Saturday, May 3, 2014

The Deaf fall in love

The deaf Fall in Love

Perjalanan panjang di hidupku kulalui dengan bersyukur. Setiap hembus nafasku selalu aku syukuri, walaupun hidupku berbeda dengan manusia lain. Mungkin hanya sebagian besar orang saja yang memiliki kebutuhan khusus sepertiku. Aku tka mampu mengucapkan kata-kata layaknya anak normal dan pendengarankupun tak lazimnya dimiliki orang. Orang menyebutku tuna rungu wicara. Awalnya orang tuaku, terutama Ayah tak mau menerimaku dengan keadaan seperti ini. Kata nenek, dulu Ayahku menyalahkan ibuku ketika aku divonis menderita tuna rungu wicara. Tak hentinya Ayah mamarahi Ibu, manampar, bertengkar dan sempat berkeinginan mengasingkanku dari kehidupan mereka. Tepatnya menempatkanku dalam sebuah pantai asuhan di Makasar. Nenek tak sampai hati mendengar kabar kalau aku hendak diasingkan. Beliau menasihati Ayah dengan penuturan yang lembut dan bijaksana.
“Rizki, dimana pikiranmu sehingga kau hendak mengasingkan putri semata wayangmu. Tak sadarkah kau dia itu buah hati kalian. Berapa tahun coba kalian mengidam-idamkan seorang anak. Sekarang, giliran Alloh sudah memberikan anugerah terindah kau tega berucap demikian. Lihatlah betapa cantiknya putrimu, senyum di bibirnya menandakan dia ingin bersama kita. Dimana hati tulusmu, nak?” nenek mengucapkannya dengan iba dan samapi air mata mengalir di pipinya. Isak tangis tak mampu ditahan lagi. Berat rasanya menghadapi kenyataan ini.
“ Tapi, dia cacat bu. Aku tak mau memiliki anak yang cacat seperti dia” ucap Ayah. Beliau msih belum bisa menerima kenyataan yang sangat pahit. Amarahnya masih memuncak dan sukar untuk dihentikan. Namun, nenek tetap berjuang mempertahankanku.
“ Ya Alloh, apa salahku hingga anakku tak pandai bersyukur seperti ini. Dari dahulu hingga sekarang belum pernah anakku sekeras ini. Nak, lihatlah anakmu dengan hati, jangan liaht dengan emosi. Betapa lucu, manis, dan mungilnya dia. Dia itu spesial nak. Spesial. Berbeda dengan anak yang lain, karena inilah kau harus merawatnya sepenuh hati.” Ujar nenek dengan isak tangis yang semakin meradang.
Mendengar ucapan nenek yang demikian, hati Ayah yang semula beku, mencair seketika. Ayah  meneteskan air mata. Ayah bersujud pada kakki nenek dan minta maaf dari hati.
“ ibu, maafkan aku. Ini semua salahku. Tak seharusnya aku mempunyai pikiran seperti itu. Benar kata Ibu putriku spesial dan aku harus menjaganya. Tak seharusnya pula aku berlaku kasar kepada Dinda. Aku yang slaah Ibu”
“ sudah nak, sekarang tidak penting siapa yang salah. Yang terpenting, kalian harus bersama-sama merawat anak kalian. Kau harus janji pada Ibu, nak.” Ucap Nenek pada Ayah dnegan sedikit lega.
“ Iya, bu. Aku janji akan merawat anakku sekuat jiwa raga dan aku akan merawatnya dengan hati Ibu” isak tangisa ayah semakin keras dan terenga-engah mengucapkan kata-kata. Beliau sadar akan perlakuannya yang tak sesuai dengan apa yang seharusnya dia lakukan.
“ nak, minta maaflah pada Sang Pemberi Kehidupan. Berkat dia, kita masih bisa bernafas dan menjalani kehidupan ini. Yakinlah Alloh tak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya. ” ucap nenek sembari menasihati anaknya. Ayahpun beranjak dari tempat duduknya dan segera malakkukan sholat.
Ibu dan nenek merasa bahagia dengan semua ini. Tak ada masalah kaluarga lagi. Sejak saat itu, mereka sangat menyayangiku dan selalu memberikan yang terbaik untukku.
****
Hari demi hari mereka merawatku dengan hati, perasaan dan perjuangan.  Mereka sekuat tenaga memahami kekuranganku. Mereka berjuang memahami bahasa isyaratku. Sedikit demi sedikit belajar dariku dan lama-kelamaan mereka paham dengan apa yang aku pinta. Aku bahagia karena mereka selalu ada untukku.
Semakin lama, aku tumbuh menjadi gadis remaja. Kata orang di sekitarku, aku cantik tapi sayang bisu tuli. Kadang aku sedih mendengar komentar mereka tentangku. Tapi, Ibu tak henti-hentinya meykinkanku kalau aku berbeda dan Tuhan menciptakanku seperti ini karena sayang padaku. Ibu selalu bilang aku spesial dan beliau banyak belajar menghargai kehidupan ini dariku. Aku merasa tak canggung lagi ketika jiwa dan raga ini mendapat nasihat Ibu.
            Semula, aku bersekolah di Sekolah Luar Biasa, ya karena aku memang luar biasa. Namun, saat beranjak mamasuki masa SMA, kepala sekolah menyarankan orang tuaku menyekolahkan aku di sekolah inklusi karena kemampuanku lebih tinggi daripada kemampuan siswa yang lain. Takutnya, aku tak bisa mengembangkan apa yang ada di pikiranku. Orang tuakupun setuju dan menyekolahkanku di SMA Inklusi. Sekolah itu sangat berbeda daripada SLB, tempatku menimba ilmu dulu.
            Aku murid baru di sekolah itu. Pak Dika mengajakku masuk ruang kelas. Beliau memintaku memperkenalkan diri. Dengan bahasa isyarat aku perkenalkan diriku. Sontak, seisi kelas cengang melihatku. Tatapan mereka berbeda. Meraka tak paham dengan apa yang kukatakan. Pak Dika memperjelas namaku, namanya Zahra anak-anak.
“ zahra silahkan duduk”
Pelajaran dimulai dengan  suasana yang berbeda. Di pojok kanan kelas, cowo-cowo memandangiku tak henti-hentinya. Sedangkan di pojok kiri kelas, segerombolan cewe menatapku histeris. Tak percaya orang sepertiku bisa bersekolah dengan mereka. Aku sebangku dengan anak yang ramah, namanya Resa. Dia baik hati dan mau menerima kekuranganku. Aku ngobroldengannya lewat selembar kertas. Dan dia menceritakan satu persatu temannya di kelas. Ternyata segerombolan cewe yang brisik itu se-geng, namanya Geng Kancil. Aku tertawa mendengarnya. Lucu, seperti dongeng pengantar tidurku waktu kecil dulu. Ayah sering menceritakan kancil tiap kali aku tidur. Muali dari kancil yang mencuri timun, kancil yang balapan dengan siput dan kancil yang cerdik. Aku suka dongeng ayah.
****
Suatu ketika, si geng kancil mendekatiku dan mengejekku dengan melontarkan kata-kata buruk yang tak sepantsnya diungkapkan.
“hey, anak cacat. Tak habis pikir ya, kenapa kau bisa bersekolah di sekolah ini. Kenapa kepala sekolah mau menerimamu. Wot, jangan merunduk terus, tatap mataku. Ayo ngomong. Oiya, kamu kan gak bisa ngomong ya, lupa. Kasian, kasian, kasian. Kasian banget si hidup loe, udah tuli, bisu pula. Cantik si, tapi ....”
Ketua geng itu mengejekku sangat pedas. Aku tak sanggup lagi bertahan. Kata-katanya menusuk relung hatiku. Betapa miris kumendengarnya. Tak pernah kusangka, ada orang cantik, tapi ucapan dan tingkah lakunya tak secantik wajahnya. Tak bisa kutahan lagi bening air mata ini. Kutumpahkan air mataku di pipi.
“ nangis, nangis lagi. Gitu aja nangis,cemen banget kamu.” Ujarnya. Mereka tak merasakan sakit hati yang kualami. Pedih rasanya.
Dari belakangku, ada seseorang yang memberikan tisu untukku.
“ usap air matamu dengan tisu ini” suaranya berwibawa sekali. Aku bisa merasakannya. Lembut dan santun.
“ Hey, seneng banget kalian mengejek anak baru. Dia berbeda dengan kita. Camkan itu. Tak sepantasnya kau berlaku seperti ini.”ucapnya penuh amarah. Tanpa memberikan kesempatan geng kancil bicara, dia menggandeng tanganku dan membawaku pergi dari tempat itu.
“ ayo, pergi dari sini”.
Genggaman tangannya sangat hangat. Aku nyaman bersamanya. Baru pertama kali kumerasakan hal seperti ini. Dia membawaku ke taman sekolah.
Di sebuah bangku, kita duduk berdua. Tempat yang indah, romantis dan tenang. Pas banget untuk menenangkan pikiranku. Taman ini indah bagaikan surga dunia. Percikan air terdengar bernada dan beriraman. Rumput-rumput bergoyang tertiup angin. Bunga-bunga bermekaran dan berwarna-warni. Ratusan kupu-kupu menambah indah panorama taman ini. Aku senang melihatnya. Rasa sakit hatiku hilang berlahan.
Jantungku berdebar hebat bukan kepalang. Gugup rasanya. Kata orang ini rasa yang diderita oleh orang yang sedang dilanda cinta. Apakah aku jatuh cinta dengan lelaki ini? Ah, aku gak tahu. Baru pertama bertemu dan tak tahu keberlanjutannya.
“ kamu anak baru itu ya?” ujarnya.
Aku mengangguk tanda iya. Aku takut menatapnya.
“ geng kancil memang sudah biasa bersikap seperti itu. Kamu harus memahaminya ya? Eh, siapa namamu. Aku Reza.” Ucapnya penuh senyuman mansi di pipinya sembari menjulurkan tangannya kepadaku.
Kuterima uluran tangannya. Aku memakai bahasa isyarat ketika berkenalan dengannya.
Dia tak paham dengan apa yang kuucapkan. Kuputuskan menulis di selembar kertas.
“ZAHRA” ujarnya.
“ nama yang bagus. Dalam bahasa arab artinya Bunga. Aku yakin orang tuamu memberikan nama ini dengan harapan kamu menjadi bunga yang selalu memberikan keindahan bagi kehidupan mereka” tambahnya pelan sembari memaknai namaku.
Aku membalas ucapannya dengan anggukan dan senyuman. Diapun tersenyum.
Perbincangan kami tak berhenti sampai di sini. Dia mengajakku berbincang-bincang dan aku membalasnya lewat selembar kertas. Dia memahami kondidsiku yang seperti ini, pancaran sinar di matanya berkata demikian.
Sepualng sekolah dia mengajakku pergi ke toko buku di depan sekolah. Tak bisa kumenolak ajakan baiknya. Sebagai tanda  balas budi, akupun mau menerima ajakannya.
Dia mengambil buku berjudul” Kamus Cepat Memahami Bahasa Isyarat” dahiku menyerjit melihat apa yang dia pegang.
Aku penasaran menagapa dia membeli buku itu. Kutulis dalam selembar kertasapa yang ada di pikiranku.
“kanapa kau membeli buku itu? “ tulisku di kertas itu.
“ aku ingin mendalami bahasa isyarat agar memahami bahasamu.”
Aku berucap dengan batinku sendiri.”benarkah yang dia katakan, jujurkah aoa yang dia ungkapkan. Aku takut dia mendustaiku. Namun, hati ini yakin jika dia tak mungkin berdusta.
“kenapa?” dia balik bertanya padaku.
Gelengan kepalaku bertanda gak ada apa-apa dan tak ada masalah bagiku.
Usai belanja buku, dia mengantarkanku pualng ke rumah. Aku merasakan Reza itu spesial dna berbeda dengan yang lain. Aku merasakan hangat kasihnya yang ia berikan padaku. Senyum manis dan lesung di pipinya mengakhiri pertemuan pertama antara aku dan dia untuk hari ini.
Pertemuan pertama yang snagat indah. Tahukah kau? Hatiku bergeming saat kau membelaku di depan geng kancil itu. Pegangan erat tanganmu menentramkan jiwaku. Jantungku berdetak hebat ketika kau mengajakku berbicara. Hatiku berkata  kaulah malaikat yang telah lama kunantikan.
Doaku di malam ini. “ Tuhan, tolong sembuhkan pikiranku jika kejadian tadi siang hanya ilusi semata dan jika nyata benar adanya, tolonglah dekatkan aku padanya di kemudian hari.”


No comments:

Post a Comment

KONEKSI ANTAR MATERI KESIMPULAN DAN REFLEKSI MODUL 1.1

  Ki Hajar Dewantara merupakan sosok yang sangat pantas mendapatkan julukan sebagai Bapak Pendidikan. Beliau tidak pernah merasa putus asa u...