The Next Story
in Borneo Island
Aku mempunyai seorang murid laki-laki bernama Husnul Ahmad, biasa
dipanggil Inul. Dia sudah berusia 12 tahun namun masih kelas 3. Dia berbeda
dengan temannya yang lain. Jika yang lain sudah bisa baca tulis hitung, dia
masih pada taraf menghafal huruf dan berusaha mengeja. Meskipun demikian, dia
tetap semangat untuk sekolah dan selalu tenang di dalam kelas. Tidak banyak
bicara seperti teman-temannya yang sudah bisa. Aku senang mengajarinya.
Kadang aku merasa sedih sendiri ketika dia dicemooh
oleh temannya, diejek dan diolok-olok. Hampir setiap kali dia diolok pasti
selalu kumarahi temannya. Dalam hatiku kasihan melihat anak yang seperti itu.
Sudah besar namun belum bisa membaca. Memang kuakui tulisannya bagus dan
kerajinannya top bisa mengalahkan temannya yang lain yang sudah lancar membaca.
Dia merupakan anak yang harus aku didik agar menjadi lebih baik. Walaupun di
sekolah dia sangat rendah kualitasnya, namun di sisi lain dia memiliki jiwa
pekerja keras yang patut dicontoh oleh orang lain, termasuk aku. Dia rajin
berladang, menoreh, mencari ikan dan burung. Kalau hari libur dia membantu
orang tuanya di ladang. Memang jiwa kekanak-kanakkannya masih melekat, namun
ketika di luar sekolah dia sudah menjadi laki-laki yang mempunyai rasa
tanggungjawab tinggi.
Mencari burung adalah hobinya. Dia memanjat pohon yang
benar-benar tinggi dan besar. Sambil menunggu umpan burungnya dimakan dia
berbaring di sebatang kayu di pohon itu. Anak hutan memang jauh dari rasa takut
akan ketinggian. Beda dengan anak-anak di kotaku. Di sini aku sadar akan
keadilan Tuhan pada setiap makhluknya. Meskipun Inul memiliki kecerdasan yang
rendah, namun dia memiliki jiwa perkasa yang tinggi.
No comments:
Post a Comment