Saturday, April 2, 2016

Keterbatasan Bukan Akhir dari Segalanya




The Next Story in Borneo Island
Aku mempunyai seorang murid laki-laki bernama Husnul Ahmad, biasa dipanggil Inul. Dia sudah berusia 12 tahun namun masih kelas 3. Dia berbeda dengan temannya yang lain. Jika yang lain sudah bisa baca tulis hitung, dia masih pada taraf menghafal huruf dan berusaha mengeja. Meskipun demikian, dia tetap semangat untuk sekolah dan selalu tenang di dalam kelas. Tidak banyak bicara seperti teman-temannya yang sudah bisa. Aku senang mengajarinya.
Kadang aku merasa sedih sendiri ketika dia dicemooh oleh temannya, diejek dan diolok-olok. Hampir setiap kali dia diolok pasti selalu kumarahi temannya. Dalam hatiku kasihan melihat anak yang seperti itu. Sudah besar namun belum bisa membaca. Memang kuakui tulisannya bagus dan kerajinannya top bisa mengalahkan temannya yang lain yang sudah lancar membaca. Dia merupakan anak yang harus aku didik agar menjadi lebih baik. Walaupun di sekolah dia sangat rendah kualitasnya, namun di sisi lain dia memiliki jiwa pekerja keras yang patut dicontoh oleh orang lain, termasuk aku. Dia rajin berladang, menoreh, mencari ikan dan burung. Kalau hari libur dia membantu orang tuanya di ladang. Memang jiwa kekanak-kanakkannya masih melekat, namun ketika di luar sekolah dia sudah menjadi laki-laki yang mempunyai rasa tanggungjawab tinggi.
Mencari burung adalah hobinya. Dia memanjat pohon yang benar-benar tinggi dan besar. Sambil menunggu umpan burungnya dimakan dia berbaring di sebatang kayu di pohon itu. Anak hutan memang jauh dari rasa takut akan ketinggian. Beda dengan anak-anak di kotaku. Di sini aku sadar akan keadilan Tuhan pada setiap makhluknya. Meskipun Inul memiliki kecerdasan yang rendah, namun dia memiliki jiwa perkasa yang tinggi. 

No comments:

Post a Comment

KONEKSI ANTAR MATERI KESIMPULAN DAN REFLEKSI MODUL 1.1

  Ki Hajar Dewantara merupakan sosok yang sangat pantas mendapatkan julukan sebagai Bapak Pendidikan. Beliau tidak pernah merasa putus asa u...