Empat tahun sudah aku
meninggalkan kampung halamanku untuk melanjutkan studi di Al-Azhar, Kairo,
Mesir. Kini, aku kembali dengan jiwa baru yang siap menjalani lembaran hidup
yang baru. Banyak sekali perubahan yang terjadi di kampungku. Mulai dari
tatanan kampung yang lebih asri, cantik dan indah. Sampai perubahan yang
membuatku takjub sekaligus bangga yakni ayahku berhasil membangkitkan kembali
pondok pesantren dan madrasah yang dahulu sempat terpuruk. Ayahku adalah
seorang kyai yang senantiasa mengajarkan ilmu agama kepada siapa saja
yang mau belajar. Beliaulah pahlawan tanpa tanda jasa dalam hidupku.
Gema adzan subuh mulai
terdengar jelas di telingaku. Sungguh enak didengar, menentramkan hati dan
pikiran. Suaranya begitu lantang dan jelas. Berbondongbondong, santri putra dan
putri mulai terlihat bergegas ke masjid. Antusias mereka untuk sholat berjamaah
begitu tinggi. Langkah kakiku pun berjalan menuju masjid. Kali pertama, aku
kembali sholat di masjid ini.
Usai sholat subuh, aku
menjalankan aktivitasku “jalan-jalan pagi” sembari menghirup udara segar
kampung halamanku. Kudengar suara lantunan ayat suci Al- Qur’an di telingaku.
Merdu, indah, menenangkan dan menggetarkan hati. Kucari sumber suara itu,
ternyata di balik jendela masjid. Suara seorang perempuan. Inginku bertemu
pemilik suara itu. Tapi, sangat tak pantas jika aku menemuinya langsung di
rumah Alloh. Terpaksa, aku duduk termenung di bawah jendela sembari
mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacanya sekaligus menunggu perempuan
itu keluar dari rumah Alloh. Aku terlupa dengan jalan-jalan pagiku. Suara merdu
perempuan itu telah menghipnotisku. Tak lama kemudian, terdengar suara”Sodaqollohaladzim”.
Pertanda, ia telah mengakhiri lantunan ayat suci Al-Qur’an.
Aku masih duduk di
bawah jendela, menunggu sosok perempuan itu keluar. Langkah kakinya tak
kurasakan. Tatapanku tertuju pada daun pintu rumah Alloh dan terlihatlah sosok perempuan
bersuara emas. Bola mataku dan bola matanya saling bertemu. Hampir sepuluh detik,
aku dan dia saling bertatapan. Sungguh aku terhipnotis dengan sosoknya.
Senyumannya begitu lembut dan manis. Batinku memberontak. Terjadi perang batin
dalam hatiku. Ternyata rayuan syetan telah menghinggapi ragaku. Sangat sulit
kumelepaskan pandangannya. Lantas, aku berdiri menyapanya.
“Assalamu’alaikum, Ukhti?” Sapaku
pada bidadari pemilik suara emas itu.
“Waalaikumsalam, Akhi,” jawabnya
nampak malu-malu.
“Perkenalkan, saya Farid Al-farizi,”
ucapku sembari mengulurkan tangan kananku.
“Akhi putra sulung pak kyai yang
baru pulang dari Mesir itu to? Panggil saja, aku Husnun Nisa’,“ katanya
dengan suara yang begitu lembut. Uluran tanganku tak dibalasnya. Dia hanya
membalas dengan mengangkat kedua tangannya di depan dada sembari menundukkan
kepala. Salam sungkem kumenyebutnya.
“Inggih, Ukhti. Nama yang bagus,
pasti orang tuamu berharap kau menjadi perempuan yang baik. Seperti arti namamu
itu,” kataku padanya.
“Akhi bisa saja,“ balasnya dengan
senyum simpul. Senyum di sudut bibirnya terlihat sangat manis. Subhanalloh.
“Lantunan ayat suci Al-Qur’anmu sungguh bagus,
merdu dan menyayat hati,” jelasku.
‘Terimakasih, Akhi. Jangan terlalu
memuji,”sanggahnya lukas.
“Beneran, aku gak bohong. Aku yakin, Ukhti
salah satu qori’ terbaik di pesantren ini. Ibu selalu menceritakan qori’-qori’
perempuan yang beliau anggap memiliki kemampuan lebih daripada yang lain.”
“Inggih, aku salah satu orang
yang ibumu ceritakan. Oiya, maaf aku harus segera kembali ke pesantren. Assalamu’alaikum,”
ucapnya sembari meninggalkanku di Emperan Masjid.
“Iya, waalaikumsalam, Ukhti,”
balasku.
Ucapan salam mengakhiri percakapan kami
berdua. Aku baru sadar kalau aku telah terkena hasutan syetan-syetan yang
selalu mengelilingiku. Aku tertunduk sembari mohon ampun pada sang pemberi
hidup.
“Apa yang telah aku lakukan yaa Rabb.
Astagfirullohaladzim, aku telah zina mata. Sungguh ciptaanmu sangat indah
di pelupuk mata ini. Maafkan aku ya Alloh, aku telah gagal menjaga mata ini.” Batinku
berucap demikian.
****
Angin di persawahan
menggoyangkan tanaman padi yang mulai menguning. Aku duduk di peranggok kayu di
pertengahan sawah sembari melepas penat setelah beraktivitas seharian. Sore itu,
kututup dengan menikmati indahnya alam ciptaan-Nya.
”Luar biasa”. Pemandangan sawah begitu
indah. Apik tenan. Timbul hasratku merangkai kata untuk bidadari pemilik
suara emas. Aku sendiri bingung dengan apa yang terjadi dengan hidupku. Dulu
sewaktu di Mesir, aku pernah bermimpi, bertemu sesosok perempuan anggun yang
mirip sekali dengan husnun nisa’. Entah kenapa di sini aku bertemu dengan sosok
yang sama di bunga tidurku. Apa mungkin alloh telah mentakdirkanku bersamanya.
“Ya Alloh, jika benar memang dia jodohku
tolong dekatkanlah aku dengannya,” pintaku pada sang Maha Pemberi Hidup.
****
Di sudut ruang tamu
kulihat Farah, adik pertamaku sedang membaca novel. Umurnya selisih enam tahun denganku.
Aku mendekatinya. Kuceritakan tentang pertemuanku dengan Nisa’ dari awal sampai
percakapan terakhirku dengannya. Farah menanggapinya dengan tersenyum-senyum
sembari meledekku.
“Cie, cie. Kakakku jath cinta pada
pandangan pertama. Jeile...”
“Sudah, sudah. Jangan senyum-senyum gitu
dek. Aku cuma mau minta tolong. Berikan sepucuk surat ini untuknya ya?” Kataku
padanya.
“ Heem. Ok ok. Tapi, nanti ajari aku
bahasa arab ya kak?” Balasnya.
“Ok, ok. Kudu balas budi ya?”
Jawabku. Farah hanya menggut-manggut.
Dia beranjak ke pesantren putri. Aku
menanti kabar gembira darinya.
****
“Assalamu’alaikum,” aku mengetok kamar
mba nisa.
“Waalaikumsalam. Silahkan masuk,”
jawabnya.
“Iya, mba. Aku pengin bicara sebentar sama
mba. Ada waktu gak mba?” Tanyaku.
“Ada apa Dek farah?” Tanyanya dengan
muka yang penuh rasa penasaran.
“Mba ada
surat dari mas farid. Terima ya mba?” Kataku sembari memberikan surat
kecil berwarna merah jambu.
“Surat apa Dek?” Tanyanya lagi.
“Gak tahu Mba. Sudah diterima aja ya mba.
Aku mau pergi ke pasar menemani ibu belanja,”jawabku. Lalu, aku keluar dari
kamar Mba Nisa’.
****
Kubuka pelan-pelan surat berwarna merah
jambu darinya.
Untuk: Ukhty Husnun Nisa’
Bidadari pemilik suara emas. Lantunan ayat-ayat
Al-Qur’an yang kau nyanyikan sangat merdu. Menggetarkan relung hatiku.
Manghapuskan lara jiwaku. Aku kagum denganmu, Ukhty. Kau sangat mirip dnegan
sosok wanita di mimpiku. Aku yakin, kaulah cahaya fajar yang dulu menyelinap
dalam bunga tidurku. Aku percaya, Alloh memang mentakdirkan kita berjodoh. Pertemuan
yang baru pertama kali bukan masalah bagiku, karena hatiku telah mamilihmu. Aku
takut semakin lama aku mengagumimu, mata dan hati ini semakin berzina. Lewat
sepucuk surat ini, aku ingin meminangmu ukhty. mungkin terlalu cepat, tapi aku
telah matang memikirkannya. Tak ada niat buruk dari insan yang tak sempurna
ini. Semua jawabannya terserah padamu. Aku akan lapang dada dengan semua
jawabanmu. Tak ada keraguanku padamu,
karena kaulah pemilik hatiku.
Kututup sepucuk surat
itu. Sungguh aku bingung jawaban apa yang harus kuberikan. Benar-benar persis
dengan mimpiku kemarin malam. Lelaki yang berada dalam mimpiku persis akhi farid.
Dan pinangannya pun sama, lewat sepucuk surat.
Yaa rabb, tunjukkan jalanmu. Aku ingin
bersamanya.
****
Matahari kembali
menyembunyikan sinarnya di ufuk barat. Aku telah menyiapkan surat balasan untuk
calon imamku. Kutemui dek farah di madrasah. Lantas kuberikan surat itu
padanya.
“Dek, tolong berikan surat ini pada mas
farid ya,” pintaku pada gadis remaja itu.
“Iya mbak,” Farah menjawab dengan suara
yang begitu bijaknya.
Aku beruntung bisa menemui dek farah
yang baik hati dan tidak sombong, sama seperti bu nyai yang selalu ramah
kepada semua santrinya.
****
Aku duduk di atas
ranjangku sembari membaca novel islami yang kubeli waktu itu. Tiba-tiba, farah
memanggilku.
“Mas, ada surat dari mba Nisa’, “
ungkapnya lantang. Dia memberikan sepucuk surat cinta terbungkus
kertas biru laut.
“Iya, dek. Makasih yaa.”
Adekku tak mau menggangguku. Dia
langsung pergi ke luar kamar.
Kubuka pelan-pelan surat itu. Aku
degdegan bukan kepayang. Tanganku gemetar membukanya. Kutenangkan jiwaku dengan
mengucap Asma Alloh sembari berzikir.
Untuk: Akhi Farid Al- farizi
Aku tak bisa menolak ajakan baik lelaki
muslim sepertimu. Sejujurnya, aku juga memimpikan hal yang sama denganmu. Aku
berjumpa dengan lelaki rupawan, berbudi baik nan berakhlak mulia sebulan yang
lalu. Aku tak menyangka sosokmulah yang bersemi di bunga tidurku.
Kejadian di depan rumah alloh kemarin
menyadarkanku akan zina mata dan hati ini. Aku sadar, aku telah menzinainya. Aku
pun tak ingin mengulanginya lagi. Aku mantap menerima pinanganmu. Lewat
rangkaian kata yang tak indah ini, semoga Alloh memberikan jalan terang untuk
hamba yang sedang dilanda cinta. Yaa
Rabb, jangan jadikan hamba-Mu ini sebagai makhluk yang merugi. Yaa Rabb, iringilah
jalan cinta kami berdua dengan penuh hikmah. Aku percaya, takdir hidupku telah
engkau rencanakan dengan sangat baik. Bismillahirrokhmanirrokhim. Semoga memang
benar akhi calon imamku yang telah lama kutunggu. Amin ....
Aku berkaca-kaca membaca
sepucuk surat darinya. Hampir saja air mata ini menetes, namun kucoba tuk
pertahankan di liang mata. Sujud syukur kupanjatkan hanya untuk-Nya. Alhamdulillah
wa syukurillah. Engkau telah pertemukanku dengan bidadari bersuara emas yang
akan menemani sisa-sisa hidupku di dunia ini.
No comments:
Post a Comment