Saturday, April 2, 2016

Menjadi Guru Itu Harus Sabar ( Dadi Guru Kui Kudu Sabar)




Sekarang baru kualami profesi menjadi guru. Sebelumnya terimakasih kepada semua guru-guruku dari aku belajar di TK sampai Perguruan Tinggi. Berkat didikan kalianlah, kini kutelah genggam apa yang sudah dari kecil kuimpikan. Terimakasih banyak Bapak Ibu Guruku.
Kuakui profesi kalian super membutuhkan kesabaran tingkat dewa. Ketika menghadapi anak-anak orang yang beraneka ragam wujud dan bentuk nalurinya, di situlah dimulai ujian kesabaran. Aku sadar, dahulu telah banyak kuberbuat salah pada bapak ibu. Pantas saja, Bapak dan Ibu guru marah ketika dulu aku dan teman sekelasku memukul-mukul meja, bermain terus, berisik di kelas, ngobrol-ngobrol dengan teman, tidak mendengarkan ilmu yang kalian berikan dan mengabaikan kalian ketika mengajari kami. Pasti Bapak dan Ibu guru benar-benar teriris-iris dengan tingkah laku kami, pusing mendengarkan riuh ricuh suara kami, pening memikiran masa depan kami dan kami belum sadar akan perjuangan kalian mendidik kami. Kalian hanya bisa mengucap astagfirullohalazdim, pengin menghajar namun tak sampai hati karena rasa sayang masih membelenggu dalam jiwa. Bapak Ibu Guruku, maafkan semua kesalahanku dahulu.
Kini kurasakan apa yang kalian rasakan. Campur aduk rasanya. Apalagi melihat anak yang tidak paham-paham dan terus berbuat keributan di kelas. Rasanya gregetan sekali. Namun, kuselalu mencoba menenangkan diriku. Mereka masih anak-anak dan memang usia mereka masih dalam taraf bermain. Ku tak akan pernah menyerah berusaha mendidik mereka karena ini wujud nyata cita-citaku.
Oke..
Bapak Ibu Guru ingin kuceritakan bagian kisah hidupku di tanah kontrakan ini. Akan kuceritakan sebuah kisah mengenai pengalamanku mengajar anak kelas 1. Ada 16 anak di kelas ini. Ke-16 anak ini jelas memiliki karakter yang berbeda-beda. Separuh diantaranya sudah bisa calistung, namun yang separuh masih ketinggalan. Jadi, bisa dibilang kelas 1 ini ada dua suku yakni suku yang sinyalnya kuat (high signal) artinya mudah menangkap penjelasan guru dan yang suku satunya tergolong suku yang sinyalnya lemah (low signal). Inilah akar permasalahan di kelas ini. Terlebih lagi, suku lo high ini memang benar-benar menguras kesabaranku. Nyaman kalau mereka diam walaupun tak bisa. Sudah tak bisa, sering membuat keributan pula di dalam kelas. Dikit-dikit tanya “Ini benar bu? Itu huruf apa bu?” Oh.. sungguh amazing. Kalau 1, 2 kali mah gak papa, ini sampai berkali-kali bisa dibayangkan sampai males mau jawab, orang tanya terus. Ketika kusuruh maju latihan membaca, mereka suku yang high signal dengan mudahnya membaca apa yang kusuruh. Namun, sangat berbanding terbalik dengan suku low signal. Ada sih yang sudah bisa mengeja, namun lebih banyak yang belum bisa. Ada pula yang masih belum hafal nama huruf. Suku ini pula yang menulisnya super duper lelet, lama sekali loading menulisnya. Coba bayangkan ketika kuberikan soal 5 saja, mereka menulisnya dari jam 7 kelar jam 11. Hanya 5 soal. Gubrak sekali! Gregetan banget. Terlebih lagi jawabannya salah. Astagfirullohalazdim..
Kadang kurasakan betapa ternyuhnya hatiku melihat mereka, tapi apa boleh buat. Mau gimana lagi. Belajar di sekolah saja tidak cukup. Harus ada bimbingan dari orang tua di rumah. Guru di sekolah hanya sedikit sekali mendidik anak, sebagian besar waktu anak terhabiskan di rumah. Masalahnya di rumah, orang tua terlalu disibukkan dengan pekerjaan mereka. Jarang orang tua yang merisaukan pendidikan anaknya, sudah sampai mana pengetahuan anakku, sudah bisa bacakah, berhitungkah, bagaimana kalau anakku tidak naik kelas? It’s just fiktif.
Hanya harapan dari guru di kampung ini. Entah kapan akan terwujud. Inilah yang dinamakan tidak sejalannya pendidikan yang harus diperoleh anak. Guru dan anak ingin maju ke depan, namun orang tua malah belok ke samping. Sampai kapanpun kalau tidak saling berjalan berdampingan antara guru, orang tua dan anak tak akan pernah menggapai titik temu, yang dicapai hanyalah rintihan belaka.
Saat ini, kusadari Bapak Ibu Guru, sesibuk-sibuknya aku kelak dengan profesiku, tak akan pernah kuacuhkan anakku. Di tangan merekalah akan terlihat senyuman lebar yang penuh keikhlasan. Terimakasih banyak orang tuaku yang sampai saat ini masih memperhatikanku mulai dari ku kecil sampai kini beranjak dewasa. Semuanya menjadi semangat untuk kuperjuangkan asaku.
Salam MBMI
@Sang Pemimpi di Pulau Borneo
#LandakMenulis
#LandakBerbagi

No comments:

Post a Comment

KONEKSI ANTAR MATERI KESIMPULAN DAN REFLEKSI MODUL 1.1

  Ki Hajar Dewantara merupakan sosok yang sangat pantas mendapatkan julukan sebagai Bapak Pendidikan. Beliau tidak pernah merasa putus asa u...