Aku tak tahu bagaimana
bisa aku mengenalnya. Sampai sekarang aku selalu bertanya pada diriku sendiri,
bagaimana bisa aku sedekat ini dengannya. Orang yang sama sekali belum pernah
kutemui. Aku hanya bisa menatapnya lewat jendela layar monitorku, tanpa bisa
kumenatap langsung kedua bola matanya. Aku ingin menatapnya lebih dalam lagi
saat kedua bola mataku dan dia bertemu. Tapi, waktu belum mengijinkan aku bertemu
dengan sosoknya dan aku harus sabar. Aku yakin, suatu saat nanti pasti bisa
bertemu dengannnya. Seorang wanita cantik dan baik hati yang kujumpai lewat alam
maya.
Aku belum pernah
bertatap secara langsung dengannya. Tapi, jiwaku berkobar kalau aku tak mau
melepaskannya. Buatku, kecantikan fisik tidaklah menjadi sebuah masalah besar
dalam menjalin cinta. Aku mencintainya karena akhlaknya. Aku mengenali
akhlaknya terlebih dahulu daripada fisiknya. Entahlah fisiknya seperti apa yang
jelas hatiku sudah memilihnya. Menurutku, kacantikan fisik hanya menduduki 25%
dalam percintaan, yang 75 % yakni
kacantikan akhlaknya. Kecantikan fisik tak selamanya dimiliki dan
semakin tua kecantikannya pun semakin pudar. Beda dengan kecantikan akhlak,
jika telah tertanam akhlak yang baik sejak dini ke depannya tak pernah pudar
dan hidupnya senantiasa bermanfaat bagi orang lain.
Berawal dari rasa kagum
dan semakin lama diriku semakin tumbuh rasa cinta. Sebuah rasa yang kata orang
selalu membuat hati dagdigdug tak karuan. Membuat hidup yang tadinya tak
berharga menjadi lebih berharga. Membuat angan yang tadinya tak ada yang
dipikirkn menjadi selalu teringat akan dirinya. Membuat diriku yang sudah lelah
mencari cinta kembali semangat menjalani ikatan cinta. Membuatku senyum-senyum
sendiri ketika lagi tak ada kawan. Entahlah apa yang aku pikirkan. Mungkin
terlalu lebay. Dan yang paling tragis,
ketika aku tak pernah ngelindur memanggil nama cewek, kini hampir sehari dalam
seminggu terus saja memanggil namanya. Aku malu ketika nenekku mengetahuinya
dan apa daya tak bisa kumenyangkalnya karena memang aku sedang memikirkan
dirinya.
Aku mencintainya karena
akhlaknya. Kebaikan akhlaknya membutakan mata batinku, pintu hatiku kembali
terbuka dan mata hatiku kembali bangun dari tidur lamanya. Sudah sekian lama
kumenjalani hidup tanpa seorang kekasih. Bagiku, kisah masa lalu sudah
menghabiskan naluriku untuk menjalin cinta yang tak pasti. Dua tahun bersama
cinta laluku, kurasakan begitu banyak waktuku tersita untuk memikirkannya. Aku
tak mau lagi mengulang kisah yang sama. Kini, kubuka lembaran baru untuk seseorang
yang insyaalloh akan kupilih menjadi wanita penghebat ketiga setelah ibu dan
nenekku yang akan menemani sisa-sisa hidupku kelak. Ibu dan nenekku adalah
sosok wanita penghebat dalam hidupku, berkat mereka aku bisa hidup di dunia ini
dengan penuh rasa syukur. Mereka tak pernah mengajariku mengeluh, kemandirian
yang mereka utamakan.
Aku rasa Dini pantas
menjadi wanita penghebat ketiga di hidupku. Akhlaknya membuat hatiku yang
tadinya beku kini perlahan-lahan melted. Sungguh dia membawaku tuk
kembali menuju jalan yang diridhoi Alloh. Dia membawaku lebih mengenal Tuhanku,
Tuhanya dan Tuhan kita. Dia menyadarkanku akan pentingnya ibadah kepada sang kholiq.
Sholat di tengah malam yang telah lama kutinggalkan, kini mulai kubangun
kembali. Puasa sunnah yang dulu sewaktu kuliah menjadi kebiasaanku, kini mulai
kujalani lagi. Aku bangga mengenal sosoknya. Wanita lugu yang berakhlakul
karimah. Satu hal yang kutakutkan yakni melepas dia. Sungguh aku lelaki tak
berpikir jika kuharus melepas sosok yang sangat diidamkan oleh lelaki bahkan
orang tua. Aku tak akan melepaskannya kecuali takdir yang memisahkan.
Aku dan Dini selalu
bangun membangunkan di kala sepertiga malam. Aku menyebutnya “kencan
istimewa” karena jarang sekali kujumpai kencan di sepertiga malam. Saling beribadah
menjalankan sunnah-Nya di tempat yang berbeda. Dan kuakui baru kali ini, aku
benar-benar terpikat pada sosok yang belum lama kukenal. Namun, dini sangat
meyakinkan hatiku untuk memilihnya. Sebulan kumengenalinya, aku sudah bisa
terbuka dengannya. Padahal, aku termasuk tipe lelaki yang tertutup, tapi
dengannya aku tak mampu berbohong dan menutupi semua masalahku. Memang kuakui
aneh tapi nyata. Bagaimana bisa menceritakan masalah keluargaku kepada sosoknya
yang belum lama ini kukenal. Pertanyaan yang selalu muncul di lubuk pikiranku
dan sulit sekali tuk kupecahkan. Dengannya kutemukan jati diriku kembali dan
kuakui aku bahagia mengenalnya.
Tak jarang kumemohon
petunjuk kepada sang Illahi agar diberikan pencerahan mendalam. Aku menginginkannya
bukan sebagai pacar akan tetapi sebagai kekasih yang siap menemaniku sepanjang
sisa hidupku. Entahlah apa yang ada di pikiranku. Rasanya baru kali ini
kumenemukan sosok yang sehati denganku. Mungkinkah dia merasakan yang aku
rasakan. Semoga dia bisa mengerti perasaanku walaupun tak kuceritakan. Aku
berharap dia mau menerimaku kurang dan lebihnya. Now, i’m nothing for her,
but sometime i can be someone for her.
Terkadang aku berpikir
“apakah benar ia jodohku? Apakah benar Alloh mempertemukanku dengan cara yang
demikian? Apakah benar mimpiku selama ini tentang dirinya? Ya Alloh, berikan
petunjuk-Mu. Berikan kekuatan yang dahsyat untuk menerima semua takdir-Mu. Aku
mengimani-Mu dan aku sangat percaya akan semua yang Engkau takdirkan untuk
hamba-Mu. Haruskah kutetaskan air mata ini jika dia bukan jodohku? Haruskah
kumenolak takdir-Mu dan tak sanggup menerimanya? Kuatkan aku ya Alloh jika
memang dia bukan jodohku. Tapi, aku berdoa sepanjang siang dan malam di
sholatku agar dipertemukannya dalam sebuah ikatan sakral kisah cinta.
Pernikahan.
####%%
Janji adalah janji.
Apabila sengaja dilanggar akan mendapat balasan yang paling agung di akhirat.
Seperti halnya diriku yang telah berjanji padanya kalau aku ingin menjadi
penjaga kekosongan hatinya dan menjadi motivator yang selalu memotivaasi dirinya.
Karena kutahu semangat kuliahnya mudah luntur kalau tak ada yang memotivasi. Aku
memikul sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan karena aku mencintainya dan
bukan nafsu belaka.
Hal yang membuatku
semakin mengidam-idamkannya ialah dimana dia tak mau menemuiku selain di
rumahnya. Inilah tantangan terberatku karena semenjak aku dekat dengan cewe
belum pernah seperti ini. Ketemuan hanya di sekolahan atau kampus terus main.
Untuk kali ini terasa beda. Baru pertama ketemu dan langsung ngajak ketemuan di
rumah. Kalau dipikir-pikir memang bener si? Kalau di rumah jelas orang tua tahu
kenalannya anaknya sendiri juga bisa langsung kenalan dengan orang tuanya. Aku
menerima tantangan itu dan aku janji ketika aku libur kerja dan dia libur
kuliah aku akan meneminya langsung di rumah. Dia sangat senang atas
keputusanku.
Suatu ketika, aku libur
kerja dan dia libur kuliah. Aku berniat untuk datang ke rumahnya menepati
janjiku yang telah lama kuukir. Begitu jauh rumahku dengan rumahnya. Hampir 5
jam untuk sampai di tempat Dini. Namun, jarak bukan masalah bagiku karena aku
sudah terlanjur mencintainya. Hatiku sudah kumantapkan untuknya. Niat dalam
dada sudah terpikat erat untuk serius bukan bercanda.
Hari ini, semua
angan-anganku tentangnya akan terjawab. Aku akan bertemu sosok yang selama ini
selalu indah di mataku. Aku ingin menatapnya lewat hati. Apapun bentuk fisikmu
tak jadi masalah bagiku.”Kalau cinta itu hanya memandang dari segi fisiknya
saja, sama saja kita memungkiri ciptaan sang maha pencipta.”
“Bismillahirrokhmanirrokhim.”
Aku beranjak dari tempatku menuju tempatnya. Tak lupa kumemohon restu dari ibu
dan nenekku. Mereka bahagia, tercermin dari raut mukanya yang nampak sumringah.
Kucium tangan kedua wanita penghebat hidupku.
“Anakku, raihlah cinta
yang telah lama kau impikan. Kejarlah dia sampai dapat, kejarlah terus jangan
mundur di tengah jalan. Apabila kau memang niat menjalin cinta suci dengannya
pasti Yang Maha Cinta akan meridoi perjalanan cintamu Nak. Temui dia dan
sampaikan salam terhangat Ibu untuknya.” Kata ibu dengan nada suara yang
membuatku terharu tapi bahagia. Rangkaian kata-katanya semakin membulatkan
tekadku untuk menjumpai calon wanita penghebat ketiga di hidupku.
“Iya, Bu. Aku akan
berusaha mengejarnya karena aku telah yakin, dialah wanita dalam bunga tidurku.
Insyaallloh dengan ijin-Nya cinta ini akan menjadi nyata dan tak semu lagi. Doain anakmu ini ya Ibu, Nenek?” pintaku dengan penuh harapan.
“Iya nak, doa ibu dan
nenek akan selalu menyertaimu.” Jawab ibu.
“Terimakasih bu. Aku
berangkat dulu bu,”
“Iya, Nak. Hati-hati di
jalan, jangan lupa berdoa ya?”
“Iya, Bu.
Assalamualaikum.” Kataku sambil mengangguk dan memberi salam.
“Wa’alaikumsalam.” Ucap
Ibu dan Nenekku serentak.
Perjalanan jauh bagiku
sudah biasa, karena dulu aku juga manimba ilmu di kota yang terbilang jauh dari
kampungku. Dulu aku menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi di Kota
pelajar, Yogyakarta. Hampir 5 jam untuk sampai di Jogja. Kini, aku beranjak ke
kota yang butuh perjalanan panjang untuk sampai di sana. Kubuka alamat darinya,
Desa Pringtuo, Prembun, Kebumen. Untuk pertama kalinya aku pergi ke tempat itu
dan sama sekali aku tak tahu di mana tempat itu. Tapi, keyakinanku benar-benar
tinggi, tak ada rasa gundah gulana, tak ada rasa takut tersesat. Selagi masih
punya lisan yang terjaga dan mampu bicara, pastilah takkan ada kata tersesat.
Toh, aku juga ada aplikasi google map yang bisa melacak tempat mana yang
akan dituju dan temanku sudah menggambarkan peta untukku. Insyaalloh tak akan
tersesat.
“Tinggal separuh jalan
lagi untuk sampai di tempatnya,” pikirku dalam hati sembari memegang gas sepeda
motorku. Kumelaju begitu cepat karena jalanan masih sepi, belum ramai terjamah
penikmat lalu lintas yang lain. Adzan subuh terdengar di telingaku, begitu
jelasnya. Kuberhenti sejenak di salah satu masjid di seberang jalan untuk
menunaikan kewajibanku sebagai umat muslim, sholat subuh. Terasa segar sekali
ketika selesai sholat. Sejuk batin dan pikiranku.
Kulanjutkan lagi
perjalananku yang tinggal separuh jalan. Bekalku hanyalah niat, usaha, doa dan semangat meraih mimpiku menemuinya.
Berpuluh-puluh lampu lalu lintas kulalui, belum juga memasuki Kota Kebumen.
“Mungkin masih jauh,”
batinku.
Akan tetapi, di pelupuk mataku terlihat
“ Selamat Datang di Kota Kebumen Beriman”
Tugu selamat datang melambangkan tak lama lagi aku akan sampai.
Kubuka google map dan kucari
alamat Dini. Terdeteksi dan insyaalloh Alloh akan memberikan jalan terang
untukku. Kuikuti jalan yang tertunjuk di map.jelas dan sangat jelas jalannya.
Ponselku berdering kencang. Ternyata
dini mengirim sms padaku.
“Kakak, aku sudah
berada di sebelah kiri jalan besar, jalan lalu lintas utama antar kabupaten.
Kamu sampai mana kak?”
“Aku sampai pom bensin
setelah terminal Kota Kebumen dek. Masih jauh gak ke rumahmu?” balasku.
“Enggak kak. Lurus
terus mengikuti jalan besar itu. Berhentilah di perempatan yang ada lampu lalu
lintasnya. Aku berada di sebelah kiri jalan kak.” Balas Dini.
Aku bergerak menuju ke
tampat itu. Dan benar kata Dini, tidak jauh. Seperempat jam aku sampai. Dan
kulihat wanita berhijab biru, berparas cantik, anggun dan lemah lembut di
sebelah kiri jalan. Mungkinkah itu Dini, pikirku.
Aku berhenti tepat di depan wanita itu. Dia
menatapku sembari tersenyum manis. Akupun tak sanggup menolak tatapannya.
Begitu indah di mataku. Dia beranjak ke arahku dan menyambutku dengan uluran
tangan, bersalaman.
“Aku Dini, kamu kak
Gigih kan?” ucapnya dengan suara lembut.
“Iya, dek. Akhirnya
kita bisa berjumpa ya?” balasku dengan nada yang amat gugup. Dia lebih indah
dari yang kubayangkan. Wanita ber-akhlakul karimah nan husnunnisa’.
“Ayo ke rumahku kak,
ayah dan ibu sudah lama menunggumu.” Ajaknya pelan.
Aku hanya mengangguk tanda setuju.
Aku mengikuti arah
sepeda motornya. Sepanjang jalan kumengikutinya, aku hanya bisa senyum-senyum
sendiri persis kayak orang gila. Mungkin orang-orang di jalan menganggapku
gila, ya gila. Tapi, apa boleh buat. Tak perlu kupikirkan.
Seperampat jam berlalu,
dia berhenti di sebuah rumah sederhana tempat di pinggir jalan. Akupun
berhenti. Kulihat kedua orang tuanya dan adik kecilnya berdiri menyambutku. Aku
tersipu malu. Tapi, aku harus tetap jantan. Ini bukti keseriusanku padanya.
Mereka mengajakku masuk
ke dalam rumah. Persis yang Dini ceritakan, rumahnya sangat sederhana, namun
hidupnya bahagia. Keluarganya utuh, tak seperti keluargaku yang bercerai berai.
Aku hanya hidup dengan nenekku. Ayah meninggalkanku dan ibu sejak aku masih
dalam kandungan. Kini, Ibupun mengikuti suaminya yang kedua dan mengawali
kehidupan barunya dengan keluarga baru.
Dini mengajakku masuk
ke dalam rumah. Orang tuanya nampak menerimaku jika dilihat dari kasat mata.
Mereka sangat sopan denganku sehingga membuatku tak merasa canggung sedikitpun
berjumpa dengan keluarganya. Aku bahagia. Sangat bahagia.
Kebahagianku bertambah
ketika adeknya dini yang masih kecil sangat menerimaku. Dia mau main denganku.
Untungnya aku sudah membeli Puzzle Hello Kitty yang kupersiapkan hanya
untuk si adek. Aku bermain kesana ke mari dengannya. Terlihat raut muka
kepolosan dalam wajahnya. Sementara Dini menyiapkan makanan untuk tamu
spesialnya. Aku menunggunya dengan penuh kesabaran dan kabahagiaan.
Tak lama kemudian Dini
siap menyajikan makanan di hadapanku karena dia tahu sedari pagi aku belum
makan. Setelah dipersilahkan makan aku makan dengan lahapnya ditemani pujaan
hatiku. Rasanya enak sekali. Sesekali aku dan dini bercanda gurau sambil
melahap makanan. Aku berharap bukan hanya hari ini saja dia ada mempersiapkan
makanan di hadapanku , akan tetapi untuk waktu yang panjang.
Selesai makan aku kembali bermain dengan
si adek kecil.
Kulihat wajah dini
berubah. Langsung murung, cemas, gelisah dan sepertinya ada hal yang
disembunyikan setelah dia membuka sebuah sms.
“Sebetulnya apa yang sudah terjadi? Tak
seperti tadi pagi. Dini yang tadi pagi kutemui bukan seperti ini. Dia ceria,
tapi kenapa ko sekarang berubah menjadi wanita yang galau?” pikirku dalam hati.
Pembicaraan kamipun sangat terasa datar,
krik krik krik. Dia jarang merespon apa yang kuungkapkan. Terlalu sibuk
dengan ponselnya. Sebetulnya aku pengin meminjam ponselnya tapi setelah
kupikir-pikir apa hakku meminjamnya. Aku bukan siapa-siapanya. Bertemu juga
baru tadi pagi. Kubiarkan dia sibuk sendiri. Namun lama kelamaan dia sadar.
Raut mukaku tak se-fresh tadi. Sedikit muram. Akhirnya dia menceritakan
apa yang terjadi.
Paman tersayangnya
mengirim sebuah sms yang intinya berisi tentang “ jangan mudah percaya pada
orang yang baru dikenal”.
Kubaca sms itu dan aku
sadar ternyata kesan pertama mereka padaku tak semanis raut mukanya. Semangatku
langsung drop. Galau merajalela di pikiranku. Aku terdiam sembari
memikirkan apa yang harus kulakukan. Padahal dalam planning ku dan dini
sudah tertulis akan mengunjungi Pantai Karang Bolong. Tapi, melihat situasi
yang seperti ini sangat mustahil jika kuharus menuruti nafsu dan keinginanku.
Aku harus menjaga perasaan Dini. Aku tahu keluarganya sangat menyayangi
putrinya.
“Kak,
sekarang kamu sudah tahu apa yang terjadi.” Ucap Dini
“Ya,
aku tahu. Dan lebih baik setelah Sholat Dhuhur aku langsung pulang saja.”
Jawabku.
“Katanya
mau ke Pantai Karang Bolong?” tanyanya
“Udah
gak jadi. Aku lebih kasihan sama kamu. Coba dipikirkan jika aku menuruti
keinginanku untuk mengunjungi pantai itu jelas pikiran mereka akan bertambah
negatif tentang diriku. Apalagi ini kesan pertama dan aku yakin akan tertanan
selamanya dalam pkiran.” Balasku.
“Iya
aku tahu. Tapi kan kamu jauh-jauh ke sini masa gak main ke objek wisata?”
tanyanya lagi.
“Udah
gak papa. Aku percaya suatu saat aku bisa ke situ ko.daripada kamu nanti di
sidang oleh keluargamu mending aku aja yang pulang. Yang jelas tujuanku ke
sini, bukan untuk bermain ke pantai tapi menunjukkan keseriusanku terhadapmu.
Udah
gak usah nangis. Gak perlu meneteskan air mata.simapan air matamu untuk hal-hal
yang lebih penting dari ini,” jelasku. Jujur, aku merasa bersalah pada Dini.
Aku tahu dia musah nangis dan kini dia benar-benar menangis di hadapanku. Ya
Alloh aku bingung. Haruskah kumemeluknya? Oh tidak. Dia belum semuhrim
denganku. aku hanya bisa menasihatinya agar tidak mengucurkan air mata lagi.
“Beneran
kak?” tanyanya dengan suara terbata-bata.
“Iya.”
Kataku mencoba meyakinkannya. Jika dia tahu apa yang kurasakan pasti akan lebih
terpukul dari ini. lebih baik kumenjaga perasaannya. Biar aku saja yang kecewa.
Kumencoba tertawa tapi sejujurnya itu palsu. Aku kecewa. Aku letih.
Adzan dhuhur sudah
berkumandang dan sangat jelas terdengar di telingaku. Ayah Dini mengajakku ke
mushola. Sangat tak pantas jika aku menolaknya.
Seusai sholat aku pamit permisi pulang
ke rumah. Dini masih nangis tak henti-hentinya. Kucoba menenangkannya terlebih
dahulu baru kemudian kupulang. Sedih bercampur haru tangisan. Di hari ulang
tahunku ini, tak disangka mendapat kejutan yang membuat hatiku teriris-iris.
Pecah berkeping-keping. Dan harapanku musnah seketika untuk memilikinya. Aku
tahu keluarganya sudah menutup rapat-rapat pintunya untuk mengijinkakku masuk
ke dalamnya. Aku pulang dengan berjuta cucuran air mata. Tangan hampa dan
sebuah luka yang menusuk dada.
No comments:
Post a Comment