The deaf Fall in Love
Perjalanan panjang di
hidupku kulalui dengan bersyukur. Setiap hembus nafasku selalu aku syukuri,
walaupun hidupku berbeda dengan manusia lain. Mungkin hanya sebagian besar
orang saja yang memiliki kebutuhan khusus sepertiku. Aku tka mampu mengucapkan
kata-kata layaknya anak normal dan pendengarankupun tak lazimnya dimiliki
orang. Orang menyebutku tuna rungu wicara. Awalnya orang tuaku, terutama Ayah
tak mau menerimaku dengan keadaan seperti ini. Kata nenek, dulu Ayahku
menyalahkan ibuku ketika aku divonis menderita tuna rungu wicara. Tak hentinya
Ayah mamarahi Ibu, manampar, bertengkar dan sempat berkeinginan mengasingkanku
dari kehidupan mereka. Tepatnya menempatkanku dalam sebuah pantai asuhan di Makasar.
Nenek tak sampai hati mendengar kabar kalau aku hendak diasingkan. Beliau
menasihati Ayah dengan penuturan yang lembut dan bijaksana.
“Rizki, dimana pikiranmu sehingga kau
hendak mengasingkan putri semata wayangmu. Tak sadarkah kau dia itu buah hati
kalian. Berapa tahun coba kalian mengidam-idamkan seorang anak. Sekarang,
giliran Alloh sudah memberikan anugerah terindah kau tega berucap demikian.
Lihatlah betapa cantiknya putrimu, senyum di bibirnya menandakan dia ingin
bersama kita. Dimana hati tulusmu, nak?” nenek mengucapkannya dengan iba dan
samapi air mata mengalir di pipinya. Isak tangis tak mampu ditahan lagi. Berat
rasanya menghadapi kenyataan ini.
“ Tapi, dia cacat bu. Aku tak mau
memiliki anak yang cacat seperti dia” ucap Ayah. Beliau msih belum bisa
menerima kenyataan yang sangat pahit. Amarahnya masih memuncak dan sukar untuk
dihentikan. Namun, nenek tetap berjuang mempertahankanku.
“ Ya Alloh, apa salahku hingga anakku
tak pandai bersyukur seperti ini. Dari dahulu hingga sekarang belum pernah
anakku sekeras ini. Nak, lihatlah anakmu dengan hati, jangan liaht dengan
emosi. Betapa lucu, manis, dan mungilnya dia. Dia itu spesial nak. Spesial.
Berbeda dengan anak yang lain, karena inilah kau harus merawatnya sepenuh
hati.” Ujar nenek dengan isak tangis yang semakin meradang.
Mendengar ucapan nenek yang demikian,
hati Ayah yang semula beku, mencair seketika. Ayah meneteskan air mata. Ayah bersujud pada kakki
nenek dan minta maaf dari hati.
“ ibu, maafkan aku. Ini semua salahku.
Tak seharusnya aku mempunyai pikiran seperti itu. Benar kata Ibu putriku
spesial dan aku harus menjaganya. Tak seharusnya pula aku berlaku kasar kepada
Dinda. Aku yang slaah Ibu”
“ sudah nak, sekarang tidak penting
siapa yang salah. Yang terpenting, kalian harus bersama-sama merawat anak
kalian. Kau harus janji pada Ibu, nak.” Ucap Nenek pada Ayah dnegan sedikit
lega.
“ Iya, bu. Aku janji akan merawat anakku
sekuat jiwa raga dan aku akan merawatnya dengan hati Ibu” isak tangisa ayah
semakin keras dan terenga-engah mengucapkan kata-kata. Beliau sadar akan
perlakuannya yang tak sesuai dengan apa yang seharusnya dia lakukan.
“ nak, minta maaflah pada Sang Pemberi
Kehidupan. Berkat dia, kita masih bisa bernafas dan menjalani kehidupan ini.
Yakinlah Alloh tak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. ”
ucap nenek sembari menasihati anaknya. Ayahpun beranjak dari tempat duduknya
dan segera malakkukan sholat.
Ibu dan nenek merasa bahagia dengan
semua ini. Tak ada masalah kaluarga lagi. Sejak saat itu, mereka sangat
menyayangiku dan selalu memberikan yang terbaik untukku.
****
Hari demi hari mereka
merawatku dengan hati, perasaan dan perjuangan.
Mereka sekuat tenaga memahami kekuranganku. Mereka berjuang memahami
bahasa isyaratku. Sedikit demi sedikit belajar dariku dan lama-kelamaan mereka
paham dengan apa yang aku pinta. Aku bahagia karena mereka selalu ada untukku.
Semakin lama, aku tumbuh menjadi gadis
remaja. Kata orang di sekitarku, aku cantik tapi sayang bisu tuli. Kadang aku
sedih mendengar komentar mereka tentangku. Tapi, Ibu tak henti-hentinya
meykinkanku kalau aku berbeda dan Tuhan menciptakanku seperti ini karena sayang
padaku. Ibu selalu bilang aku spesial dan beliau banyak belajar menghargai
kehidupan ini dariku. Aku merasa tak canggung lagi ketika jiwa dan raga ini
mendapat nasihat Ibu.
Semula,
aku bersekolah di Sekolah Luar Biasa, ya karena aku memang luar biasa. Namun,
saat beranjak mamasuki masa SMA, kepala sekolah menyarankan orang tuaku
menyekolahkan aku di sekolah inklusi karena kemampuanku lebih tinggi daripada
kemampuan siswa yang lain. Takutnya, aku tak bisa mengembangkan apa yang ada di
pikiranku. Orang tuakupun setuju dan menyekolahkanku di SMA Inklusi. Sekolah
itu sangat berbeda daripada SLB, tempatku menimba ilmu dulu.
Aku
murid baru di sekolah itu. Pak Dika mengajakku masuk ruang kelas. Beliau
memintaku memperkenalkan diri. Dengan bahasa isyarat aku perkenalkan diriku.
Sontak, seisi kelas cengang melihatku. Tatapan mereka berbeda. Meraka tak paham
dengan apa yang kukatakan. Pak Dika memperjelas namaku, namanya Zahra anak-anak.
“ zahra silahkan duduk”
Pelajaran dimulai
dengan suasana yang berbeda. Di pojok
kanan kelas, cowo-cowo memandangiku tak henti-hentinya. Sedangkan di pojok kiri
kelas, segerombolan cewe menatapku histeris. Tak percaya orang sepertiku bisa bersekolah
dengan mereka. Aku sebangku dengan anak yang ramah, namanya Resa. Dia baik hati
dan mau menerima kekuranganku. Aku ngobroldengannya lewat selembar kertas. Dan
dia menceritakan satu persatu temannya di kelas. Ternyata segerombolan cewe
yang brisik itu se-geng, namanya Geng Kancil. Aku tertawa mendengarnya. Lucu,
seperti dongeng pengantar tidurku waktu kecil dulu. Ayah sering menceritakan
kancil tiap kali aku tidur. Muali dari kancil yang mencuri timun, kancil yang
balapan dengan siput dan kancil yang cerdik. Aku suka dongeng ayah.
****
Suatu ketika, si geng
kancil mendekatiku dan mengejekku dengan melontarkan kata-kata buruk yang tak
sepantsnya diungkapkan.
“hey, anak cacat. Tak habis pikir ya,
kenapa kau bisa bersekolah di sekolah ini. Kenapa kepala sekolah mau
menerimamu. Wot, jangan merunduk terus, tatap mataku. Ayo ngomong. Oiya, kamu
kan gak bisa ngomong ya, lupa. Kasian, kasian, kasian. Kasian banget si hidup
loe, udah tuli, bisu pula. Cantik si, tapi ....”
Ketua geng itu mengejekku sangat pedas.
Aku tak sanggup lagi bertahan. Kata-katanya menusuk relung hatiku. Betapa miris
kumendengarnya. Tak pernah kusangka, ada orang cantik, tapi ucapan dan tingkah
lakunya tak secantik wajahnya. Tak bisa kutahan lagi bening air mata ini.
Kutumpahkan air mataku di pipi.
“ nangis, nangis lagi. Gitu aja
nangis,cemen banget kamu.” Ujarnya. Mereka tak merasakan sakit hati yang
kualami. Pedih rasanya.
Dari belakangku, ada seseorang yang
memberikan tisu untukku.
“ usap air matamu dengan tisu ini”
suaranya berwibawa sekali. Aku bisa merasakannya. Lembut dan santun.
“ Hey, seneng banget kalian mengejek
anak baru. Dia berbeda dengan kita. Camkan itu. Tak sepantasnya kau berlaku
seperti ini.”ucapnya penuh amarah. Tanpa memberikan kesempatan geng kancil
bicara, dia menggandeng tanganku dan membawaku pergi dari tempat itu.
“ ayo, pergi dari sini”.
Genggaman tangannya sangat hangat. Aku
nyaman bersamanya. Baru pertama kali kumerasakan hal seperti ini. Dia membawaku
ke taman sekolah.
Di sebuah bangku, kita
duduk berdua. Tempat yang indah, romantis dan tenang. Pas banget untuk
menenangkan pikiranku. Taman ini indah bagaikan surga dunia. Percikan air
terdengar bernada dan beriraman. Rumput-rumput bergoyang tertiup angin.
Bunga-bunga bermekaran dan berwarna-warni. Ratusan kupu-kupu menambah indah
panorama taman ini. Aku senang melihatnya. Rasa sakit hatiku hilang berlahan.
Jantungku berdebar hebat bukan kepalang.
Gugup rasanya. Kata orang ini rasa yang diderita oleh orang yang sedang dilanda
cinta. Apakah aku jatuh cinta dengan lelaki ini? Ah, aku gak tahu. Baru pertama
bertemu dan tak tahu keberlanjutannya.
“ kamu anak baru itu ya?” ujarnya.
Aku mengangguk tanda iya. Aku takut
menatapnya.
“ geng kancil memang sudah biasa
bersikap seperti itu. Kamu harus memahaminya ya? Eh, siapa namamu. Aku Reza.”
Ucapnya penuh senyuman mansi di pipinya sembari menjulurkan tangannya kepadaku.
Kuterima uluran tangannya. Aku memakai
bahasa isyarat ketika berkenalan dengannya.
Dia tak paham dengan apa yang kuucapkan.
Kuputuskan menulis di selembar kertas.
“ZAHRA” ujarnya.
“ nama yang bagus. Dalam bahasa arab
artinya Bunga. Aku yakin orang tuamu memberikan nama ini dengan harapan kamu
menjadi bunga yang selalu memberikan keindahan bagi kehidupan mereka” tambahnya
pelan sembari memaknai namaku.
Aku membalas ucapannya dengan anggukan
dan senyuman. Diapun tersenyum.
Perbincangan kami tak berhenti sampai di
sini. Dia mengajakku berbincang-bincang dan aku membalasnya lewat selembar
kertas. Dia memahami kondidsiku yang seperti ini, pancaran sinar di matanya
berkata demikian.
Sepualng sekolah dia mengajakku pergi ke
toko buku di depan sekolah. Tak bisa kumenolak ajakan baiknya. Sebagai
tanda balas budi, akupun mau menerima
ajakannya.
Dia mengambil buku berjudul” Kamus Cepat
Memahami Bahasa Isyarat” dahiku menyerjit melihat apa yang dia pegang.
Aku penasaran menagapa dia membeli buku
itu. Kutulis dalam selembar kertasapa yang ada di pikiranku.
“kanapa kau membeli buku itu? “ tulisku
di kertas itu.
“ aku ingin mendalami bahasa isyarat
agar memahami bahasamu.”
Aku berucap dengan batinku
sendiri.”benarkah yang dia katakan, jujurkah aoa yang dia ungkapkan. Aku takut
dia mendustaiku. Namun, hati ini yakin jika dia tak mungkin berdusta.
“kenapa?” dia balik bertanya padaku.
Gelengan kepalaku bertanda gak ada
apa-apa dan tak ada masalah bagiku.
Usai belanja buku, dia mengantarkanku
pualng ke rumah. Aku merasakan Reza itu spesial dna berbeda dengan yang lain.
Aku merasakan hangat kasihnya yang ia berikan padaku. Senyum manis dan lesung
di pipinya mengakhiri pertemuan pertama antara aku dan dia untuk hari ini.
Pertemuan pertama yang snagat indah.
Tahukah kau? Hatiku bergeming saat kau membelaku di depan geng kancil itu.
Pegangan erat tanganmu menentramkan jiwaku. Jantungku berdetak hebat ketika kau
mengajakku berbicara. Hatiku berkata
kaulah malaikat yang telah lama kunantikan.
Doaku di malam ini. “ Tuhan, tolong
sembuhkan pikiranku jika kejadian tadi siang hanya ilusi semata dan jika nyata
benar adanya, tolonglah dekatkan aku padanya di kemudian hari.”
No comments:
Post a Comment