Saturday, April 2, 2016

Umai Hadir

Memasuki bulan ke delapan di pulau ini. 
Terasa sudah lama sekali.. 
Rasanya aku kembali ke masa lima belas tahun silam.
Di kampungku, jam 8 malam aja sudah kayak jam 12 malam. Apalagi jam 12 malam udah kayak malam selanjutnya.
Bulan-bulan akhir ini udah membaur sekali dengan warga. Aku dan temanku sudah terbiasa jalan jauh menyusuri gelapnya hutan. Waktu itu, kita jalan hampir satu jam. awalnya naik sampan, next kita memasuki hutan. naik turun menyeberangin jembatan. wah, udah kayak orang utan banget. tapi, asyik.
Kita bersama Hadir dan Juil (bujang kampung yang menjadi sahabat setia kita di kampung) menuju ke ladangnya Hadir. 
Melewati beberapa ladang akhirnya sampailah di ladang. You know???
Nothing..
Nak de
Gak ada apa-apa di sana. pasti bayangan kalian kalau di ladang ada tanaman padi apa sayuran kan? di sana gak ada.
Hanya tanah luas hampir 2 hektar yang hanya ditumbuhi berbagai jenis rumput liar. Sayang banget kan???
untungnya masih ada sisa sisa sayuran yang bisa dibawa pulang dan dimakan di sana. 
Ada singkong, daun singkong, daun centongan, kangkung, pisang, nanas.
bersyukur di sana masih ada makanan. 
perut berasa laper banget. 
jelaslah perjalanan sangat jauh.
di umai ( sebutan ladang di kampung sepele) ada rumah yang lengkap dengan berbagai alat dan bumbu dapur.so, kita mbakar ubi dan rebus ubi. waah, enak banget. Mungkin karena laper kali ya.heheheh
Kita juga nyari ikan, juil nyari ikan daper 5 ekor. Udah deh langsung dibakar dan dimakan aj. hee
Waktu berjalan amat cepat. 
sudah menunjukkan pukul 3 sore. Pulanglah kita.
Berjalan-berjalan dan berjalan. 
ternyata, air sungai pasang. :-(
Kita naik sampan kecil dan mesinnya gak mau hidup karena Hadir lupa bawa kuncinya.
Pengin nangis rasanya. Menyeberangi sungai kayak diantara hidup dan mati. Kita hanya berharap dan berdoa sepanjang jalan sungai. 
Dengan semangat mereka berdua mendayung sampan. Kami duduk diam di atas sampan. 
Ombak sungai begitu besar. Kami tetap melanjutkan perjalanan. pantang menyerah pokoke. 
Berkat rahmat Alloh SWT kami sampai di kampung dengan selamat. 
masih berjumpa kita lagi. hehehe
Bye...



No comments:

Post a Comment

KONEKSI ANTAR MATERI KESIMPULAN DAN REFLEKSI MODUL 1.1

  Ki Hajar Dewantara merupakan sosok yang sangat pantas mendapatkan julukan sebagai Bapak Pendidikan. Beliau tidak pernah merasa putus asa u...