Sekarang baru kualami profesi menjadi guru. Sebelumnya
terimakasih kepada semua guru-guruku dari aku belajar di TK sampai Perguruan
Tinggi. Berkat didikan kalianlah, kini kutelah genggam apa yang sudah dari
kecil kuimpikan. Terimakasih banyak Bapak Ibu Guruku.
Kuakui profesi kalian super membutuhkan kesabaran tingkat dewa.
Ketika menghadapi anak-anak orang yang beraneka ragam wujud dan bentuk
nalurinya, di situlah dimulai ujian kesabaran. Aku sadar, dahulu telah banyak
kuberbuat salah pada bapak ibu. Pantas saja, Bapak dan Ibu guru marah ketika
dulu aku dan teman sekelasku memukul-mukul meja, bermain terus, berisik di
kelas, ngobrol-ngobrol dengan teman, tidak mendengarkan ilmu yang kalian
berikan dan mengabaikan kalian ketika mengajari kami. Pasti Bapak dan Ibu guru
benar-benar teriris-iris dengan tingkah laku kami, pusing mendengarkan riuh
ricuh suara kami, pening memikiran masa depan kami dan kami belum sadar akan
perjuangan kalian mendidik kami. Kalian hanya bisa mengucap astagfirullohalazdim, pengin menghajar
namun tak sampai hati karena rasa sayang masih membelenggu dalam jiwa. Bapak
Ibu Guruku, maafkan semua kesalahanku dahulu.
Kini kurasakan apa yang kalian rasakan. Campur aduk
rasanya. Apalagi melihat anak yang tidak paham-paham dan terus berbuat
keributan di kelas. Rasanya gregetan sekali. Namun, kuselalu mencoba
menenangkan diriku. Mereka masih anak-anak dan memang usia mereka masih dalam
taraf bermain. Ku tak akan pernah menyerah berusaha mendidik mereka karena ini
wujud nyata cita-citaku.
Oke..
Bapak Ibu Guru ingin kuceritakan bagian kisah hidupku
di tanah kontrakan ini. Akan kuceritakan sebuah kisah mengenai pengalamanku
mengajar anak kelas 1. Ada 16 anak di kelas ini. Ke-16 anak ini jelas memiliki
karakter yang berbeda-beda. Separuh diantaranya sudah bisa calistung, namun
yang separuh masih ketinggalan. Jadi, bisa dibilang kelas 1 ini ada dua suku
yakni suku yang sinyalnya kuat (high
signal) artinya mudah menangkap penjelasan guru dan yang suku satunya tergolong
suku yang sinyalnya lemah (low signal).
Inilah akar permasalahan di kelas ini. Terlebih lagi, suku lo high ini memang
benar-benar menguras kesabaranku. Nyaman kalau mereka diam walaupun tak bisa.
Sudah tak bisa, sering membuat keributan pula di dalam kelas. Dikit-dikit tanya
“Ini benar bu? Itu huruf apa bu?” Oh.. sungguh amazing. Kalau 1, 2 kali mah gak papa, ini sampai berkali-kali bisa
dibayangkan sampai males mau jawab, orang tanya terus. Ketika kusuruh maju
latihan membaca, mereka suku yang high
signal dengan mudahnya membaca apa yang kusuruh. Namun, sangat berbanding
terbalik dengan suku low signal. Ada
sih yang sudah bisa mengeja, namun lebih banyak yang belum bisa. Ada pula yang
masih belum hafal nama huruf. Suku ini pula yang menulisnya super duper lelet,
lama sekali loading menulisnya. Coba
bayangkan ketika kuberikan soal 5 saja, mereka menulisnya dari jam 7 kelar jam
11. Hanya 5 soal. Gubrak sekali! Gregetan banget. Terlebih lagi jawabannya
salah. Astagfirullohalazdim..
Kadang kurasakan betapa ternyuhnya hatiku melihat
mereka, tapi apa boleh buat. Mau gimana lagi. Belajar di sekolah saja tidak
cukup. Harus ada bimbingan dari orang tua di rumah. Guru di sekolah hanya
sedikit sekali mendidik anak, sebagian besar waktu anak terhabiskan di rumah.
Masalahnya di rumah, orang tua terlalu disibukkan dengan pekerjaan mereka.
Jarang orang tua yang merisaukan pendidikan anaknya, sudah sampai mana
pengetahuan anakku, sudah bisa bacakah, berhitungkah, bagaimana kalau anakku
tidak naik kelas? It’s just fiktif.
Hanya harapan dari guru di kampung ini. Entah kapan akan terwujud.
Inilah yang dinamakan tidak sejalannya pendidikan yang harus diperoleh anak.
Guru dan anak ingin maju ke depan, namun orang tua malah belok ke samping.
Sampai kapanpun kalau tidak saling berjalan berdampingan antara guru, orang tua
dan anak tak akan pernah menggapai titik temu, yang dicapai hanyalah rintihan
belaka.
Saat ini, kusadari Bapak Ibu Guru, sesibuk-sibuknya
aku kelak dengan profesiku, tak akan pernah kuacuhkan anakku. Di tangan
merekalah akan terlihat senyuman lebar yang penuh keikhlasan. Terimakasih
banyak orang tuaku yang sampai saat ini masih memperhatikanku mulai dari ku
kecil sampai kini beranjak dewasa. Semuanya menjadi semangat untuk
kuperjuangkan asaku.
Salam MBMI
@Sang Pemimpi di Pulau Borneo
#LandakMenulis
#LandakBerbagi
No comments:
Post a Comment