Wednesday, August 6, 2014

Love come true_at first



Cinta itu akan abadi jika berlandaskan cinta kepada sang illahi
Aku tak tahu bagaimana bisa aku mengenalnya. Dan sampai sekarang aku selalu bertanya pada diriku sendiri, bagaimana bisa aku sedekat ini dengannya. Orang yang sama sekali belum pernah kutemui. Aku hanya bisa menatapnya lewat jendela layar monitorku, tanpa bisa kumenatap langsung kedua bola matamu. Aku ingin menatapnya lebih dalam lagi, saat kedua bola mata kita bertemu. Tapi, waktu belum mengijinkan aku bertemu dengan sosoknya dan aku harus sabar. Aku yakin, suatu saat nanti pasti bisa bertemu dengannnya. Seorang wanita cantik dan baik hati yang kujumpai lewat alam maya.
Kebaikan akhlaknya membutakan mata batinku, pintu hatiku kembali terbuka dan mata hatiku kembali bangun dari tidur lamanya. Sudah sekian lama kumenjalani hidup tanpa seorang kekasih. Bagiku, kisah masa lalu sudah menghabiskan naluriku untuk menjalin cinta yang tak pasti. Dua tahun bersama cinta laluku, kurasakan begitu banyak waktuku tersita untuk memikirkannya. Aku tak mau lagi mengulang kisah yang sama. Kini, kubuka lembaran baru untuk seseorang yang insyaalloh akan kupilih menjadi wanita penghebat ketiga setelah ibu dan nenekku yang akan menemani sisa-sisa hidupku kelak. Ibu dan nenekku adalah sosok wanita penghebat dalam hidupku, berkat mereka aku bisa hidup di dunia ini dengan penuh rasa syukur. Mereka tak pernah mengajariku mengeluh, kemandirian yang mereka utamakan.
Aku rasa, Dini pantas menjadi wanita penghebat ketiga di hidupku. Akhlaknya membuat hatiku yang tadinya beku kini perlahan-lahan melted. Aku mengaguminya karena akhlaknya. Sungguh, dia membawaku tuk kembali menuju jalan yang diridhoi Alloh. Dia menyadarkanku akan pentingnya ibadah kepada sang kholiq. Sholat di tengah malam yang telah lama kutingglakan, kini mulai kubangun kembali. Puasa sunah yang dulu sewaktu kuliah menjadi kebiasaanku, kini mulai kujalani lagi. Aku bangga mengenal ssosoknya. Wanita lugu yang berakhlakul karimah.
Aku dan Dini selalu bangun membangunkan di kala sepertiga malam. Aku menyebutnya “kencan istimewa” karena jarang sekali kujumpai kencan di sepertiga malam. Saling beribadah menjalankan sunnah-Nya di tempat yang berbeda. Dan kuakui baru kali ini, aku benar-benar terpikat pada sosok yang belum lama kukenal. Namun, dini sangat meyakinkan hatiku untuk memilihnya. Sebulan kumengenalinya, aku sudah bisa terbuka dengannya. Padahal, aku termasuk tipe lelaki yang tertutup, tapi dengannya aku tak mampu berbohong dan menutupi semua masalahku. Memang kuakui aneh tapi nyata. Bagaimana bisa menceritakan masalah keluargaku kepada sosoknya yang belum lama ini kukenal. Pertanyaan yang selalu muncul di lubuk pikiranku dan sulit sekali tuk kupecahkan. Dengannya kutemukan jati diriku kembali dan kuakui aku bahagia mengenalnya.
####%%

Suatu ketika, aku libur kerja dan dia libur kuliah. Aku berniat untuk datang ke rumahnya. Begitu jauh rumahku dengan rumahnya. Hampir 5 jam untuk sampai di tempat Dini. Namun, jarak bukan masalah bagiku karena aku sudah terlanjur mencintainya. Hatiku sudah kumantapkan untuknya. Hari ini, semua angan-anganku tentangnya akan terjawab. Aku akan bertemu sosok yang selama ini selalu indah di mataku. Aku ingin menatapmu lewat hati. Apapun bentuk fisikmu tak jadi masalah bagiku.”Kalau cinta itu hanya memandang dari segi fisiknya saja, sama saja kita memungkiri ciptaan sang maha pencipta.”
“Bismillahirrokhmanirrokhim.” Aku beranjak dari tempatku menuju tempatnya. Tak lupa kumemohon restu dari ibu dan nenekku. Mereka bahagia, tercermin dari raut mukanya yang nampak sumringah. Kucium tangan kedua wanita penghebat hidupku.
“Anakku, raihlah cinta yang telah lama kau impikan. Kejarlah dia sampai dapat, kejarlah terus jangan mundur di tengah jalan. Apabila kau memang niat menjalin cinta suci dengannya pasti Yang Maha Cinta akan meridoi perjalanan cintamu Nak. Temui dia dan sampaikan salam terhangat Ibu untuknya.” Kata ibu dengan nada suara yang membuatku terharu tapi bahagia. Rangkaian kata-katanya semakin membulatkan tekadku untuk menjumpai calon wanita penghebat ketiga di hidupku.
“Iya, Bu. Aku akan berusaha mengejarnya karena aku telah yakin, dialah wanita dalam bunga tidurku. Insyaallloh dengan ijin-Nya cinta ini akan menjadi nyata  dan tak semu lagi. Doain anakmu ini ya Ibu, Nenek?”  pintaku dengan penuh harapan.
“iya, nak, doa ibu dan nenek akan selalu menyertaimu.” Jawab ibu.
“Terimakasih bu. Aku berangkat dulu bu,”
“Iya, Nak. Hati-hati di jalan, jangan lupa berdoa ya?”
“Iya, Bu. Assalamualaikum.” Kataku sambil mengangguk dan memberi salam.
“Waalaikumsalam.” ucap ibu dan nenekku serentak.
Perjalanan jauh bagiku sudah biasa, karena dulu aku juga manimba ilmu di kota yang terbilang jauh dari kampungku. Dulu aku menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi di Kota pelajar, Yogyakarta. Hampir 5 jam untuk sampai di Jogja. Kini, aku beranjak ke kota yang butuh perjalanan panjang untuk sampai di sana. Kubuka alamat darinya, Desa tanjungsari, Petanahan, Kebumen. Untuk pertama kalinya aku pergi ke tempat itu dan sama sekali aku tak tahu di mana tempat itu. Tapi, keyakinanku benar-benar tinggi, tak ada rasa gunda gulana, tak ada rasa takut tersesat. Selagi masih punya lisan yang terjaga dan mampu bicara, pastilah takkan ada kata tersesat. Toh, aku juga ada aplikasi google map yang bisa melacak tempat mana yang akan dituju.
“Tinggal separuh jalan lagi untuk sampai di tempatnya,” pikirku dalam hati sembari memegang gas sepeda motorku. Kumelaju begitu cepat karena jalanan masih sepi, belum ramai terjamah penikmat lalu lintas yang lain. Adzan subuh terdengar di telingaku, begitu jelasnya. Kuberhenti sejenak di salah satu masjid di seberang jalan untuk menunaikan kewajibanku sebagai umat muslim, sholat subuh. Terasa segar sekali ketika selesai sholat. Sejuk batin dan pikiranku.
Kulanjutkan lagi perjalananku yang tinggal separuh jalan. Bekalku hanyalah niat, usaha,  doa dan semangat meraih mimpiku menemuinya. Berpuluh-puluh lampu lalu lintas kulalui, belum juga memasuki Kota Kebumen.
“Mungkin masih jauh,” batinku.
Akan tetapi, di pelupuk mataku terlihat “ Selamat Datang di Kota Kebumen Beriman”  Tugu selamat datang melambangkan tak lama lagi aku kan sampai.
Kubuka google map dan kucari alamat Dini. Terdeteksi dan insyaalloh Alloh akan memberikan jalan terang untukku. Kuikuti jalan yang tertunjuk di map.jelas dan sangat jelas jalannya.
Ponselku berdering kencang. Ternyata dini mengirim sms padaku.
“ Kakak, aku sudah berada di sebelah kiri jalan besar, jalan lalu lintas utama antar kabupaten. Kamu sampai mana kak?”
“Aku sampai pom bensin setelah terminal Kota Kebumen dek. Masih jauh gak ke rumahmu?” balasku.
“Enggak kak. Lurus terus mengikuti jalan besar itu. Berhentilah di perempatan yang ada lampu lalu lintasnya. Aku berada di sebelah kiri jalan kak.” Balas Dini.
Aku bergerak menuju ke tampat itu. Dan benar kata Dini, tidak jauh. Seperempat jam aku sampai. Dan kulihat wanita berhijab, berparas cantik, anggun dan lemah lembut di sebelah kiri jalan. Mungkinkah itu Dini, pikirku.
Aku berhenti tepat di depan wanita itu. Dia menatapku sembari tersenyum manis. Akupun tak sanggup menolak tatapannya. Begitu indah di mataku. Dia beranjak ke arahku dan menyambutku dengan uluran tangan, bersalaman.
“Aku Dini, kamu kak Gigih kan?” ucapnya dengan suara lembut.
“Iya, dek. Akhirnya kita bisa berjumpa ya?” balasku dengan nada yang amat gugup. Dia lebih indah dari yang kubayangkan. Wanita ber-akhlakul karimah nan husnunnisa’.
“Ayo ke rumahku kak, ayah dan ibu sudah lama menunggumu.” Ajaknya pelan.
Aku hanya mengangguk tanda setuju.
Aku mengikuti arah sepeda motornya. Sepanjang jalan kumengikutinya, aku hanya bisa senyum-senyum sendiri persis kayak orang gila. Mungkin orang-orang di jalan menganggapku gila, ya gila. Tapi, apa boleh buat. Tak perlu kupikirkan.
Dia berhenti di sebuah rumah sederhana tempat di pinggir jalan. Akupun berhenti. Kulihat kedua orang tuanya dan adik kecilnya berdiri menyambutku. Aku tersipu malu. Tapi, aku harus tetap jantan. Ini bukti keseriusanku padanya.
Mereka mengajakku masuk ke dalam rumah. Persis yang Dini ceritakan, rumahnya sangat sederhana, namun hidupnya bahagia. Keluarganya utuh, tak seperti keluargaku yang bercerai berai. Aku hanya hidup dengan nenekku. Ayah meninggalkanku dan ibu sejak aku masih dalam kandungan. Kini, Ibupun mengikuti suaminya yang kedua dan mengawali kehidupan barunya dengan keluarga baru.
Obrolan kecil mengawali percakapanku dengan ayah dini. Ayahnya sangat sopan dan tak ada keraguan menerimaku. Beliau menanyai asal usulku mengenal putrinya. Pikirku, memang sudah lazimnya ayah mencari tahu lelaki yang dekat dengan putrinya. Akupun tak malu-malu menjawabnya. Beliau hanya tersenyum. Ibunya pun demikian sangat ramah dan terbuka menerimaku. Tanpa pikir panjang kusampaikan niat keseriusanku dengan Dini. Beliau sedikit ragu denganku, namun dengan sepenuh hati kuyakinkan perkataanku pada mereka. 
Ayah Dini hanya berpesan padaku, “jika kamu benar- benar serius dengan putriku, jangan buat dia kecewa dan berlinangan air mata. Jagalah hatinya dan buktikan keseriusanmu sampai berujung pernikahan.”
“Insyaalloh pak, aku serius dengan Dini. Tak ada wanita lain sebaik dia. Akhlakul karimah dan husnun nisa’. Akan kubuktikan cinta suciku ini padanya sampai berujung pada ikatan sakral pernikahan.” Aku menjawabnya sangat yakin.
Orang tua Dini dan Dini tersenyum simpul dengan perkataanku. Tak ada keraguan di benakku. Memang, aku sangat beruntung mengenalinya dan aku tak mau mengijinkannnya pergi jauh dari kehidupanku.












No comments:

Post a Comment

KONEKSI ANTAR MATERI KESIMPULAN DAN REFLEKSI MODUL 1.1

  Ki Hajar Dewantara merupakan sosok yang sangat pantas mendapatkan julukan sebagai Bapak Pendidikan. Beliau tidak pernah merasa putus asa u...