Tak pernah sebelumnya terlintas di pikiranku akan
ditempatkan di sini. Menurut informasi dari kakak angkatan yang dulunya
ditempatkan di tetangga desa itu mengatakan bahwa desa itu berpenduduk dari
suku melayu. Syukur alhamdulillah kalau memang benar. Ternyata memanglah benar
mayoritas beragama islam, namun ada beberapa yang beragama kristen. Tidak
jarang terlihat anjing yang berlarian ke sana ke mari. Alhamdulillah di sini
saya masih bisa sholat berjamaah seperti kebiasaanku di rumah. Masjidnya dekat
hanya 3 menit sudah sampai. Pertama saya jamaah, hanya saya perempuan tertua
yang menjadi makmum sholat sisanya anak-anak yang notabenenya murid saya. Meskipun
di sini mayoritas islam, namun sedikit beda dengan di Jawa. Kalau di Jawa
islamnya sudah kental, kalau di sini masih begitulah tak usah diungkapkan saja.
Bicara tentang sekolah. Saya bersyukur sekali karena
sekolahnya ada di depan rumah dinas, tak butuh waktu lama untuk jalan
kaki, tak perlu motor untuk berangkat ke
sekolah. Tinggal keluar rumah sampailah di depan sekolah. Guru-gurunya masih
muda dan saya ditugaskan untuk menjadi wali kelas III. Sebuah pengalaman baru
dan harus saya selesaikan dengan baik tugas ini. Sebelumnya saya hanya menjadi
guru biasa, tak menjadi seperti ini. Lama tak mengajar rasanya canggung juga
ternyata. Ah, yang penting saya harus terbiasa menghadapi anak-anak yang
berbeda dan menjadi sahabat mereka ketika di luar kelas.
Anak-anak yang luar biasa, dikatakan luar biasa karena
di kelas saya ada 2 orang anak berkebutuhan khusus. Yang satu sudaha 4 tahun
tinggal kelas 1 dan langsung dinaikkan ke kelas 3. Habet bukan, akselerasi.
Kalau yang satunya cewe namanya Dena. Bisa dikatakan dia lama mikirnya, lambat
mikirnya. Kalau nulis, bisa sejam untuk 6 baris. Bisa diabyangkan. Murid saya
ada 14 anak, itu percampuran dari yang kelas 2 sama kelas 1. Nah, bagaimana
kognitifnya. Saya harus bersabar sekali. Karena tidak sedikit dari mereka yang
belum mampu membaca dengan lancar. Masih dalam taraf mengeja.. :-( , sudah
kelas 3 loo.. #tapi saya bersyukur mereka hafal yang namanya huruf dan angka.
Cuma seorang taddi yang laki-laki bernama Inul dia mau nulis angka 5 yang
ditulis angka 6 dan kalian tau ketika kutanya 5 + 0 berapa hasilnya,, jawabannya
0. #tepuk jidat...
Hari pertama ngajar rasanya pengin teriak-teriak harus
memutar otak untuk mengajar mereka. Ada yang sangat pintar dan ada yang sangat
lambat.. Coba gimana...
Ketika yang cepat nangkep dah selesai mereka langsung
mainan dan mengganggu teman lain yang lambat mikirnya. Dan sebuah strategi baru
kujalankan, ketika mereka dah selesai kuberi sebuah lagu dan kutulis di papan
tulis kemudian disuruhlah mereka mencatatnya.
Batere habis, sambung besok lagi yaaa :-)
Oke deh sambung lagi yaa...
Kemarin sampe apa yaa... wah sampe lupa...
Cerita lagi ni tentang ngajar di sd, sesuatu sekali
pokoknya...
Murid-murid yang beranekaragam bentuknya, karakternya
dan semuanya berbeda, tetapi aku senang
bertatap muka dengan mereka karena bagiku mereka adalah objek yang membuat
duniaku bisa maju dan tertawa. Keberhasilanku dalam mengajar akan sangat
terlihat jelas ketika mereka berhasil menangkap materi yang kuberikan. Dan
inilah tantangan buat saya untuk
membuktikan kalau aku bisa. Aku harus bisa menguasai materi pelajaran
dan memberikan ilmu kpada siswa saya. Ketika mereka mudeng dan merasa senang
dengan apa yang saya ajarkan, akan senang sekali saya.
Hari ketiga di sekolah, saya mengajar pramuka kelas 2
dan 3. Wahwah, anak-anak kecil semua. Blang, tak tau entahlah apa yang harus
kuajarkan. Ting. Langsung aku berpikir untuk mengajarkan mereka nyanyi lagu
andalan kakak kelas ketika kuliah dulu. Ternyata anak-anak merasa senang
mendapatkan lagu saya, walaupun ada satu dua anak yang masih berisik aja ketika
saya menyampaikan lagu itu. Saya senang bisa berjumpa dengan mereka.
Untuk kesekian kalinya aku katakan hidupku sekarang di
tengah-tengah hutan, dan aku tak tahu kemana arah jalan menuju desa tetangga,
karena apa? Ketika kuberjalan di ujung desa yang saya tempati sekarang adalah
hutan dan paling belakangnya sungai air besar dan memang bener-bener besar
sungainya. Hidup di pertengahan hutan dengan kondisi yang seperti itulah.
Mencari sinyal untuk menelpon keluarga di rumah sangat membutuhkan perjuangan
ekstra. Harus berjalan menyusuri bukit di atas desa saya. Dan ketika ada sinyal
satu itu belum bisa buat menelpon, masih terputus-putus kalau telpon keluarga.
Entahlah aku tak habis pikir bisa begitu. Tau gak jarak satu desa dengan desa
lainnya itu seperti kabupaten di tanah kelahiran saya. Di sini, hutan
semuanyalah kalau kubilang. Saya bersyukur masih bisa merasakan alaminya alam
yang tak tersentuh polusi seperti di kota-kota sana.
Hmm, masalah makanan, harus kuacungi jempol orang
sini. Kalau di rumah saya, sayuran yang biasa saya masak di sini sudah menjadi
makanan sehari-hari kambing, sapi, atau hewan ternak lainnya, tapi kalau di
sini, saya makanlah semua sayuran itu. Antara doyan dan laper mungkin.
Kebanyakan lapernya.hahahaha.. Rasanya beda banget sama masakan ibu di rumah.
Di sini makanan tak dikasih gula merah. Rasanya semuanya asin, pedes, gurih..
aku rindu gula merah.. masakan ibu di rumah, dan tahukah ibu ketika saya makan
saya selalu mengingat ibu agar bisa makan banyak..
Bersambung lagi yaa...
Hari ke-5 aku menjadi orang baru di desa kecil ini,
rasanya kayak mimpi. Rasanya aku masih di Jawa, tanah kelahiranku. Namun ketika
kuterbangun ternyata di sinilah kumengabdikan diriku selama setahun di Kampung
Kuala Pade ini. Aku bangun menyambut mentari pagi. Malam lalu kutak bisa tidur
karena aku tak terbiasa nongkrong. Di basecamp ku hampir setiap malam pemuda,
guru-guru di sini nongkrong semua. Sesuatu yang tak pernah kulakukan dan yang
tak kusenangi. Aku tak suka nongkrong. Iya memang bagus, bisa saling bernyanyi,
gitaran, tapi aku tak suka. Aku lebih senang duduk di depan laptop memainkan
laptopku, menulis-nulis sesuatu yang kuinginkan, menonton film dan lain
sebagainya. Yang jelas sekali tidak suka ya tidak suka, itu bukan akuu.
Sudahlah orang mau bilang apa yang jelas aku tak suka, daripada kuterkekang di
ruangan itu lebih baik aku pergi kembali ke kamarku. Hm, tapi efek suara gitar
dan nyanyian yang begitu keras aku tak sanggup memejamkan mata, terlalu
terngiang-ngiang di telingaku. Sampai akhirnya aku bisa terlelap dalam tidur
malamku sekitar jam satu lebih. Dan jam tengah 6 aku sudah tidak sanggup untuk
bersama kasur merah. Aku bergegas mandi pagi untuk memulai aktivitas seperti
biasanya. Mengajar adalah pekerjaanku. Saya akui pekerjaan saya membutuhkan tanggung
jawab ekstra karena pemikiran mereka masih rendah. Kuakui pemikiran anak-anak
di sini masih sangat rendah melebihi anak kelas satu di pulauku. Ya sudahlah
mau bagaimana lagi keadaannya sudah seperti ini. Aku hanya bisa berusaha
memberika yang terbaik untuk mereka. Walaupun anak-anakku seperti itu tetapi
saya yakin mereka menyayangiku. Harus cara apa lagi yang kulakukan, pemikiran
mereka masih tetep seperti itu. Di kelas saya ada 3 anak yang menurut saya
pantas dimasukkan dalam golongan anak berkebutuhan khusus. Karena anak-anak ini
berbeda dari yang lain. Abk dengan tipe hiperaktif yakni Aryo. Dia pinter
tetapi bener-bener hiperaktif. Ketika jam pelajaran dimulai dia sering ribut
sendiri dan sering membuat masalah sampai-sampai temannya menangis. Abk yang
kedua bernama Inul, dia itu abk tipe pemikirannya pendek, wajahnya terlihat
kurang optimis, kurang semangat namun aku suka dia karena dia pendiam dan mudah
diatur. Abk yang ketiga bernama Jepri. Dia anaknya terlihat ngantukan,
pemikirannya juga pendek. Wajahnya seperti orang bingung. Lengkap sudah
murid-muridku semua. Saya harus bersabar menghadapi mereka.
Anak-anak, mungkin mereka menganggap aku sebagai teman
atau sahabat dan efeknya kurang dihormati. Mereka berisik dan sering membuat
ulah di kelas. Dan hampir seminggu saya tak tahu langkah apa yang harus
kulakukan. Begitu pusing kepala saya memikirkkan mereka, apalagi penguasaan
materi yang kurang dari mereka. Di kelas saya ada 14 orang, yang 6 orang asli
memang dari kelas 2 dan sisanya 8 orang merupakan naik secara otomatis dari
kelas 1 ke kelas . hebat bukan.. eits,
hebat banget pokoknya. Kalian tahu, yang 8 orang ini sudah tinggal di kelas 1
selama 3- 4 tahun. Makannya pak guru dan bu guru berinisiatif untuk menaikkan
ke-8 orang ini ke kelas 3. Wah sesuatu sekali buat saya. Terlebih lagi ada
seorang anak yang bener-bener membaca pun belum bisa. Saya harus gimana, itu
anak saya. Saya harus bertanggungjawab dengan masa depannya. Saya dikatakan
berhasil mengajar jika dia sudah bisa sedikit-sedikit membaca dan saya akan
merasa senang. Untuk menulis memang sangat rajin menulis. Saya akui, dia tidak
pernah ketinggalan ketika menulis. Sayangnya dia belum bisa membaca. :-(
Saya sangat merasa sedih padahal dia itu rajin. Tapi ini memang
sudah kuasa saang illahi. Ada kelebihan yang tersembunyi dibalik sebuah
kekurangan yang terlihat oleh mata. Semoga saya bisa menjadi guru yang baik dan
disayangi mereka sehingga bisa mencerdaskan mereka. Amin..
Aku ingin menjadi orang yang berguna dan benar-benar menjelaskan
dengan baik di depan anak-anak sehingga mereka pandai dan mampu memahami semua
penjelasan saya dengan baik. Saya menyayangi mereka dan akan selalu
menyayanginya karena mereka adalah generasi penerus yang membutuhkan sentuhan
tangan ekstra dari kita, guru-guru yang mengajar dengan hati. Doakan saya ya
bisa selalu ada untuk mereka dan menjadi yang terbaik untuk mereka. Aku ingin
menangis ketika mereka tak semangat mengikuti pelajaran saya. Aku ingin
menangis ketika mereka tak menghormati saya dan aku sangat ingin menangis
ketika mereka tak paham dengan apa yang saya jelaskan. Sebaliknya saya merasa
senang sekali ketika mereka dapat dengan mudah menangkap penjelasan saya dengan
baik, semangat ketika belajar dan memeberikan sesuatu yang baik di depan mata
saya.
Seminggu di sini, saya merasa saya harus benar-benar membenahi diri
saya untuk menjaddi seseorang guru yang
baik. Guru yang bijak dan guru yang menyayangi anak-anak. Tidak ada penyesalan
ketika saya mengikuti program sm-3t. bagiku, tak ada pengalaman yang terbaik
ketika belum mencoba tantangan yang benar-benar nyata. Tidak hanya soal
mengajar di dalam kelas, namun bersosialisasi dengan tetangga sekitar rumah
dinas. Mereka adalah bagian dari hidup kita. Kembali kepada alam adalah motto
kita. Memang benar di sini saya benar-benar kembali kepada alam dimana apa-apa
harus mencari di hutan. Kehidupan yang baru buat saya. Dan harus saya jalani
dengan ikhlas. Insyaalloh berkah. Amin...
Di tempat ini, saya menyadari bahwa menyayangi alam adalah bagian
dari sebuah kehidupan dimana ketika saya tinggal di jawa tidak pernah saya
jumpai hutan yang sesungguhnya dan saat ini saya berada di tempat yang
benar-benar terletak di tengah hutan. Iya hutan. Kayak mimpi ya..
Inilah bagian dari hidup saya yang tak akan pernah saya lupakan
sampai akhir hidup saya. Ketika saya lapar, saya harus mencari makanan di hutan
terlebih dahulu sebelum memakannya karena di desa ini tidak ada penjual
sayuran. Beda sekali dengan di jawa. Bagiku semua yang ada di sini memang
benar-benar baru. Baik lingkuangannya, makanannya, kehidupannya dan adat
budayanya jauh sekali dekatnya dengan kehidupan saya di tanah kelahiran saya.
Namun saya bersyukur karena saya masih diberi kesempatan untuk menjalani
kehidupan yang luar biasa. Hanya orang-orang yang terketuk hatinyalah yang mau
ditempatkan di tengah hutan.
#salam sm3t unnes.
3 september 2015 22: 15 WIB
Berjumpa lagi dengan tulisan yang semoga bermanfaat untuk kehidupan
selanjutnya.
Minggu, 6 September 2015
Hari ini saya bangun pagi jam 3 lebih 30 untuk sholat sunat tahajud
dan tidur bentar untuk sholat subuh. Kemudian habis solat subuh tidur lagi
sampai jam 7. Sudah bolak balik bangun tidur, tidur lagi rasanya pusing ni
kepala. Kuputuskan untuk bangun dan beranjak dari tempat tidurku. Kubuka pintu
depan rumah dinas yang terbuat dari papan-papan kayu besi. Udaranya begitu
segar. Terlihat warga kuola pade yang sedang berjalan untuk beraktivitas
seperti biasanya. Ada yang berladang, bekerja di pabrik kelapa sawit dan
adapula yang mencari sayur di tengah hutan. Saya suka melihat aktivitas warga
di sini yang dipenuhi kesibukan akan tetapi saya benci dengan perilaku mereka
yang enggan untuk memperhatikan perkembangan belajar anak mereka. Untuk masalah
uang tak masalah karena saya lihat mereka sudah kebanjiran uang. Tetapi untuk
masalah kasih sayang masih kurang sekali. Anak-anak dibiarkan seperti itu saja,
bermain dan terus bermain. Mereka tidak pernah memperhatikan apakah anak saya
bisa dengan pelajaran ini dan itu. Kadang saya merasa gimana gitu, tugas kita sebagai
guru ya hanya di sekolah. Kalau di rumah adalah tugas orang tua untuk membantu
anak-anaknya belajar agar mereka termotivasi untuk sekolah. Sudahlah ini sudah
menjadi adat orang-orang kuala pade yang hanya mementingkan uang uang dan uang.
Dari perjalanan hidup orang-orang sepele saya jadi bisa belajar bagaimana kelak
ketika saya mengemban tugas menjadi ibu. Saya harus memperhatikan perkembangan
anak saya dengan baik. Bekerja boleh boleh saja, akan tetapi anak juga harus
diperhatikan agar tidak seenaknya saja.
Lanjut yaa..
Pagi tadi, sengaja saya berjalan-jalan pagi karena begitu bosannya
di kos. Sudah pernah saya bilang kan, saya tidak betah kalau Cuma nganggur saja
dan sudah pernah saya curhati juga kalau aku sudah bosan menjadi anak kos. Tapi
bagaimana lagi, pekerjaan di sini menuntut saya untuk kembali menjadi anak kos.
Sedikit berbeda sih dengan kehidupan saya 4 tahun silam ketika masih di kota
Tegal. Di sini saya dipenuhi kesibukan mengajar anak-anak saya. Namun, saya
masih rindu rumah saya. Kampung halaman saya, karena di sana saya bisa membantu
ibu saya mencukupi kehidupan keluarga. Kalau masih diberi kesempatan untuk
hidup, saya ingin kembali ke Jawa dan hidup bersama ibu bapak adik-adik saya,
dan suami saya. Masalah PNS, uang dan lain-lain saya tak masalah jika hanya
digaji 150 rb perbulan yang penting saya bisa hidup disamping bapak ibu saya.
Itu sudah cukup. Saya ingin berbakti kepada orang tuaku. Semoga bisa menjadi
orang ketika saya kembali ke Jawa. Hmmm...
Semoga 365 hari tidaklah lama dan semoga terlalui dengan baik. Demi
mengejar mimpi saya untuk mengajar anak-anak seperti mereka semoga
dipermudahkan oleh Alloh ketika menerangkan. Jujur saya masih merasa terbebani
dengan status saya sebagai guru kelas 3. Saya harus bisa menjadikan mereka tau
dan paham dengan apa yang kuterangkan. Semoga setelah curhat dengan kamu bisa
meluluhkan perasaan terbebani saya. Amin amin amin
Pagi tadi, saya putuskan untuk keluar dari rumah dan
menuju ke tempat sinyal. Saya ditemani Fathur, anak saya. Dia menemaniku
mencari sinyal. Awalnya saya mau telpon Ibu saya, namun karena jaringannnya
tidak mendukung, saya putuskan untuk sms saja dan sms teman teman saya.
Setengah jam sudah saya di lapangan sinyal. Kemudian saya melanjutkan rasa
penasaran saya, saya melanjutkan jalan-jalan menyusuri hutan. Di tengah jalan, saya,
fathur dan Candra saya berjumpa dengan anak-anak lain yakni Bulan, Alba dan
satunya. Saya diajak untuk mencari bunga durian untuk dimasak. Okeh kita
berjalan menuju hutan mencari bunga durian. Alhamdulillah dapet banyak, bisa buat
makan. Syukurlah saya dipertemukan dengan anak-anak yang menyayangi saya dan
baik hati. Rasanya senang sekali bisa berpetualangan di hutan. Kehidupan baru
buat saya, benar-benar baru.
Minggu, 13 September 2015
Hari ini saya kembali berhutan mencari sayur kembang durian untuk
menyelamatkan diri karena di desa tempat saya mengabdi tidak ada penjual sayuran. Teori survival yang dibekali selama
prakondisi memang jitu, mulai dari menyalakan api dengan kayu bakar sampai
mencari sayur yang bisa dimakan di hutan. Amazing live..
Saya bersama rekan saya, Ririn dan murid saya Arjun berhutan mulai
jam 6 pagi dan pulang jam 7 pagi. Namun perjalannnya lama, hampir sejam bolak
balik dan harus jalan kaki, karena tidak ada ojek apalagi angkot. Setelah pulang, kami berdua memasak sayur tersebut dan
membuat gorangan ikan teri. Wah, kami berdua tidak pernah memasaka ketika di
rumah dan di sini harus memasak menggunakan kayu bakar pula. Sesuatu
sekali...hehee
Akhirnya kamipu makan dengan lahapnya, apalah rasanya yang jelas
harus dibilang enak biar tetep semngat masak. Judulnya kangen masakan jawa,
karena kalau masakan kalimantan tidak memakai gula jawa, hanya
cabai,garam,bawang merah putih dan masaku, berbeda sekali rasanya dengan
masakan jawa.
Hari itu benar-benar pengalaman pertama kami masak, sebelumnya kami
selalu dimanjakan oleh guru-guru lain dan kami hanya tinggall makan. Kali ini
kami harus mencri sendiri dan memasak sendiri. Lebih enak rasanya karena penuh
kerja keras,hehee
Setelah makan, kami tak bisa istirahat karena murid kami mengajak
memancing di sungai kecil di tengah hutan. Okelah daripada tidak ngapa-ngapa
mending jalan aja mencari pengalaman baru di hutan. Wah ternyata kami belum
beruntung kami tidak membawa pulang seekor ikanpun. Sedih si tapi kami tetap
bahagia karena kami masih bisa makan jambu monyet di tengah hutan.hehee
Senin, 14 September 2015
Hari ini diajakin pak komite sekolah untuk melihat orang kerja
ndompeng alias nyari intan dan emas. Wah seneng sekali, sesuatu yang sudah lama
aku inginkan akhirnya terwujud. Alhamdulillah..dahulu Cuma bisa melihat di
layar televisi pekerjaan orang mencari emas tapi sekarang saya bisa mencobanya
sendiri secara langsung. Banyak hal yang dapat kupetik dari pengalaman hidupku
mengikuti kerja ndompeng. Salah satunya saya bisa belajar bagaimana
menghilangkan rasa malu dengan segenap profesi kita. Saya belajar dari pemuda
desa yang pekerjaannya ndompeng intan dan emas. Mereka tidak pernah malu
bekerja keras mencukupi kebutuhan keluarga walaupun harus berkotor-kotoran
karena memang kerja ini penuh dengan kotor. Seluruh badan kita terkena lumpur
tanah. Namun sangat disayangkan, mereka lupa akan kewajibannya menjadi orang
muslim yaitu shoat. Mereka tidak melaksanakan sholat duhur karena mereka tidak
pulang ke rumah. Pulangnya sore sekalian setelah dapat yang dicari dan hari
sudah mulai sejuk. Begitulah ada yang namanya plus dan minusnya.
Masih tentang ndompeng yaa..
Ternyata ada dua tahap untuk mendapatkan sebutir emas kecil yang
imut-imut. Pertama, pengeboran. Pada tahap ini tanah dibor sedemikian rupa
sehingga sampai ke kerak tanah. Tahap ini membutuhkan proses yang lama hampir 2
jam. Setalah itu, ada tahap kedua yaitu ndompeng. Ndompeng itu adalah
memisahkan emas dengan pasir dan batu-batu kecil. Tahap ini membutuhkan
kejelian ekstra karena emasyang didapatkan bentuknya relatif kecil sekali.
Harus ddisuntik dengan raksa terlebih dahulu agar terlihat jelas emasnya.
Begitulah rangkaian tahap mencari emas. Salut sama para pekerja keras yang berjuang
demi mendapatkan sebutir emas.
Walaupun bumi pertiwi menangis, tetapi lebih sengsara jika anak
bangsa menangis karena kelaparan.
Semoga perjalanan kali ini menginspirasi teman-teman untuk pergi
menengok saudara kita di Borneo. :-)
Selasa, 15 September 2015
Saya bersama rekan saya menghias kelas 3 dan 5. Anak-anak meminta
agar kelasnya dirias supaya lebih semangat belajar. Akhirnya dengan jerih
payah, mengeluarkan ide kreatif jadilah pohon keluarga dan riasan kelas
seadanya. Maklum saya tidak banyak tergolong sebagai orang kreatif. Heheea
Terimakasih sahabat baru saya yang telah memberikan motivasi menjadi
kreatif.. :-)
Rabu, 16 September 2015
Saya pergi ke bukit sinyal, maklum sudah lama tak bisa online.
Namun, tak bisa online, sinyal terlalu sulit didapatkan. Bisanya Cuma smsan.
Dan setelah itu kita mencari sayuran di hutan untuk makan siang dan sore.
Dapatlah daun ubi dan lembiding. Senang sekali rasanya bisa cari sayur dan
masak sendiri.. hehehee
Tetap mensyukuri pemberian Alloh SWT.
Bulan ketiga di masa kontrak kerja..
Di bulan November ini sungguh berbeda dengan dua bulan sebelumnya.
Kini kurasakan sepi yang membara. Dahulu sebelum mereka ada yang menyatakan
cinta, hati terasa senang menikmati indahnya dunia. Namun, kini di saat aku
sudah senang menjalani kewajibanku mendidik anak bangsa, mereka hlang tanpa
kabar seolah tak pernah kenal. Kadang aku merasa sedih mengapa jadi begini.
Tapi, kata temanku bulatkan niat,. Niat kamu di situ untuk mendidik anak bangsa
bukan mencari lelaki. Oyaya, itu hanya selingan belaka. Kalau dateng ya berarti
mereka masih menganggap saya sebagai teman dna kalau tidak ya sudah gak papa,
yang penting selalu senang mengajar anak-anak. Udah itu aja. Gak perlu banyak
kata yang jelas aku menerima takdir Alloh dengan lapang dada. Kuserahkan
semuanya kepada Alloh setelah aku berusaha semampuku. Bulatan niat dan tekad di
tanah Borneo..
No comments:
Post a Comment