.hehee

Senin, 14 September 2015
Hari ini diajakin pak komite sekolah untuk melihat orang kerja ndompeng alias nyari intan dan emas. Wah seneng sekali, sesuatu yang sudah lama aku inginkan akhirnya terwujud. Alhamdulillah..dahulu Cuma bisa melihat di layar televisi pekerjaan orang mencari emas tapi sekarang saya bisa mencobanya sendiri secara langsung. Banyak hal yang dapat kupetik dari pengalaman hidupku mengikuti kerja ndompeng. Salah satunya saya bisa belajar bagaimana menghilangkan rasa malu dengan segenap profesi kita. Saya belajar dari pemuda desa yang pekerjaannya ndompeng intan dan emas. Mereka tidak pernah malu bekerja keras mencukupi kebutuhan keluarga walaupun harus berkotor-kotoran karena memang kerja ini penuh dengan kotor. Seluruh badan kita terkena lumpur tanah. Namun sangat disayangkan, mereka lupa akan kewajibannya menjadi orang muslim yaitu shoat. Mereka tidak melaksanakan sholat duhur karena mereka tidak pulang ke rumah. Pulangnya sore sekalian setelah dapat yang dicari dan hari sudah mulai sejuk. Begitulah ada yang namanya plus dan minusnya.
Masih tentang ndompeng yaa..
Ternyata ada dua tahap untuk mendapatkan sebutir emas kecil yang imut-imut. Pertama, pengeboran. Pada tahap ini tanah dibor sedemikian rupa sehingga sampai ke kerak tanah. Tahap ini membutuhkan proses yang lama hampir 2 jam. Setalah itu, ada tahap kedua yaitu ndompeng. Ndompeng itu adalah memisahkan emas dengan pasir dan batu-batu kecil. Tahap ini membutuhkan kejelian ekstra karena emasyang didapatkan bentuknya relatif kecil sekali. Harus ddisuntik dengan raksa terlebih dahulu agar terlihat jelas emasnya. Begitulah rangkaian tahap mencari emas. Salut sama para pekerja keras yang berjuang demi mendapatkan sebutir emas.
Walaupun bumi pertiwi menangis, tetapi lebih sengsara jika anak bangsa menangis karena kelaparan.
Semoga perjalanan kali ini menginspirasi teman-teman untuk pergi menengok saudara kita di Borneo. :-)
Selasa, 15 September 2015
Saya bersama rekan saya menghias kelas 3 dan 5. Anak-anak meminta agar kelasnya dirias supaya lebih semangat belajar. Akhirnya dengan jerih payah, mengeluarkan ide kreatif jadilah pohon keluarga dan riasan kelas seadanya. Maklum saya tidak banyak tergolong sebagai orang kreatif. Heheea
Terimakasih sahabat baru saya yang telah memberikan motivasi menjadi kreatif.. :-)

Rabu, 16 September 2015
Saya pergi ke bukit sinyal, maklum sudah lama tak bisa online. Namun, tak bisa online, sinyal terlalu sulit didapatkan. Bisanya Cuma smsan. Dan setelah itu kita mencari sayuran di hutan untuk makan siang dan sore. Dapatlah daun ubi dan lembiding. Senang sekali rasanya bisa cari sayur dan masak sendiri.. hehehee
Tetap mensyukuri pemberian Alloh SWT.
Bulan ketiga di masa kontrak kerja..
Di bulan November ini sungguh berbeda dengan dua bulan sebelumnya. Kini kurasakan sepi yang membara. Dahulu sebelum mereka ada yang menyatakan cinta, hati terasa senang menikmati indahnya dunia. Namun, kini di saat aku sudah senang menjalani kewajibanku mendidik anak bangsa, mereka hlang tanpa kabar seolah tak pernah kenal. Kadang aku merasa sedih mengapa jadi begini. Tapi, kata temanku bulatkan niat,. Niat kamu di situ untuk mendidik anak bangsa bukan mencari lelaki. Oyaya, itu hanya selingan belaka. Kalau dateng ya berarti mereka masih menganggap saya sebagai teman dna kalau tidak ya sudah gak papa, yang penting selalu senang mengajar anak-anak. Udah itu aja. Gak perlu banyak kata yang jelas aku menerima takdir Alloh dengan lapang dada. Kuserahkan semuanya kepada Alloh setelah aku berusaha semampuku. Bulatan niat dan tekad di tanah Borneo..

No comments:

Post a Comment

KONEKSI ANTAR MATERI KESIMPULAN DAN REFLEKSI MODUL 1.1

  Ki Hajar Dewantara merupakan sosok yang sangat pantas mendapatkan julukan sebagai Bapak Pendidikan. Beliau tidak pernah merasa putus asa u...