Wednesday, August 6, 2014

Very fast and Very Kill me




Aku tak tahu bagaimana bisa aku mengenalnya. Sampai sekarang aku selalu bertanya pada diriku sendiri, bagaimana bisa aku sedekat ini dengannya. Orang yang sama sekali belum pernah kutemui. Aku hanya bisa menatapnya lewat jendela layar monitorku, tanpa bisa kumenatap langsung kedua bola matanya. Aku ingin menatapnya lebih dalam lagi saat kedua bola mataku dan dia bertemu. Tapi, waktu belum mengijinkan aku bertemu dengan sosoknya dan aku harus sabar. Aku yakin, suatu saat nanti pasti bisa bertemu dengannnya. Seorang wanita cantik dan baik hati yang kujumpai lewat alam maya.
Aku belum pernah bertatap secara langsung dengannya. Tapi, jiwaku berkobar kalau aku tak mau melepaskannya. Buatku, kecantikan fisik tidaklah menjadi sebuah masalah besar dalam menjalin cinta. Aku mencintainya karena akhlaknya. Aku mengenali akhlaknya terlebih dahulu daripada fisiknya. Entahlah fisiknya seperti apa yang jelas hatiku sudah memilihnya. Menurutku, kacantikan fisik hanya menduduki 25% dalam percintaan, yang 75 % yakni  kacantikan akhlaknya. Kecantikan fisik tak selamanya dimiliki dan semakin tua kecantikannya pun semakin pudar. Beda dengan kecantikan akhlak, jika telah tertanam akhlak yang baik sejak dini ke depannya tak pernah pudar dan hidupnya senantiasa bermanfaat bagi orang lain.
Berawal dari rasa kagum dan semakin lama diriku semakin tumbuh rasa cinta. Sebuah rasa yang kata orang selalu membuat hati dagdigdug tak karuan. Membuat hidup yang tadinya tak berharga menjadi lebih berharga. Membuat angan yang tadinya tak ada yang dipikirkn menjadi selalu teringat akan dirinya. Membuat diriku yang sudah lelah mencari cinta kembali semangat menjalani ikatan cinta. Membuatku senyum-senyum sendiri ketika lagi tak ada kawan. Entahlah apa yang aku pikirkan. Mungkin terlalu lebay.  Dan yang paling tragis, ketika aku tak pernah ngelindur memanggil nama cewek, kini hampir sehari dalam seminggu terus saja memanggil namanya. Aku malu ketika nenekku mengetahuinya dan apa daya tak bisa kumenyangkalnya karena memang aku sedang memikirkan dirinya.
Aku mencintainya karena akhlaknya. Kebaikan akhlaknya membutakan mata batinku, pintu hatiku kembali terbuka dan mata hatiku kembali bangun dari tidur lamanya. Sudah sekian lama kumenjalani hidup tanpa seorang kekasih. Bagiku, kisah masa lalu sudah menghabiskan naluriku untuk menjalin cinta yang tak pasti. Dua tahun bersama cinta laluku, kurasakan begitu banyak waktuku tersita untuk memikirkannya. Aku tak mau lagi mengulang kisah yang sama. Kini, kubuka lembaran baru untuk seseorang yang insyaalloh akan kupilih menjadi wanita penghebat ketiga setelah ibu dan nenekku yang akan menemani sisa-sisa hidupku kelak. Ibu dan nenekku adalah sosok wanita penghebat dalam hidupku, berkat mereka aku bisa hidup di dunia ini dengan penuh rasa syukur. Mereka tak pernah mengajariku mengeluh, kemandirian yang mereka utamakan.
Aku rasa Dini pantas menjadi wanita penghebat ketiga di hidupku. Akhlaknya membuat hatiku yang tadinya beku kini perlahan-lahan melted. Sungguh dia membawaku tuk kembali menuju jalan yang diridhoi Alloh. Dia membawaku lebih mengenal Tuhanku, Tuhanya dan Tuhan kita. Dia menyadarkanku akan pentingnya ibadah kepada sang kholiq. Sholat di tengah malam yang telah lama kutinggalkan, kini mulai kubangun kembali. Puasa sunnah yang dulu sewaktu kuliah menjadi kebiasaanku, kini mulai kujalani lagi. Aku bangga mengenal sosoknya. Wanita lugu yang berakhlakul karimah. Satu hal yang kutakutkan yakni melepas dia. Sungguh aku lelaki tak berpikir jika kuharus melepas sosok yang sangat diidamkan oleh lelaki bahkan orang tua. Aku tak akan melepaskannya kecuali takdir yang memisahkan.
Aku dan Dini selalu bangun membangunkan di kala sepertiga malam. Aku menyebutnya “kencan istimewa” karena jarang sekali kujumpai kencan di sepertiga malam. Saling beribadah menjalankan sunnah-Nya di tempat yang berbeda. Dan kuakui baru kali ini, aku benar-benar terpikat pada sosok yang belum lama kukenal. Namun, dini sangat meyakinkan hatiku untuk memilihnya. Sebulan kumengenalinya, aku sudah bisa terbuka dengannya. Padahal, aku termasuk tipe lelaki yang tertutup, tapi dengannya aku tak mampu berbohong dan menutupi semua masalahku. Memang kuakui aneh tapi nyata. Bagaimana bisa menceritakan masalah keluargaku kepada sosoknya yang belum lama ini kukenal. Pertanyaan yang selalu muncul di lubuk pikiranku dan sulit sekali tuk kupecahkan. Dengannya kutemukan jati diriku kembali dan kuakui aku bahagia mengenalnya.
Tak jarang kumemohon petunjuk kepada sang Illahi agar diberikan  pencerahan mendalam. Aku menginginkannya bukan sebagai pacar akan tetapi sebagai kekasih yang siap menemaniku sepanjang sisa hidupku. Entahlah apa yang ada di pikiranku. Rasanya baru kali ini kumenemukan sosok yang sehati denganku. Mungkinkah dia merasakan yang aku rasakan. Semoga dia bisa mengerti perasaanku walaupun tak kuceritakan. Aku berharap dia mau menerimaku kurang dan lebihnya. Now, i’m nothing for her, but sometime i can be someone for her.
Terkadang aku berpikir “apakah benar ia jodohku? Apakah benar Alloh mempertemukanku dengan cara yang demikian? Apakah benar mimpiku selama ini tentang dirinya? Ya Alloh, berikan petunjuk-Mu. Berikan kekuatan yang dahsyat untuk menerima semua takdir-Mu. Aku mengimani-Mu dan aku sangat percaya akan semua yang Engkau takdirkan untuk hamba-Mu. Haruskah kutetaskan air mata ini jika dia bukan jodohku? Haruskah kumenolak takdir-Mu dan tak sanggup menerimanya? Kuatkan aku ya Alloh jika memang dia bukan jodohku. Tapi, aku berdoa sepanjang siang dan malam di sholatku agar dipertemukannya dalam sebuah ikatan sakral kisah cinta. Pernikahan.

####%%

Janji adalah janji. Apabila sengaja dilanggar akan mendapat balasan yang paling agung di akhirat. Seperti halnya diriku yang telah berjanji padanya kalau aku ingin menjadi penjaga kekosongan hatinya dan menjadi motivator yang selalu memotivaasi dirinya. Karena kutahu semangat kuliahnya mudah luntur kalau tak ada yang memotivasi. Aku memikul sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan karena aku mencintainya dan bukan nafsu belaka.
Hal yang membuatku semakin mengidam-idamkannya ialah dimana dia tak mau menemuiku selain di rumahnya. Inilah tantangan terberatku karena semenjak aku dekat dengan cewe belum pernah seperti ini.  Ketemuan  hanya di sekolahan atau kampus terus main. Untuk kali ini terasa beda. Baru pertama ketemu dan langsung ngajak ketemuan di rumah. Kalau dipikir-pikir memang bener si? Kalau di rumah jelas orang tua tahu kenalannya anaknya sendiri juga bisa langsung kenalan dengan orang tuanya. Aku menerima tantangan itu dan aku janji ketika aku libur kerja dan dia libur kuliah aku akan meneminya langsung di rumah. Dia sangat senang atas keputusanku.
Suatu ketika, aku libur kerja dan dia libur kuliah. Aku berniat untuk datang ke rumahnya menepati janjiku yang telah lama kuukir. Begitu jauh rumahku dengan rumahnya. Hampir 5 jam untuk sampai di tempat Dini. Namun, jarak bukan masalah bagiku karena aku sudah terlanjur mencintainya. Hatiku sudah kumantapkan untuknya. Niat dalam dada sudah terpikat erat untuk serius bukan bercanda.
Hari ini, semua angan-anganku tentangnya akan terjawab. Aku akan bertemu sosok yang selama ini selalu indah di mataku. Aku ingin menatapnya lewat hati. Apapun bentuk fisikmu tak jadi masalah bagiku.”Kalau cinta itu hanya memandang dari segi fisiknya saja, sama saja kita memungkiri ciptaan sang maha pencipta.”

“Bismillahirrokhmanirrokhim.” Aku beranjak dari tempatku menuju tempatnya. Tak lupa kumemohon restu dari ibu dan nenekku. Mereka bahagia, tercermin dari raut mukanya yang nampak sumringah. Kucium tangan kedua wanita penghebat hidupku.

“Anakku, raihlah cinta yang telah lama kau impikan. Kejarlah dia sampai dapat, kejarlah terus jangan mundur di tengah jalan. Apabila kau memang niat menjalin cinta suci dengannya pasti Yang Maha Cinta akan meridoi perjalanan cintamu Nak. Temui dia dan sampaikan salam terhangat Ibu untuknya.” Kata ibu dengan nada suara yang membuatku terharu tapi bahagia. Rangkaian kata-katanya semakin membulatkan tekadku untuk menjumpai calon wanita penghebat ketiga di hidupku.

“Iya, Bu. Aku akan berusaha mengejarnya karena aku telah yakin, dialah wanita dalam bunga tidurku. Insyaallloh dengan ijin-Nya cinta ini akan menjadi nyata  dan tak semu lagi. Doain anakmu ini ya Ibu, Nenek?”  pintaku dengan penuh harapan.
“Iya nak, doa ibu dan nenek akan selalu menyertaimu.” Jawab ibu.
“Terimakasih bu. Aku berangkat dulu bu,”
“Iya, Nak. Hati-hati di jalan, jangan lupa berdoa ya?”
“Iya, Bu. Assalamualaikum.” Kataku sambil mengangguk dan memberi salam.
“Wa’alaikumsalam.” Ucap Ibu dan Nenekku serentak.

Perjalanan jauh bagiku sudah biasa, karena dulu aku juga manimba ilmu di kota yang terbilang jauh dari kampungku. Dulu aku menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi di Kota pelajar, Yogyakarta. Hampir 5 jam untuk sampai di Jogja. Kini, aku beranjak ke kota yang butuh perjalanan panjang untuk sampai di sana. Kubuka alamat darinya, Desa Pringtuo, Prembun, Kebumen. Untuk pertama kalinya aku pergi ke tempat itu dan sama sekali aku tak tahu di mana tempat itu. Tapi, keyakinanku benar-benar tinggi, tak ada rasa gundah gulana, tak ada rasa takut tersesat. Selagi masih punya lisan yang terjaga dan mampu bicara, pastilah takkan ada kata tersesat. Toh, aku juga ada aplikasi google map yang bisa melacak tempat mana yang akan dituju dan temanku sudah menggambarkan peta untukku. Insyaalloh tak akan tersesat.

“Tinggal separuh jalan lagi untuk sampai di tempatnya,” pikirku dalam hati sembari memegang gas sepeda motorku. Kumelaju begitu cepat karena jalanan masih sepi, belum ramai terjamah penikmat lalu lintas yang lain. Adzan subuh terdengar di telingaku, begitu jelasnya. Kuberhenti sejenak di salah satu masjid di seberang jalan untuk menunaikan kewajibanku sebagai umat muslim, sholat subuh. Terasa segar sekali ketika selesai sholat. Sejuk batin dan pikiranku.
Kulanjutkan lagi perjalananku yang tinggal separuh jalan. Bekalku hanyalah niat, usaha,  doa dan semangat meraih mimpiku menemuinya. Berpuluh-puluh lampu lalu lintas kulalui, belum juga memasuki Kota Kebumen.
“Mungkin masih jauh,” batinku.
Akan tetapi, di pelupuk mataku terlihat “ Selamat Datang di Kota Kebumen Beriman”  Tugu selamat datang melambangkan tak lama lagi aku akan sampai.
Kubuka google map dan kucari alamat Dini. Terdeteksi dan insyaalloh Alloh akan memberikan jalan terang untukku. Kuikuti jalan yang tertunjuk di map.jelas dan sangat jelas jalannya.
Ponselku berdering kencang. Ternyata dini mengirim sms padaku.

“Kakak, aku sudah berada di sebelah kiri jalan besar, jalan lalu lintas utama antar kabupaten. Kamu sampai mana kak?”
“Aku sampai pom bensin setelah terminal Kota Kebumen dek. Masih jauh gak ke rumahmu?” balasku.
“Enggak kak. Lurus terus mengikuti jalan besar itu. Berhentilah di perempatan yang ada lampu lalu lintasnya. Aku berada di sebelah kiri jalan kak.” Balas Dini.
Aku bergerak menuju ke tampat itu. Dan benar kata Dini, tidak jauh. Seperempat jam aku sampai. Dan kulihat wanita berhijab biru, berparas cantik, anggun dan lemah lembut di sebelah kiri jalan. Mungkinkah itu Dini, pikirku.
Aku berhenti tepat di depan wanita itu. Dia menatapku sembari tersenyum manis. Akupun tak sanggup menolak tatapannya. Begitu indah di mataku. Dia beranjak ke arahku dan menyambutku dengan uluran tangan, bersalaman.

“Aku Dini, kamu kak Gigih kan?” ucapnya dengan suara lembut.
“Iya, dek. Akhirnya kita bisa berjumpa ya?” balasku dengan nada yang amat gugup. Dia lebih indah dari yang kubayangkan. Wanita ber-akhlakul karimah nan husnunnisa’.
“Ayo ke rumahku kak, ayah dan ibu sudah lama menunggumu.” Ajaknya pelan.
Aku hanya mengangguk tanda setuju.
Aku mengikuti arah sepeda motornya. Sepanjang jalan kumengikutinya, aku hanya bisa senyum-senyum sendiri persis kayak orang gila. Mungkin orang-orang di jalan menganggapku gila, ya gila. Tapi, apa boleh buat. Tak perlu kupikirkan.
Seperampat jam berlalu, dia berhenti di sebuah rumah sederhana tempat di pinggir jalan. Akupun berhenti. Kulihat kedua orang tuanya dan adik kecilnya berdiri menyambutku. Aku tersipu malu. Tapi, aku harus tetap jantan. Ini bukti keseriusanku padanya.
Mereka mengajakku masuk ke dalam rumah. Persis yang Dini ceritakan, rumahnya sangat sederhana, namun hidupnya bahagia. Keluarganya utuh, tak seperti keluargaku yang bercerai berai. Aku hanya hidup dengan nenekku. Ayah meninggalkanku dan ibu sejak aku masih dalam kandungan. Kini, Ibupun mengikuti suaminya yang kedua dan mengawali kehidupan barunya dengan keluarga baru.
Dini mengajakku masuk ke dalam rumah. Orang tuanya nampak menerimaku jika dilihat dari kasat mata. Mereka sangat sopan denganku sehingga membuatku tak merasa canggung sedikitpun berjumpa dengan keluarganya. Aku bahagia. Sangat bahagia.
Kebahagianku bertambah ketika adeknya dini yang masih kecil sangat menerimaku. Dia mau main denganku. Untungnya aku sudah membeli Puzzle Hello Kitty yang kupersiapkan hanya untuk si adek. Aku bermain kesana ke mari dengannya. Terlihat raut muka kepolosan dalam wajahnya. Sementara Dini menyiapkan makanan untuk tamu spesialnya. Aku menunggunya dengan penuh kesabaran dan kabahagiaan.
Tak lama kemudian Dini siap menyajikan makanan di hadapanku karena dia tahu sedari pagi aku belum makan. Setelah dipersilahkan makan aku makan dengan lahapnya ditemani pujaan hatiku. Rasanya enak sekali. Sesekali aku dan dini bercanda gurau sambil melahap makanan. Aku berharap bukan hanya hari ini saja dia ada mempersiapkan makanan di hadapanku , akan tetapi untuk waktu yang panjang.
Selesai makan aku kembali bermain dengan si adek kecil.
Kulihat wajah dini berubah. Langsung murung, cemas, gelisah dan sepertinya ada hal yang disembunyikan setelah dia membuka sebuah sms.
 “Sebetulnya apa yang sudah terjadi? Tak seperti tadi pagi. Dini yang tadi pagi kutemui bukan seperti ini. Dia ceria, tapi kenapa ko sekarang berubah menjadi wanita yang galau?” pikirku dalam hati.
Pembicaraan kamipun sangat terasa datar, krik krik krik. Dia jarang merespon apa yang kuungkapkan. Terlalu sibuk dengan ponselnya. Sebetulnya aku pengin meminjam ponselnya tapi setelah kupikir-pikir apa hakku meminjamnya. Aku bukan siapa-siapanya. Bertemu juga baru tadi pagi. Kubiarkan dia sibuk sendiri. Namun lama kelamaan dia sadar. Raut mukaku tak se-fresh tadi. Sedikit muram. Akhirnya dia menceritakan apa yang terjadi.
Paman tersayangnya mengirim sebuah sms yang intinya berisi tentang “ jangan mudah percaya pada orang yang baru dikenal”.
Kubaca sms itu dan aku sadar ternyata kesan pertama mereka padaku tak semanis raut mukanya. Semangatku langsung drop. Galau merajalela di pikiranku. Aku terdiam sembari memikirkan apa yang harus kulakukan. Padahal dalam planning ku dan dini sudah tertulis akan mengunjungi Pantai Karang Bolong. Tapi, melihat situasi yang seperti ini sangat mustahil jika kuharus menuruti nafsu dan keinginanku. Aku harus menjaga perasaan Dini. Aku tahu keluarganya sangat menyayangi putrinya.
“Kak, sekarang kamu sudah tahu apa yang terjadi.” Ucap Dini
“Ya, aku tahu. Dan lebih baik setelah Sholat Dhuhur aku langsung pulang saja.” Jawabku.

“Katanya mau ke Pantai Karang Bolong?” tanyanya

“Udah gak jadi. Aku lebih kasihan sama kamu. Coba dipikirkan jika aku menuruti keinginanku untuk mengunjungi pantai itu jelas pikiran mereka akan bertambah negatif tentang diriku. Apalagi ini kesan pertama dan aku yakin akan tertanan selamanya dalam pkiran.” Balasku.

“Iya aku tahu. Tapi kan kamu jauh-jauh ke sini masa gak main ke objek wisata?” tanyanya lagi.

“Udah gak papa. Aku percaya suatu saat aku bisa ke situ ko.daripada kamu nanti di sidang oleh keluargamu mending aku aja yang pulang. Yang jelas tujuanku ke sini, bukan untuk bermain ke pantai tapi menunjukkan keseriusanku terhadapmu.
Udah gak usah nangis. Gak perlu meneteskan air mata.simapan air matamu untuk hal-hal yang lebih penting dari ini,” jelasku. Jujur, aku merasa bersalah pada Dini. Aku tahu dia musah nangis dan kini dia benar-benar menangis di hadapanku. Ya Alloh aku bingung. Haruskah kumemeluknya? Oh tidak. Dia belum semuhrim denganku. aku hanya bisa menasihatinya agar tidak mengucurkan air mata lagi.

“Beneran kak?” tanyanya dengan suara terbata-bata.

“Iya.” Kataku mencoba meyakinkannya. Jika dia tahu apa yang kurasakan pasti akan lebih terpukul dari ini. lebih baik kumenjaga perasaannya. Biar aku saja yang kecewa. Kumencoba tertawa tapi sejujurnya itu palsu. Aku kecewa. Aku letih.
Adzan dhuhur sudah berkumandang dan sangat jelas terdengar di telingaku. Ayah Dini mengajakku ke mushola. Sangat tak pantas jika aku menolaknya.
Seusai sholat aku pamit permisi pulang ke rumah. Dini masih nangis tak henti-hentinya. Kucoba menenangkannya terlebih dahulu baru kemudian kupulang. Sedih bercampur haru tangisan. Di hari ulang tahunku ini, tak disangka mendapat kejutan yang membuat hatiku teriris-iris. Pecah berkeping-keping. Dan harapanku musnah seketika untuk memilikinya. Aku tahu keluarganya sudah menutup rapat-rapat pintunya untuk mengijinkakku masuk ke dalamnya. Aku pulang dengan berjuta cucuran air mata. Tangan hampa dan sebuah luka yang menusuk dada.








No comments:

Post a Comment

KONEKSI ANTAR MATERI KESIMPULAN DAN REFLEKSI MODUL 1.1

  Ki Hajar Dewantara merupakan sosok yang sangat pantas mendapatkan julukan sebagai Bapak Pendidikan. Beliau tidak pernah merasa putus asa u...