Wednesday, April 16, 2014

Cerpen Anak




 Selamatkan Burung

Bel tanda berakhirnya pelajaran telah berbunyi. Kegembiraan tampak jelas di raut muka siswa kelas dua SDN Pondok Wringin. Anak-anak bersiap-siap untuk pulang ke rumah, termasuk Fais.  Fais berjalan kaki menuju rumahnya di seberang jalan bersama ketiga temannya. Mereka berjalan dengan hati-hati dan pelan-pelan.
Fais melihat rumah burung emprit tergeletak di pinggir jalan. Sontak, Fais berteriak memanggil ketiga temannya.
“ Hey, kawan. Ada anak burung emprit di sini. Ayo ke sini” teriak Fais kepada temannnya. Dengan segera ketiga temannya menghampiri dia.
“Mana, mana” ujar Rizky.
“ Ini, lucu banget. Cantik pula burungnya” sanggah Fais dengan muka penuh senyuman sembari menatapi burung cantik itu.
“ iya, lucu. Anak burungnya lucu sekali” kata Andi.
“ Iya, aku pengin bawa pulang. Buat temen mainku” kata Dika menambahkan. Wajahnya penuh keceriaan sambil memandangi anak burung kecil itu.
Mereka saling tertawa dan bergurau bahagia. Akan tetapi, mereka kasihan melihat anak burung yang ditinggal pergi induknya.
“ Hmm. Di mana ibu burungnya yaa. Kasian ..” ucap Fais.
“Iya, kasian? Bagaimana  kalo kita bawa ke rumah saja” ucap Dika.
“ iya , boleh. Ide yang bagus. Ayo kita bawa ke rumahku. Di rumahku ada sangkar burung yang sudah tak terpakai, namun masih bagus. Kayaknya, bisa dijadikkan rumah buat burung cantik ini.”ujar fais sembari menawarkan diri membawa burung itu ke rumahnya.
Mereka membawa burung kecil itu ke rumah fais. Mereka berjalan menyusuri jalan yang berliku. Melewati jalan kecil perbatasan antar desa. Suasananya tenteram dan tak banyak kendaraan berlalu lalang. Pepohonan di kanan kiri jalan masih hijau menenangkan hati. Udara masih bebas dan belum terpolusi. Mereka berjalan dengan santainya. Bergembira pula karena mendapatkan satu burung emprit yang lucu.
Sesaat kemudian, sampailah mereka di rumah Fais.
“ Assalamualaikum” ucap fais sambil mengetuk pintu. Tiga kali Fais memanggil orang di rumah, akhirnya sang kakak, Bayu membukakan pintu.
“ Iya, wa’alaikumsalam” ucap bayu sambil membukakan pintu. Bayu terpana dengan burung cantik itu.
“ Fais,  itu burungnya siapa? Kamu dapat darimana burung itu ? Burungnya cantik sekali,hehehe “ ucap Bayu yang merasa terkagum pada burung itu.
“ Burung kami kakak, tadi sewaktu kami pulang sekolah, dipertengahan jalan kami menemukan burung cantik ini kak. Cantik kan? Heheh..” Ucap fais pada kakaknya.
Bayu hanya tersenyum mendengar jawaban adek kecilnya itu.
“ Kukira kamu dapet dari mana, yang penting halal kan burung itu. Nanti bisa buat dibikin sate burung, hehehe”  Ledek bayu pada fais dan teman-temannya.
“ Ah, kakak jahat, jangan dong, inikan burung temuan kami, kasihan tau kak, udah gak punya ibu kak. Malahan mau dibikin sate” celutuk Fais dengan muka sedikit murung pada kakaknya. Padahal, bayu hanya bercanda dan tak ada maksud menykiti hati fais. Namun, maklumlah anak kecil susah diajak bercanda.
“ Ya , iya, kakak tahu kok. Kakak tadi kan Cuma bercanda dek. Ih, senyum dong. Jangan ditekuk mulu mukane.  Ayo, mana senyumnya. Yuk Keep Smile”  Ucap Bayu dengan harapan fais tak marah lagi dengannya. Sambil mencubiti pipi adeknya.
“ Iya, kakak. Ih, kakak jahat.” Gumam Fais padanya sambil berusaha menjauhi cubitan Bayu.
“ Ayo, masuk ke dalam. Fais ajak temen-temenmu tuh” seru Bayu. Sementara Bayu kembali menuju kamarnya.
Fais hanya menganggukan kepala tanda paham dengan perintah kakaknya.
“ Ayo, masuk kawan. Sebentar saja, udah di rumahku tanggung kalau gak masuk. Ayolah. Dika, ajakin mereka dong” ajak fais pada teman-temannya dan meminta Dika membujuk temannya yang lain agar mau masuk.
“ Iya, sebentar saja ya? Ibuku udah nungguin aku. Nanti dimarahin kalau gak pulang-pulang. “ gumam Andi.
“ Iya, akupun begitu. Aku harus membantu Ibuku memandikan sapi sama mencari rumput.” Ucap Rizky.
“ Ya udah sebentar aja,” pinta fais pada teman-temannya.
“ Ayo duduk dulu. Aku mau ambil sangkar burung di belakang rumah. Kebetulan bapak punya banyak koleksi sangkar burung. Jadi bisa dipaakai buat rumah burung cantik ini. Hehehe.
Bentar ya, kalian tunggu di sini dulu.Oke”
Ucap fais sembari bergegas mengambil sangkar burung di belakang rumah.
Sementara  teman-temannya masih berada di ruang tamu sembari memainkan burung cantik itu.
“ Cantik ya burungnya, mamang bener apa kata kak Bayu. Karena burung ini cantik kita harus menjaganya , kasihan juga ya kan udah gak punya ibu. Hidupnya sebatang kara. Kita harus merawatnya. “ ucap  Dika pada kedua temannya.
“ Iya, betul banget dika. Kita harus menjaganya. Apapun yang terjadi, kita harus bisa”
Sambung Reza.
Rafi hanya mengangguk pertanda setuju dengan perkataan kedua temannya itu.
“ Rafi, kenapa menganguk-angguk gitu, senyum-senyum sendiri pula. “ ujar Dika.
“ Hehehe, pemikiran kalian memang benar, kita harus menjaganya. Bersama-sama “
“ Nah , gitu dong, jangan diam melulu sambil manggut-manggut gitu. Entar dikira gak waras lo.” gumam reza.
“ Hey, ada apa? Kok ribut . Tadi, pas kutinggalin kalian anteng aja sekarang malahan ribut. Hehehe” ucap Fais yang tiba-tiba datang dari dalam rumah.
Mereka bertiga hanya tertawa dan saling menatap satu sama lain.
“ Ditanyain malahan pada diem aja. Ya udah ayo kita kerjain tugas kita selanjutnya, memasukkan burung cantik itu di sangkar ini, ayo. Kalian mau cepet pulang kan?lebih cepat lebih baik. Ayo ..” Ajak fais pada mereka.
“ Ayo”
Mereka saling membantu memasukkan burung ke dalam sangkar. Ada yang membuka pintu sangkar burung, memegang burung, ada yang menyiakan tempat tidur burung dan adapula yang menyiapkan makanan untuk burung. Kerjasama mereka begitu kuat. Saling gortong royong untukmenyelamatkan burung dan mencoba menjaganya. Gelak tawa dan bercanda pun membuat suasana rumah fais menjadi tak begitu tegang.
Beberapa menit kemudian, mereka selesai mengerjkannya.
“ Alhamdulillah, sudah selesai.” Ucap Dika dengan suara lantangnya. Wajahnyanampak lebih seneng dan sumringah.
“ iya, tidak sia-sia ya kita menghabiskan waktu setengah jam untuk merapikan sangkar burung cantik” Ujar Reza seraya menambahkan perkataan Dika.
“ Hore, akhirnya selesai juga kawan, berarti kita sudah boleh pulang. Heheheh” ucap Rizky dengan nada yang begitu bahagia.
“ Hehehee, iya, alhamdullih kawan. Pekerjaan kita menjadi mudah dan cepat selesai jika dikerjakan bersama-sama ya kawan. Aku bangga punya teman seperti kalian. “ gumam Fais.
“ Iya, kalian boleh pulang sekarang. Tapi, ....”
“Apalagi, Fais” Ucap Andi
“ Habiskan minum kalian terlebih dahulu. Oke”
“ Ohoh, oke baiklah, apapun yang mempercepat pulang ke rumah, akan kulakukan. Iya gak? Dika, Rizky, hehehe..”
Mereka saling tersenyum dan bercanda gurau. Sembari menikmati minuman yang telah disiapkan.
“ Minumannya sudah habis. Ayo kita pulang..”
“ Ayo, kami pulang dulu ya Fais. Besok setelah pulang sekolah kami ke rumah mu lagi menengok burung cantik.”
“ Iya, dijaga lo burungnya. Awas kalau mati. Hehehe”
“ Iya, oke. Aku kan menjaganya. Tenang saja teman. Terimakasih ya sudah bekerja bersama-sama.”
Mereka beranjak dari tempat duduknya dan  menuju pintu keluar rumah. Fais pun mengantarkan mereka sampai depan rumah.
“ Daa, fais. Sampai ketemu besok, dijaga bener-bener ya burungnya. Kami percaya sama kamu” Gumam Rizky.
“ Iya, tenang kawan. Aku akan selalu menjaganya”
“ Oke, assalamualaikum”
“ Walaikumsalam, hati-hati di jalan ya kawan.”


No comments:

Post a Comment

KONEKSI ANTAR MATERI KESIMPULAN DAN REFLEKSI MODUL 1.1

  Ki Hajar Dewantara merupakan sosok yang sangat pantas mendapatkan julukan sebagai Bapak Pendidikan. Beliau tidak pernah merasa putus asa u...