Cinta
itu akan abadi jika berlandaskan cinta kepada sang illahi
Aku tak tahu bagaimana
bisa aku mengenalnya. Dan sampai sekarang aku selalu bertanya pada diriku
sendiri, bagaimana bisa aku sedekat ini dengannya. Orang yang sama sekali belum
pernah kutemui. Aku hanya bisa menatapnya lewat jendela layar monitorku, tanpa
bisa kumenatap langsung kedua bola matamu. Aku ingin menatapnya lebih dalam
lagi, saat kedua bola mata kita bertemu. Tapi, waktu belum mengijinkan aku bertemu
dengan sosoknya dan aku harus sabar. Aku yakin, suatu saat nanti pasti bisa
bertemu dengannnya. Seorang wanita cantik dan baik hati yang kujumpai lewat alam
maya.
Kebaikan akhlaknya
membutakan mata batinku, pintu hatiku kembali terbuka dan mata hatiku kembali
bangun dari tidur lamanya. Sudah sekian lama kumenjalani hidup tanpa seorang
kekasih. Bagiku, kisah masa lalu sudah menghabiskan naluriku untuk menjalin
cinta yang tak pasti. Dua tahun bersama cinta laluku, kurasakan begitu banyak
waktuku tersita untuk memikirkannya. Aku tak mau lagi mengulang kisah yang
sama. Kini, kubuka lembaran baru untuk seseorang yang insyaalloh akan kupilih
menjadi wanita penghebat ketiga setelah ibu dan nenekku yang akan menemani
sisa-sisa hidupku kelak. Ibu dan nenekku adalah sosok wanita penghebat dalam
hidupku, berkat mereka aku bisa hidup di dunia ini dengan penuh rasa syukur.
Mereka tak pernah mengajariku mengeluh, kemandirian yang mereka utamakan.
Aku rasa, Dini pantas
menjadi wanita penghebat ketiga di hidupku. Akhlaknya membuat hatiku yang
tadinya beku kini perlahan-lahan melted. Aku mengaguminya karena
akhlaknya. Sungguh, dia membawaku tuk kembali menuju jalan yang diridhoi Alloh.
Dia menyadarkanku akan pentingnya ibadah kepada sang kholiq. Sholat di tengah
malam yang telah lama kutingglakan, kini mulai kubangun kembali. Puasa sunah
yang dulu sewaktu kuliah menjadi kebiasaanku, kini mulai kujalani lagi. Aku
bangga mengenal ssosoknya. Wanita lugu yang berakhlakul karimah.
Aku dan Dini selalu
bangun membangunkan di kala sepertiga malam. Aku menyebutnya “kencan
istimewa” karena jarang sekali kujumpai kencan di sepertiga malam. Saling
beribadah menjalankan sunnah-Nya di tempat yang berbeda. Dan kuakui baru kali
ini, aku benar-benar terpikat pada sosok yang belum lama kukenal. Namun, dini
sangat meyakinkan hatiku untuk memilihnya. Sebulan kumengenalinya, aku sudah
bisa terbuka dengannya. Padahal, aku termasuk tipe lelaki yang tertutup, tapi
dengannya aku tak mampu berbohong dan menutupi semua masalahku. Memang kuakui
aneh tapi nyata. Bagaimana bisa menceritakan masalah keluargaku kepada sosoknya
yang belum lama ini kukenal. Pertanyaan yang selalu muncul di lubuk pikiranku
dan sulit sekali tuk kupecahkan. Dengannya kutemukan jati diriku kembali dan
kuakui aku bahagia mengenalnya.
####%%
Suatu ketika, aku libur
kerja dan dia libur kuliah. Aku berniat untuk datang ke rumahnya. Begitu jauh
rumahku dengan rumahnya. Hampir 5 jam untuk sampai di tempat Dini. Namun, jarak
bukan masalah bagiku karena aku sudah terlanjur mencintainya. Hatiku sudah kumantapkan
untuknya. Hari ini, semua angan-anganku tentangnya akan terjawab. Aku akan
bertemu sosok yang selama ini selalu indah di mataku. Aku ingin menatapmu lewat
hati. Apapun bentuk fisikmu tak jadi masalah bagiku.”Kalau cinta itu hanya
memandang dari segi fisiknya saja, sama saja kita memungkiri ciptaan sang maha
pencipta.”
“Bismillahirrokhmanirrokhim.” Aku
beranjak dari tempatku menuju tempatnya. Tak lupa kumemohon restu dari ibu dan
nenekku. Mereka bahagia, tercermin dari raut mukanya yang nampak sumringah.
Kucium tangan kedua wanita penghebat hidupku.
“Anakku, raihlah cinta yang telah lama
kau impikan. Kejarlah dia sampai dapat, kejarlah terus jangan mundur di tengah
jalan. Apabila kau memang niat menjalin cinta suci dengannya pasti Yang Maha
Cinta akan meridoi perjalanan cintamu Nak. Temui dia dan sampaikan salam
terhangat Ibu untuknya.” Kata ibu dengan nada suara yang membuatku terharu tapi
bahagia. Rangkaian kata-katanya semakin membulatkan tekadku untuk menjumpai
calon wanita penghebat ketiga di hidupku.
“Iya, Bu. Aku akan berusaha mengejarnya
karena aku telah yakin, dialah wanita dalam bunga tidurku. Insyaallloh dengan
ijin-Nya cinta ini akan menjadi nyata
dan tak semu lagi. Doain anakmu ini ya Ibu, Nenek?” pintaku dengan penuh harapan.
“iya, nak, doa ibu dan nenek akan selalu
menyertaimu.” Jawab ibu.
“Terimakasih bu. Aku berangkat dulu bu,”
“Iya, Nak. Hati-hati di jalan, jangan
lupa berdoa ya?”
“Iya, Bu. Assalamualaikum.” Kataku
sambil mengangguk dan memberi salam.
“Waalaikumsalam.” ucap ibu dan nenekku
serentak.
Perjalanan jauh bagiku
sudah biasa, karena dulu aku juga manimba ilmu di kota yang terbilang jauh dari
kampungku. Dulu aku menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi di Kota
pelajar, Yogyakarta. Hampir 5 jam untuk sampai di Jogja. Kini, aku beranjak ke
kota yang butuh perjalanan panjang untuk sampai di sana. Kubuka alamat darinya,
Desa tanjungsari, Petanahan, Kebumen. Untuk pertama kalinya aku pergi ke tempat
itu dan sama sekali aku tak tahu di mana tempat itu. Tapi, keyakinanku benar-benar
tinggi, tak ada rasa gunda gulana, tak ada rasa takut tersesat. Selagi masih
punya lisan yang terjaga dan mampu bicara, pastilah takkan ada kata tersesat.
Toh, aku juga ada aplikasi google map yang bisa melacak tempat mana yang
akan dituju.
“Tinggal separuh jalan lagi untuk sampai
di tempatnya,” pikirku dalam hati sembari memegang gas sepeda motorku. Kumelaju
begitu cepat karena jalanan masih sepi, belum ramai terjamah penikmat lalu
lintas yang lain. Adzan subuh terdengar di telingaku, begitu jelasnya.
Kuberhenti sejenak di salah satu masjid di seberang jalan untuk menunaikan
kewajibanku sebagai umat muslim, sholat subuh. Terasa segar sekali ketika selesai
sholat. Sejuk batin dan pikiranku.
Kulanjutkan lagi
perjalananku yang tinggal separuh jalan. Bekalku hanyalah niat, usaha, doa dan semangat meraih mimpiku menemuinya.
Berpuluh-puluh lampu lalu lintas kulalui, belum juga memasuki Kota Kebumen.
“Mungkin masih jauh,” batinku.
Akan tetapi, di pelupuk mataku terlihat
“ Selamat Datang di Kota Kebumen Beriman”
Tugu selamat datang melambangkan tak lama lagi aku kan sampai.
Kubuka google map dan kucari
alamat Dini. Terdeteksi dan insyaalloh Alloh akan memberikan jalan terang
untukku. Kuikuti jalan yang tertunjuk di map.jelas dan sangat jelas jalannya.
Ponselku berdering kencang. Ternyata
dini mengirim sms padaku.
“ Kakak, aku sudah berada di sebelah
kiri jalan besar, jalan lalu lintas utama antar kabupaten. Kamu sampai mana
kak?”
“Aku sampai pom bensin setelah terminal Kota
Kebumen dek. Masih jauh gak ke rumahmu?” balasku.
“Enggak kak. Lurus terus mengikuti jalan
besar itu. Berhentilah di perempatan yang ada lampu lalu lintasnya. Aku berada
di sebelah kiri jalan kak.” Balas Dini.
Aku bergerak menuju ke
tampat itu. Dan benar kata Dini, tidak jauh. Seperempat jam aku sampai. Dan
kulihat wanita berhijab, berparas cantik, anggun dan lemah lembut di sebelah
kiri jalan. Mungkinkah itu Dini, pikirku.
Aku berhenti tepat di depan wanita itu. Dia
menatapku sembari tersenyum manis. Akupun tak sanggup menolak tatapannya.
Begitu indah di mataku. Dia beranjak ke arahku dan menyambutku dengan uluran
tangan, bersalaman.
“Aku Dini, kamu kak Gigih kan?” ucapnya
dengan suara lembut.
“Iya, dek. Akhirnya kita bisa berjumpa
ya?” balasku dengan nada yang amat gugup. Dia lebih indah dari yang
kubayangkan. Wanita ber-akhlakul karimah nan husnunnisa’.
“Ayo ke rumahku kak, ayah dan ibu sudah
lama menunggumu.” Ajaknya pelan.
Aku hanya mengangguk tanda setuju.
Aku mengikuti arah
sepeda motornya. Sepanjang jalan kumengikutinya, aku hanya bisa senyum-senyum
sendiri persis kayak orang gila. Mungkin orang-orang di jalan menganggapku
gila, ya gila. Tapi, apa boleh buat. Tak perlu kupikirkan.
Dia berhenti di sebuah rumah sederhana
tempat di pinggir jalan. Akupun berhenti. Kulihat kedua orang tuanya dan adik
kecilnya berdiri menyambutku. Aku tersipu malu. Tapi, aku harus tetap jantan.
Ini bukti keseriusanku padanya.
Mereka mengajakku masuk
ke dalam rumah. Persis yang Dini ceritakan, rumahnya sangat sederhana, namun
hidupnya bahagia. Keluarganya utuh, tak seperti keluargaku yang bercerai berai.
Aku hanya hidup dengan nenekku. Ayah meninggalkanku dan ibu sejak aku masih
dalam kandungan. Kini, Ibupun mengikuti suaminya yang kedua dan mengawali
kehidupan barunya dengan keluarga baru.
Obrolan kecil mengawali
percakapanku dengan ayah dini. Ayahnya sangat sopan dan tak ada keraguan
menerimaku. Beliau menanyai asal usulku mengenal putrinya. Pikirku, memang
sudah lazimnya ayah mencari tahu lelaki yang dekat dengan putrinya. Akupun tak
malu-malu menjawabnya. Beliau hanya tersenyum. Ibunya pun demikian sangat ramah
dan terbuka menerimaku. Tanpa pikir panjang kusampaikan niat keseriusanku
dengan Dini. Beliau sedikit ragu denganku, namun dengan sepenuh hati kuyakinkan
perkataanku pada mereka.
Ayah Dini hanya berpesan padaku, “jika
kamu benar- benar serius dengan putriku, jangan buat dia kecewa dan berlinangan
air mata. Jagalah hatinya dan buktikan keseriusanmu sampai berujung
pernikahan.”
“Insyaalloh pak, aku serius dengan Dini.
Tak ada wanita lain sebaik dia. Akhlakul karimah dan husnun nisa’. Akan
kubuktikan cinta suciku ini padanya sampai berujung pada ikatan sakral
pernikahan.” Aku menjawabnya sangat yakin.
Orang tua Dini dan Dini tersenyum simpul
dengan perkataanku. Tak ada keraguan di benakku. Memang, aku sangat beruntung
mengenalinya dan aku tak mau mengijinkannnya pergi jauh dari kehidupanku.
No comments:
Post a Comment