Selamatkan Burung
Bel tanda berakhirnya
pelajaran telah berbunyi. Kegembiraan tampak jelas di raut muka siswa kelas dua
SDN Pondok Wringin. Anak-anak bersiap-siap untuk pulang ke rumah, termasuk
Fais. Fais berjalan kaki menuju rumahnya
di seberang jalan bersama ketiga temannya. Mereka berjalan dengan hati-hati dan
pelan-pelan.
Fais melihat rumah burung emprit tergeletak
di pinggir jalan. Sontak, Fais berteriak memanggil ketiga temannya.
“ Hey, kawan. Ada anak burung emprit di
sini. Ayo ke sini” teriak Fais kepada temannnya. Dengan segera ketiga temannya
menghampiri dia.
“Mana, mana” ujar Rizky.
“ Ini, lucu banget. Cantik pula
burungnya” sanggah Fais dengan muka penuh senyuman sembari menatapi burung
cantik itu.
“ iya, lucu. Anak burungnya lucu sekali”
kata Andi.
“ Iya, aku pengin bawa pulang. Buat
temen mainku” kata Dika menambahkan. Wajahnya penuh keceriaan sambil memandangi
anak burung kecil itu.
Mereka saling tertawa dan bergurau
bahagia. Akan tetapi, mereka kasihan melihat anak burung yang ditinggal pergi
induknya.
“ Hmm. Di mana ibu burungnya yaa. Kasian
..” ucap Fais.
“Iya, kasian? Bagaimana kalo kita bawa ke rumah saja” ucap Dika.
“ iya , boleh. Ide yang bagus. Ayo kita
bawa ke rumahku. Di rumahku ada sangkar burung yang sudah tak terpakai, namun
masih bagus. Kayaknya, bisa dijadikkan rumah buat burung cantik ini.”ujar fais
sembari menawarkan diri membawa burung itu ke rumahnya.
Mereka membawa burung
kecil itu ke rumah fais. Mereka berjalan menyusuri jalan yang berliku. Melewati
jalan kecil perbatasan antar desa. Suasananya tenteram dan tak banyak kendaraan
berlalu lalang. Pepohonan di kanan kiri jalan masih hijau menenangkan hati.
Udara masih bebas dan belum terpolusi. Mereka berjalan dengan santainya.
Bergembira pula karena mendapatkan satu burung emprit yang lucu.
Sesaat kemudian, sampailah mereka di
rumah Fais.
“ Assalamualaikum” ucap fais sambil mengetuk
pintu. Tiga kali Fais memanggil orang di rumah, akhirnya sang kakak, Bayu
membukakan pintu.
“ Iya, wa’alaikumsalam” ucap bayu sambil
membukakan pintu. Bayu terpana dengan burung cantik itu.
“ Fais, itu burungnya siapa? Kamu dapat darimana
burung itu ? Burungnya cantik sekali,hehehe “ ucap Bayu yang merasa terkagum
pada burung itu.
“ Burung kami kakak, tadi sewaktu kami
pulang sekolah, dipertengahan jalan kami menemukan burung cantik ini kak.
Cantik kan? Heheh..” Ucap fais pada kakaknya.
Bayu hanya tersenyum mendengar jawaban
adek kecilnya itu.
“ Kukira kamu dapet dari mana, yang
penting halal kan burung itu. Nanti bisa buat dibikin sate burung, hehehe” Ledek bayu pada fais dan teman-temannya.
“ Ah, kakak jahat, jangan dong, inikan
burung temuan kami, kasihan tau kak, udah gak punya ibu kak. Malahan mau
dibikin sate” celutuk Fais dengan muka sedikit murung pada kakaknya. Padahal,
bayu hanya bercanda dan tak ada maksud menykiti hati fais. Namun, maklumlah
anak kecil susah diajak bercanda.
“ Ya , iya, kakak tahu kok. Kakak tadi
kan Cuma bercanda dek. Ih, senyum dong. Jangan ditekuk mulu mukane. Ayo, mana senyumnya. Yuk Keep Smile” Ucap Bayu dengan harapan fais tak marah lagi
dengannya. Sambil mencubiti pipi adeknya.
“ Iya, kakak. Ih, kakak jahat.” Gumam
Fais padanya sambil berusaha menjauhi cubitan Bayu.
“ Ayo, masuk ke dalam. Fais ajak
temen-temenmu tuh” seru Bayu. Sementara Bayu kembali menuju kamarnya.
Fais hanya menganggukan kepala tanda
paham dengan perintah kakaknya.
“ Ayo, masuk kawan. Sebentar saja, udah
di rumahku tanggung kalau gak masuk. Ayolah. Dika, ajakin mereka dong” ajak
fais pada teman-temannya dan meminta Dika membujuk temannya yang lain agar mau
masuk.
“ Iya, sebentar saja ya? Ibuku udah
nungguin aku. Nanti dimarahin kalau gak pulang-pulang. “ gumam Andi.
“ Iya, akupun begitu. Aku harus membantu
Ibuku memandikan sapi sama mencari rumput.” Ucap Rizky.
“ Ya udah sebentar aja,” pinta fais pada
teman-temannya.
“ Ayo duduk dulu. Aku mau ambil sangkar
burung di belakang rumah. Kebetulan bapak punya banyak koleksi sangkar burung.
Jadi bisa dipaakai buat rumah burung cantik ini. Hehehe.
Bentar ya, kalian tunggu di sini
dulu.Oke”
Ucap fais sembari bergegas mengambil
sangkar burung di belakang rumah.
Sementara teman-temannya masih berada di ruang tamu
sembari memainkan burung cantik itu.
“ Cantik ya burungnya, mamang bener apa
kata kak Bayu. Karena burung ini cantik kita harus menjaganya , kasihan juga ya
kan udah gak punya ibu. Hidupnya sebatang kara. Kita harus merawatnya. “
ucap Dika pada kedua temannya.
“ Iya, betul banget dika. Kita harus
menjaganya. Apapun yang terjadi, kita harus bisa”
Sambung Reza.
Rafi hanya mengangguk pertanda setuju
dengan perkataan kedua temannya itu.
“ Rafi, kenapa menganguk-angguk gitu,
senyum-senyum sendiri pula. “ ujar Dika.
“ Hehehe, pemikiran kalian memang benar,
kita harus menjaganya. Bersama-sama “
“ Nah , gitu dong, jangan diam melulu
sambil manggut-manggut gitu. Entar dikira gak waras lo.” gumam reza.
“ Hey, ada apa? Kok ribut . Tadi, pas
kutinggalin kalian anteng aja sekarang malahan ribut. Hehehe” ucap Fais yang
tiba-tiba datang dari dalam rumah.
Mereka bertiga hanya tertawa dan saling
menatap satu sama lain.
“ Ditanyain malahan pada diem aja. Ya udah
ayo kita kerjain tugas kita selanjutnya, memasukkan burung cantik itu di
sangkar ini, ayo. Kalian mau cepet pulang kan?lebih cepat lebih baik. Ayo ..” Ajak
fais pada mereka.
“ Ayo”
Mereka saling membantu memasukkan burung
ke dalam sangkar. Ada yang membuka pintu sangkar burung, memegang burung, ada
yang menyiakan tempat tidur burung dan adapula yang menyiapkan makanan untuk
burung. Kerjasama mereka begitu kuat. Saling gortong royong untukmenyelamatkan
burung dan mencoba menjaganya. Gelak tawa dan bercanda pun membuat suasana
rumah fais menjadi tak begitu tegang.
Beberapa menit kemudian, mereka selesai
mengerjkannya.
“ Alhamdulillah, sudah selesai.” Ucap
Dika dengan suara lantangnya. Wajahnyanampak lebih seneng dan sumringah.
“ iya, tidak sia-sia ya kita
menghabiskan waktu setengah jam untuk merapikan sangkar burung cantik” Ujar
Reza seraya menambahkan perkataan Dika.
“ Hore, akhirnya selesai juga kawan,
berarti kita sudah boleh pulang. Heheheh” ucap Rizky dengan nada yang begitu
bahagia.
“ Hehehee, iya, alhamdullih kawan.
Pekerjaan kita menjadi mudah dan cepat selesai jika dikerjakan bersama-sama ya
kawan. Aku bangga punya teman seperti kalian. “ gumam Fais.
“ Iya, kalian boleh pulang sekarang.
Tapi, ....”
“Apalagi, Fais” Ucap Andi
“ Habiskan minum kalian terlebih dahulu.
Oke”
“ Ohoh, oke baiklah, apapun yang
mempercepat pulang ke rumah, akan kulakukan. Iya gak? Dika, Rizky, hehehe..”
Mereka saling tersenyum dan bercanda
gurau. Sembari menikmati minuman yang telah disiapkan.
“ Minumannya sudah habis. Ayo kita
pulang..”
“ Ayo, kami pulang dulu ya Fais. Besok
setelah pulang sekolah kami ke rumah mu lagi menengok burung cantik.”
“ Iya, dijaga lo burungnya. Awas kalau
mati. Hehehe”
“ Iya, oke. Aku kan menjaganya. Tenang
saja teman. Terimakasih ya sudah bekerja bersama-sama.”
Mereka beranjak dari tempat duduknya
dan menuju pintu keluar rumah. Fais pun
mengantarkan mereka sampai depan rumah.
“ Daa, fais. Sampai ketemu besok, dijaga
bener-bener ya burungnya. Kami percaya sama kamu” Gumam Rizky.
“ Iya, tenang kawan. Aku akan selalu
menjaganya”
“ Oke, assalamualaikum”
“ Walaikumsalam, hati-hati di jalan ya
kawan.”
No comments:
Post a Comment