Tuesday, May 20, 2014

Cintaku Bersemi di Waktu Subuh



Empat tahun sudah aku meninggalkan kampung halamanku untuk melanjutkan studi di Al-Azhar, Kairo, Mesir. Kini, aku kembali dengan jiwa baru yang siap menjalani lembaran hidup yang baru. Banyak sekali perubahan yang terjadi di kampungku. Mulai dari tatanan kampung yang lebih asri, cantik dan indah. Sampai perubahan yang membuatku takjub sekaligus bangga yakni ayahku berhasil membangkitkan kembali pondok pesantren dan madrasah yang dahulu sempat terpuruk. Ayahku adalah seorang kyai yang senantiasa mengajarkan ilmu agama kepada siapa saja yang mau belajar. Beliaulah pahlawan tanpa tanda jasa dalam hidupku.
Gema adzan subuh mulai terdengar jelas di telingaku. Sungguh enak didengar, menentramkan hati dan pikiran. Suaranya begitu lantang dan jelas. Berbondongbondong, santri putra dan putri mulai terlihat bergegas ke masjid. Antusias mereka untuk sholat berjamaah begitu tinggi. Langkah kakiku pun berjalan menuju masjid. Kali pertama, aku kembali sholat di masjid ini.
Usai sholat subuh, aku menjalankan aktivitasku “jalan-jalan pagi” sembari menghirup udara segar kampung halamanku. Kudengar suara lantunan ayat suci Al- Qur’an di telingaku. Merdu, indah, menenangkan dan menggetarkan hati. Kucari sumber suara itu, ternyata di balik jendela masjid. Suara seorang perempuan. Inginku bertemu pemilik suara itu. Tapi, sangat tak pantas jika aku menemuinya langsung di rumah Alloh. Terpaksa, aku duduk termenung di bawah jendela sembari mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacanya sekaligus menunggu perempuan itu keluar dari rumah Alloh. Aku terlupa dengan jalan-jalan pagiku. Suara merdu perempuan itu telah menghipnotisku. Tak lama kemudian, terdengar suara”Sodaqollohaladzim”. Pertanda, ia telah mengakhiri lantunan ayat suci Al-Qur’an.
Aku masih duduk di bawah jendela, menunggu sosok perempuan itu keluar. Langkah kakinya tak kurasakan. Tatapanku tertuju pada daun pintu rumah Alloh dan terlihatlah sosok perempuan bersuara emas. Bola mataku dan bola matanya saling bertemu. Hampir sepuluh detik, aku dan dia saling bertatapan. Sungguh aku terhipnotis dengan sosoknya. Senyumannya begitu lembut dan manis. Batinku memberontak. Terjadi perang batin dalam hatiku. Ternyata rayuan syetan telah menghinggapi ragaku. Sangat sulit kumelepaskan pandangannya. Lantas, aku berdiri menyapanya.
“Assalamu’alaikum, Ukhti?” Sapaku pada bidadari pemilik suara emas itu.
“Waalaikumsalam, Akhi,” jawabnya nampak malu-malu.
“Perkenalkan, saya Farid Al-farizi,” ucapku sembari mengulurkan tangan kananku.
Akhi putra sulung pak kyai yang baru pulang dari Mesir itu to? Panggil saja, aku Husnun Nisa’,“ katanya dengan suara yang begitu lembut. Uluran tanganku tak dibalasnya. Dia hanya membalas dengan mengangkat kedua tangannya di depan dada sembari menundukkan kepala. Salam sungkem kumenyebutnya.
Inggih, Ukhti. Nama yang bagus, pasti orang tuamu berharap kau menjadi perempuan yang baik. Seperti arti namamu itu,” kataku padanya.
Akhi bisa saja,“ balasnya dengan senyum simpul. Senyum di sudut bibirnya terlihat sangat manis. Subhanalloh.
“Lantunan ayat suci Al-Qur’anmu sungguh bagus, merdu dan menyayat hati,” jelasku.
‘Terimakasih, Akhi. Jangan terlalu memuji,”sanggahnya lukas.
“Beneran, aku gak bohong. Aku yakin, Ukhti salah satu qori’ terbaik di pesantren ini. Ibu selalu menceritakan qori’-qori’ perempuan yang beliau anggap memiliki kemampuan lebih daripada yang lain.”
Inggih, aku salah satu orang yang ibumu ceritakan. Oiya, maaf aku harus segera kembali ke pesantren. Assalamu’alaikum,” ucapnya sembari meninggalkanku di Emperan Masjid.
“Iya, waalaikumsalam, Ukhti,” balasku.
Ucapan salam mengakhiri percakapan kami berdua. Aku baru sadar kalau aku telah terkena hasutan syetan-syetan yang selalu mengelilingiku. Aku tertunduk sembari mohon ampun pada sang pemberi hidup.
“Apa yang telah aku lakukan yaa Rabb. Astagfirullohaladzim, aku telah zina mata. Sungguh ciptaanmu sangat indah di pelupuk mata ini. Maafkan aku ya Alloh, aku telah gagal menjaga mata ini.” Batinku berucap demikian.
****
Angin di persawahan menggoyangkan tanaman padi yang mulai menguning. Aku duduk di peranggok kayu di pertengahan sawah sembari melepas penat setelah beraktivitas seharian. Sore itu, kututup dengan menikmati indahnya alam ciptaan-Nya.
”Luar biasa”. Pemandangan sawah begitu indah. Apik tenan. Timbul hasratku merangkai kata untuk bidadari pemilik suara emas. Aku sendiri bingung dengan apa yang terjadi dengan hidupku. Dulu sewaktu di Mesir, aku pernah bermimpi, bertemu sesosok perempuan anggun yang mirip sekali dengan husnun nisa’. Entah kenapa di sini aku bertemu dengan sosok yang sama di bunga tidurku. Apa mungkin alloh telah mentakdirkanku bersamanya.
“Ya Alloh, jika benar memang dia jodohku tolong dekatkanlah aku dengannya,” pintaku pada sang Maha Pemberi Hidup.
****
Di sudut ruang tamu kulihat Farah, adik pertamaku sedang membaca novel. Umurnya selisih enam tahun denganku. Aku mendekatinya. Kuceritakan tentang pertemuanku dengan Nisa’ dari awal sampai percakapan terakhirku dengannya. Farah menanggapinya dengan tersenyum-senyum sembari meledekku.
“Cie, cie. Kakakku jath cinta pada pandangan pertama. Jeile...
“Sudah, sudah. Jangan senyum-senyum gitu dek. Aku cuma mau minta tolong. Berikan sepucuk surat ini untuknya ya?” Kataku padanya.
“ Heem. Ok ok. Tapi, nanti ajari aku bahasa arab ya kak?” Balasnya.
“Ok, ok. Kudu balas budi ya?” Jawabku. Farah hanya menggut-manggut.
Dia beranjak ke pesantren putri. Aku menanti kabar gembira darinya.
****
“Assalamu’alaikum,” aku mengetok kamar mba nisa.
“Waalaikumsalam. Silahkan masuk,” jawabnya.
“Iya, mba. Aku pengin bicara sebentar sama mba. Ada waktu gak mba?” Tanyaku.
“Ada apa Dek farah?” Tanyanya dengan muka yang penuh rasa penasaran.
“Mba ada  surat dari mas farid. Terima ya mba?” Kataku sembari memberikan surat kecil berwarna merah jambu.
“Surat apa Dek?” Tanyanya lagi.
“Gak tahu Mba. Sudah diterima aja ya mba. Aku mau pergi ke pasar menemani ibu belanja,”jawabku. Lalu, aku keluar dari kamar Mba Nisa’.
****
Kubuka pelan-pelan surat berwarna merah jambu darinya.
Untuk: Ukhty Husnun Nisa’
Bidadari pemilik suara emas. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang kau nyanyikan sangat merdu. Menggetarkan relung hatiku. Manghapuskan lara jiwaku. Aku kagum denganmu, Ukhty. Kau sangat mirip dnegan sosok wanita di mimpiku. Aku yakin, kaulah cahaya fajar yang dulu menyelinap dalam bunga tidurku. Aku percaya, Alloh memang mentakdirkan kita berjodoh. Pertemuan yang baru pertama kali bukan masalah bagiku, karena hatiku telah mamilihmu. Aku takut semakin lama aku mengagumimu, mata dan hati ini semakin berzina. Lewat sepucuk surat ini, aku ingin meminangmu ukhty. mungkin terlalu cepat, tapi aku telah matang memikirkannya. Tak ada niat buruk dari insan yang tak sempurna ini. Semua jawabannya terserah padamu. Aku akan lapang dada dengan semua jawabanmu.  Tak ada keraguanku padamu, karena kaulah pemilik hatiku.
Kututup sepucuk surat itu. Sungguh aku bingung jawaban apa yang harus kuberikan. Benar-benar persis dengan mimpiku kemarin malam. Lelaki yang berada dalam mimpiku persis akhi farid. Dan pinangannya pun sama, lewat sepucuk surat.
Yaa rabb, tunjukkan jalanmu. Aku ingin bersamanya.
****
Matahari kembali menyembunyikan sinarnya di ufuk barat. Aku telah menyiapkan surat balasan untuk calon imamku. Kutemui dek farah di madrasah. Lantas kuberikan surat itu padanya.
“Dek, tolong berikan surat ini pada mas farid ya,” pintaku pada gadis remaja itu.
“Iya mbak,” Farah menjawab dengan suara yang begitu bijaknya.
Aku beruntung bisa menemui dek farah yang baik hati dan tidak sombong, sama seperti bu nyai yang selalu ramah kepada semua santrinya.
****
Aku duduk di atas ranjangku sembari membaca novel islami yang kubeli waktu itu. Tiba-tiba, farah memanggilku.
“Mas, ada surat dari mba Nisa’, “ ungkapnya  lantang.  Dia memberikan sepucuk surat cinta terbungkus kertas biru laut.
“Iya, dek. Makasih yaa.”
Adekku tak mau menggangguku. Dia langsung pergi ke luar kamar.
Kubuka pelan-pelan surat itu. Aku degdegan bukan kepayang. Tanganku gemetar membukanya. Kutenangkan jiwaku dengan mengucap Asma Alloh sembari berzikir.
Untuk:  Akhi Farid Al- farizi
Aku tak bisa menolak ajakan baik lelaki muslim sepertimu. Sejujurnya, aku juga memimpikan hal yang sama denganmu. Aku berjumpa dengan lelaki rupawan, berbudi baik nan berakhlak mulia sebulan yang lalu. Aku tak menyangka sosokmulah yang bersemi di bunga tidurku.
Kejadian di depan rumah alloh kemarin menyadarkanku akan zina mata dan hati ini. Aku sadar, aku telah menzinainya. Aku pun tak ingin mengulanginya lagi. Aku mantap menerima pinanganmu. Lewat rangkaian kata yang tak indah ini, semoga Alloh memberikan jalan terang untuk hamba yang sedang dilanda  cinta. Yaa Rabb, jangan jadikan hamba-Mu ini sebagai makhluk yang merugi. Yaa Rabb, iringilah jalan cinta kami berdua dengan penuh hikmah. Aku percaya, takdir hidupku telah engkau rencanakan dengan sangat baik. Bismillahirrokhmanirrokhim. Semoga memang benar akhi calon imamku yang telah lama kutunggu. Amin ....
Aku berkaca-kaca membaca sepucuk surat darinya. Hampir saja air mata ini menetes, namun kucoba tuk pertahankan di liang mata. Sujud syukur kupanjatkan hanya untuk-Nya. Alhamdulillah wa syukurillah. Engkau telah pertemukanku dengan bidadari bersuara emas yang akan menemani sisa-sisa hidupku di dunia ini.





No comments:

Post a Comment

KONEKSI ANTAR MATERI KESIMPULAN DAN REFLEKSI MODUL 1.1

  Ki Hajar Dewantara merupakan sosok yang sangat pantas mendapatkan julukan sebagai Bapak Pendidikan. Beliau tidak pernah merasa putus asa u...